Opini oleh Maria Frayenta Paput, Fransiska Kabrini Nilgen, Kristiani Edom, Paulinus Etmerson Omas, Oktavianus Sentosa
MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Di era digital saat ini, Media Sosial, yang umumnya disebut sebagai SosMed, telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat.
Kehadiran Media Sosial memberikan banyak manfaat, mulai dari memfasilitasi komunikasi hingga penyebaran informasi yang cepat.
Namun, di balik berbagai kemudahan Media Sosial, hal ini juga membawa tantangan baru, salah satunya adalah munculnya budaya penilaian publik terhadap seseorang sebelum fakta sebenarnya diketahui.
Hal ini sering terjadi ketika suatu kasus menjadi viral. Dalam hitungan menit, ribuan atau bahkan jutaan pengguna media sosial dapat memberikan komentar, pendapat, dan penilaian, baik yang positif maupun negatif, mengenai individu yang terlibat dalam kasus tersebut.
Sayangnya, sebagian orang langsung menarik kesimpulan tentang kesalahan seseorang tanpa menunggu hasil penyelidikan atau klarifikasi dari pihak terkait, sehingga orang-orang hanya menebak dan menghakimi.
Akibatnya, media sosial berubah menjadi forum penilaian yang mengabaikan prinsip praduga tak bersalah.
Sebagai mahasiswa, kami memandang fenomena ini sebagai cerminan rendahnya literasi digital di masyarakat. Banyak pengguna media sosial lebih mementingkan menjadi yang pertama berkomentar daripada memverifikasi kebenaran informasi yang mereka terima.
Judul berita yang provokatif, klip video pendek (tidak lengkap), atau postingan yang belum terverifikasi sering kali langsung dipercaya dan dibagikan atau disebarkan.
Padahal, informasi yang beredar di media sosial belum tentu mencerminkan fakta yang sebenarnya.
Budaya menghakimi di media sosial juga dapat berdampak serius pada individu yang menjadi sasaran. Nama baik seseorang dapat tercemar dalam waktu singkat, bahkan sebelum proses hukum berlangsung.
Banyak orang mengalami tekanan psikologis akibat hinaan dan komentar negatif yang mereka terima. Dalam beberapa kasus, pengaruhnya atau dampaknya dapat bertahan jauh lebih lama daripada viralitas peristiwa itu sendiri.
Situasi ini menunjukkan bahwa kebebasan berekspresi di media sosial harus disertai dengan tanggung jawab.
Setiap pengguna memiliki hak untuk mengemukakan pendapat, namun hak ini tidak boleh digunakan untuk menyebarkan kebencian, fitnah, atau penilaian tanpa bukti yang tidak berdasar.
Masyarakat perlu memahami bahwa memberikan komentar di media sosial tidak memberikan wewenang kepada mereka untuk menentukan apakah seseorang benar atau salah.
Pelajar merupakan bagian dari generasi digital, yang memainkan peran penting dalam menciptakan dan memupuk lingkungan media sosial yang lebih sehat. Penting untuk mengadopsi sikap kritis sebelum menerima dan membagikan informasi.
Memverifikasi berbagai sumber berita, mencari informasi dari berbagai sudut pandang, dan menghindari penyebaran informasi yang belum terverifikasi adalah langkah-langkah sederhana yang dapat membantu mengurangi budaya penilaian di dunia maya.
Pada akhirnya, media sosial seharusnya berfungsi sebagai ruang untuk berbagi informasi, berdiskusi, dan membangun saling pengertian, bukan sebagai tempat untuk menilai individu tanpa bukti yang jelas dan kuat.
Di tengah melimpahnya informasi digital, kemampuan berpikir kritis dan menggunakan media sosial dengan bijak menjadi semakin penting untuk menegakkan keadilan dan kemanusiaan.













