MANGGARAI, PENA1NTT.COM — Kepedulian terhadap masa depan pendidikan di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) mendorong sekelompok pemuda terpelajar bergerak bersama secara nyata.
Berbekal semangat kemandirian kolektif, Gregoria Wiwin Komaladewi (Duta Bahasa Nasional), Elvisius Pardede, dan Wihelmina Tantri (Duta Bahasa NTT) bersinergi menghidupkan literasi di SDI Golo Lambo, Kecamatan Satar Mese, Kabupaten Manggarai, Sabtu (7/3/2026).
Selain para duta bahasa, aksi kolaboratif ini juga melibatkan Petrus Ernest (Mahasiswa UNIKA) serta Nikolaus Bali Payon (Alumni Yogyakarta asal Flores Timur).
Kehadiran tim gabungan ini membawa misi bertajuk “Abdi untuk Anak Bangsa” sebagai wujud nyata penerapan ilmu di luar ruang akademik, dengan berfokus pada penguatan karakter, pola hidup sehat, serta kecintaan terhadap identitas budaya lokal sejak dini.
Metode Belajar Interaktif dan Literasi Budaya
Petrus Ernest, sebagai bagian dari kesatuan tim relawan tersebut, menjelaskan detail kurikulum singkat yang mereka terapkan. Ia menguraikan kelas dirancang dalam tiga klaster utama guna menyentuh aspek kesehatan dan wawasan global sekaligus.
Sementara kelas sanitasi memberikan edukasi praktis mengenai pola hidup bersih, kelas bahasa Inggris memperkenalkan komunikasi dasar internasional.
Sejalan dengan visi pelestarian nilai lokal, Ernest turut menekankan pentingnya kelas bahasa daerah dan budaya sebagai fondasi identitas siswa.
Guna menanamkan pemahaman tersebut secara efektif, penggunaan metode belajar sambil bermain sengaja dipilih agar materi yang disampaikan lebih mudah dipahami.
“Kami merancang materi sesederhana mungkin agar anak-anak tidak merasa sedang digurui. Fokus kami adalah menciptakan kegembiraan dalam belajar, terutama saat mereka mengenal kembali akar budaya dan bahasa daerah sendiri,” ujar Ernest di sela-sela kegiatan.
Selain aspek edukasi formal, Nikolaus Bali Payon juga memaparkan kegiatan tersebut merupakan jembatan empati untuk merespons kondisi nyata yang ada di lapangan.
Nikolaus menyebut hal ini termasuk perhatian khusus pada Arsen, siswa yang sempat menarik simpati publik berkat kegigihan bersekolah meski dengan kondisi sepatu yang rusak.
Berangkat dari kepedulian sosial tersebut, dalam pandangannya, kehadiran fisik tim relawan di sekolah tersebut bertujuan menanamkan keyakinan pada diri siswa akan pentingnya daya juang dalam menempuh pendidikan.
“Gerakan ini murni panggilan nurani untuk hadir di tengah adik-adik di sini. Kami ingin mereka paham, keterbatasan fasilitas bukan penghalang untuk memiliki mimpi besar. Kehadiran kami di sini adalah bentuk solidaritas sesama anak bangsa,” tegas Nikolaus.
Nikolaus menambahkan bahwa tujuan gerakan ini adalah memantik api semangat belajar yang berkelanjutan, dengan harapan kontribusi yang diberikan dapat dirasakan langsung oleh seluruh lapisan masyarakat.

Inspirasi dan Teladan bagi Generasi Muda
Apresiasi mendalam datang dari Kepala Sekolah SDI Golo Lambo, Tomas Jemahan. Ia menilai kehadiran para relawan muda sebagai teladan nyata bagi siswa di sekolahnya.
Tomas berpendapat sosok-sosok berprestasi yang hadir memberikan gambaran konkret kepada anak-anak Golo Lambo mengenai luasnya cakrawala pendidikan yang bisa mereka raih suatu saat nanti.
Lebih lanjut, alumni PMKRI Cabang Ruteng ini menganggap kegiatan tersebut sebagai pelajaran berharga tentang kemanusiaan, terutama melalui perhatian tim terhadap kondisi keluarga Arsen yang menyentuh sisi emosional warga.
Ia berharap motivasi yang diberikan mampu mengubah pola pikir siswa agar tetap optimis mengejar cita-cita di tengah segala keterbatasan fasilitas yang ada.
“Anak-anak butuh sosok yang bisa mereka contoh secara langsung. Kehadiran para mahasiswa ini memberi bukti nyata, pendidikan adalah jalan keluar untuk melangkah lebih jauh dan meraih masa depan yang lebih baik,” pungkasnya.
Upaya yang dilakukan secara swadaya ini menegaskan komitmen para mahasiswa dalam memperkuat kecintaan generasi muda terhadap pentingnya pendidikan dan identitas budaya lokal.
Langkah kecil ini diharapkan mampu memantik semangat literasi berkelanjutan di tengah keterbatasan sarana dan prasarana sekolah yang ada di berbagai pelosok wilayah NTT.














