MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Kesadaraan generasi muda dalam menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan masih menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian.
Meski isu lingkungan semakin sering diperbincangkan mellui berbagai media, keterlibatan aktif anak muda dalam menjaga kebersihan lingkungan dinilai masih perlu ditingkatkan.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Manggarai menyebutkan bahwa hingga saat ini belum terdapat program khusus yang secara spesifik menyasar generasi muda, khususnya mahasiswa, dalam meningkatkan kesadaran lingkungan.
Namun, pihaknya tetap melakukan berbagai upaya melalui penyampaian surat edaran dan imbauan terkait pengelolaan serta penanganan sampah kepada berbagai instansi, termasuk perguruan tinggi.
Selain memberikan imbauan, DLH Kabupaten Manggarai juga pernah melakukan kerja sama dengan sejumlah kampus, salah satunya Universitas Katolik Indonesia (UNIKA) Santu Paulus Ruteng.
Kerja sama tersebut biasanya dilakukan berdasarkan permohonan dari pihak kampus untuk melaksanakan kegiataan kebersihan lingkungan.
Kegiatan yang dilakukan umumnya berupa aksi bersih-bersih di ruang publik seperti kawasan pasar dan jalan umum.
“Dari dinas, kami tidak secara khusus menyasar kampus saja, tetapi biasanya melalui surat edaran atau imbauan terkait penanganan sampah. Dulu denagn UNIKA sering ada kerja sama. Pihak kampus mengirim surat untuk melakukan kegiatan kerja bukti, biasanya di pasar atau jalan umum. Kalua kampanye khusus ke kampus, sejauh ini belum ada,” ujar perwakilan Dinas Lingkungan Hidup.
Meski belum memiliki program khusus untuk mahasiswa, DLH menilai kolaborasi bersama institusi pendidikan menjadi salah satu langkah penting dalam membangun kepedulian generasi muda terhadap kebersihan lingkungan.
Sementara itu, Desi, mahasiswa UNIKA Santu Paulus Ruteng, menilai menjaga kebersihan lingkunangan merupakan tanggung jawab bersama, terutama bagi generasi muda sebagai penerus masa depan.
Menurutnya, perilaku membuang sampah sembarangtidak hanya mengganggu keindah lingkungan, tetapi juga dapat menimbulkan berbagai dampak negatif seperti penyumbatan saluran air yang berpotensi menyebabkan banjir.
“Bumi Adalah tempat tinggal bersama. Karena itu, setiap orang memiliki tanggung jawab untuk menjaga lingkungan agar tetap bersih dan Lestari,” katanya.
Desi mengaku berusaha menerapkan kebiasaan sederhana dalam kehidupan sehari-hari, seperti memungut sampah yang ditemukan di lingkungan kampus maupun ruang kelas dan membuangnya pada tempat yang tersedia.
Menurutnya, tindakan kecil tersebut sering kali dianngap sepele, padahal jika dilakukan secara konsisten oleh banyak orang dapat memberikan dampak besar terhadap kebersihan lingkungan.
Ia menilai salah satu tantangan terbesar dalam meningkatkan kesadaran lingkungan adalah masih rendahnya kepedulian sebagaian anak muda. Kebiasaan membuang bungkus makanan atau sampah kecil secara sembarangan masih sering terjadi karena dianggap bukan persoalaan besar.
“Padahal, jika kebiasaan itu dilakukan oleh banyak orang, dampaknya akan sangat besar terhadap lingkungan,” ujarnya.
Untuk meningkatkan kepedulian tersebut, ia mendorong agar sekolah, kampus, dan komunitas menyediakan fasilitas pendukung seperti tempat sampah yang memadai serta menerapkan pemilahan sampah organik dan nonorganik.
Hal senada disampaikan Charles, mahasiswa UNIKA Santu Paulus Ruteng lainnya. Ia mengatakan bahwa menjaga kebersihan lingkungan merupakan tanggung jawab yang harus dilakukan di mana pun berada, baik di rumah, kampus, maupun ruang publik.
“Alam harus tetap dijaga agar generasi yang akan datang dapat merasakan manfaat dari lingkungan yang bersih dan sehat. Kita harus menjaga lingkungan di mana pun berada, baik di kampus maupun di rumah,” ungkapnya.
Charles juga membagikan pengalamannya saat mengikuti kegiatan penanaman pohon yang diselenggarakan oleh komunitasnya.
Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya berdampak positif terhadap lingkungan, tetapi juga membangun rasa tanggung jawab sosial di kalangan masyarakat.
Namun, ia mengakui bahwa partisipasi generasi muda dalam kegiatan lingkungan masih perlu ditingkatkan. Salah satu tantangan yang terlihat adalah rendahnya minat sebagian anak muda untuk terlibat dalam kegiatan sosial karena lebih banyak menghabiskan waktu di media sosial.
“Sangat sedikit anak muda sekarang yang benar-benar peduli terhadap lingkungan. Salah satu tantangannya adalah kurangnya minat untuk terlibat karena banyak yang lebih memilih menghabiskan waktu dengan media sosial,” jelasnya.
Ia berharap edukasi tentang lingkungan dapat terus diperkuat melalui seminar, penyuluhan, maupun kegiatan praktis di lingkungan kampus. Menurutnya, kesadaran lingkungan tidak cukup hanya melalui teori, tetapi perlu diwujudkan dalam tindakan nyata.
Kesadaran menjaga kebersihan lingkungan harus dimulai dari diri sendiri. Perubahan perilaku membutuhkan komitmen individu agar kebiasaan hidup bersih dan peduli terhadap lingkungan dapat menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Dengan meningkatnya partisipasi generasi muda dalam berbagai kegiatan lingkungan, diharapkan tercipta lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan bagi masyarakat saat ini maupun generasi mendatang.
Catatan Redaksi: Berita ini merupakan liputan mandiri yang dilakukan oleh Jhohanes Baptista Sit, Adelia Helvi, Angela Marischa Goo, dan Helena Jesika Adung













