Gula Merah Kehidupan: Tiga Dekade Merajut Asa dari Tetesan Nira

MANGGARAI BARAT, PENA1NTT.COM — Aroma manis nira yang mendidih menyeruak di antara rimbunnya pepohonan Desa Wewa, Kecamatan Welak, Kabupaten Manggarai Barat.

Di sebuah dapur sederhana di Stasi Paje, Paroki Orong, Keuskupan Labuan Bajo, kepulan asap putih keluar dari celah atap seng yang mulai menghitam.

Di dalamnya, seorang pria paruh baya berdiri kokoh di depan tungku api yang membara.

Ia adalah Vitalis Fansi (52), seorang maestro gula merah tradisional yang telah menjalin akrab dengan panas api sejak tahun 1994.

Tangan legam Vitalis tak henti mengaduk cairan kental di dalam kuali besar. Gerakannya ritmis, sebuah keahlian yang ia asah selama 32 tahun terakhir.

Ia memulai perjalanan panjang ini saat usianya baru menginjak 20 tahun, masa di mana pemuda seusianya mungkin memilih jalan lain.

Namun, bagi Vitalis, pohon-pohon aren di perbukitan Welak adalah anugerah Tuhan yang harus dirawat dengan kerja keras.

Selama lebih dari tiga dekade, tetesan demi tetesan nira ia ubah menjadi sumber penghidupan utama bagi keluarganya.

Proses pengolahan gula merah di kediaman Vitalis jauh dari bising mesin modern. Ia tetap setia pada peralatan warisan leluhur. Sebuah kuali besar menjadi pusat semestanya setiap pagi.

Nira-nira hasil sadapan dari pohon aren di sekitar Desa Wewa direbus selama kurang lebih setengah jam setiap harinya.

Api harus terjaga stabil agar nira mengental dengan sempurna dan siap dicetak menjadi kepingan-kepingan manis yang bernilai ekonomi.

Meski harus menguras tenaga fisik di bawah sengatan panas tungku, Vitalis menjalaninya dengan senyum syukur yang tulus.

Pendapatan dari menjual gula merah ini memang terlihat tidak seberapa di mata orang lain.

Namun, bagi Vitalis, hasil tersebut mampu menjamin ketersediaan pangan dan kebutuhan pokok harian tanpa perlu menengadah tangan pada orang lain.

“Saya mulai membuat gula merah ini dari umur 20 tahun. Sampai sekarang umur 52 tahun, saya masih kuat dan belum mau berhenti,” ungkap Vitalis dengan nada suara yang mantap saat berbincang dengan Farly Tofen, mahasiswa asistensi dari UNIKA Santu Paulus Ruteng, Rabu (01/04/2026).

Bagi Vitalis, kuali hitam yang sudah menahun itu adalah jalan pintu rezekinya. Lewat kuali itulah, kepulan asap dapur tetap terjaga, memungkinkannya membeli beras, lauk-pauk, serta kebutuhan rumah tangga.

Selama raganya masih sehat untuk membanting tulang, ia bertekad memastikan keluarganya tidak akan pernah merasakan kekurangan.

“Hasil penjualannya memang sekadar cukup, tapi dari kuali inilah saya bisa beli beras, lauk, dan kebutuhan rumah,” tambahnya.

Hari-hari di Stasi Paje ia lalui hanya berdua bersama sang istri tercinta. Rumah bersahaja mereka menjadi saksi bisu betapa cinta bisa diwujudkan melalui kerja keras yang konsisten.

Dari kuali sederhana ini pula, Vitalis dan istrinya berhasil membesarkan tujuh orang anak. Tiga laki-laki dan empat perempuan tumbuh dalam balutan kasih sayang dan hasil jerih payah dari tetesan nira.

Kini, enam anaknya telah berpencar di tanah rantau untuk mengadu nasib, sementara anak bungsunya masih berjuang menyelesaikan pendidikan di tingkat SMA.

Keberhasilan anak-anaknya menapak masa depan merupakan kebanggaan terbesar bagi Vitalis.

Setiap lempengan gula merah yang ia cetak bukan sekadar komoditas dagang, ada doa dan harapan seorang ayah yang ia titipkan di sana.

“Selama badan saya masih sehat, keluarga tidak boleh sampai kekurangan,” ujar Vitalis.

Di tengah gempuran industri gula pabrikan yang serba cepat dan canggih, Vitalis memilih tetap bertahan.

Ia tetap rutin menyiapkan kayu bakar setiap subuh, memastikan api tungku menyala, dan menjaga tradisi pembuatan gula merah tetap hidup di Desa Wewa.

Kisah Vitalis adalah potret nyata tentang martabat seorang kepala keluarga yang tak pernah menyerah pada keadaan, demi memastikan manisnya kehidupan terus dirasakan oleh orang-orang tercinta.

Penulis: Nana Patris AgatEditor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *