Opini  

Membawa Tumbler ke Kampus: Tren Sesaat atau Langkah Nyata Peduli Lingkungan?

Opini oleh Yosefina Eka Anggraini, Renata Yunistra Budiman, Astimaya Yeni Delo, Skolastika Jenita, dan Marsela Putriana Salju

MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Belakangan ini, pemandangan mahasiswa menenteng tumbler warna-warni ke kampus bukan lagi hal yang asing.

Dari kantin hingga perpustakaan, dari ruang kelas hingga lorong gedung kuliah, botol minum reusable seolah menjadi aksesori wajib yang tak boleh ketinggalan.

Tapi di balik vibes estetik yang kerap menghiasi feed Instagram itu, muncul pertanyaan yang jauh lebih dalam: apakah membawa tumbler benar-benar cerminan kesadaran lingkungan, atau sekadar ikut-ikutan tren yang akan terlupakan begitu musimnya berganti?

Pertanyaan ini bukan untuk meremehkan siapa pun. Justru sebaliknya ini adalah ajakan untuk jujur pada diri sendiri.

Ketika Estetika Mendahului Kesadaran
Kita hidup di era di mana gaya hidup “ramah lingkungan” telah menjadi komoditas.

Tumbler dari merek terkenal dijual ratusan ribu hingga jutaan rupiah, hadir dalam berbagai warna pastel yang cantik, lengkap dengan desain yang Instagrammable.

Tidak sedikit mahasiswa yang membelinya bukan karena peduli pada plastik sekali pakai, melainkan karena tidak mau ketinggalan zaman atau lebih tepatnya, tidak mau ketinggalan tren.

Fenomena ini disebut greenwashing pada level individu: menampilkan citra ramah lingkungan tanpa benar-benar mengubah perilaku secara substansial.

Tumbler mahal dibeli, lalu dipakai sesekali, sementara di sisi lain tetap membeli minuman dalam botol plastik saat tumbler tertinggal di kos-kosan.

Jika ini yang terjadi, maka tumbler itu tak lebih dari tas belanja kain yang terlipat rapi di sudut lemari niatnya baik, tapi jarang digunakan.

Di sisi lain, kita tidak boleh terlalu cepat mengadili. Bahkan jika seseorang mulai membawa tumbler karena alasan estetika semata, bukan berarti perjalanan kesadaran lingkungannya berhenti di situ.

Perubahan perilaku manusia jarang datang dalam bentuk pencerahan mendalam yang tiba-tiba. Seringkali, ia bermula dari hal-hal kecil yang tampak dangkal termasuk mengikuti tren.

Seorang mahasiswa yang membeli tumbler demi terlihat keren bisa saja, seiring waktu, mulai memahami mengapa kebiasaan itu penting.

Ia mungkin mulai membaca tentang dampak plastik sekali pakai, bergabung dengan komunitas lingkungan, dan akhirnya menjadi aktivis nyata.

Pintu masuk itu sah-sah saja, selama pintunya memang dilewati bukan sekadar difoto dari luar.

Indonesia adalah salah satu penyumbang sampah plastik laut terbesar di dunia. Setiap tahun, jutaan ton plastik berakhir di tempat pembuangan akhir, sungai, dan lautan.

Gelas plastik dan sedotan dari minuman kekinian berkontribusi signifikan dalam arus sampah ini dan kampus, dengan ribuan mahasiswa yang konsumsi minumannya tinggi, adalah salah satu sumber yang tidak kecil.

Jika satu mahasiswa menggunakan tumbler dan menghindari rata-rata satu gelas plastik per hari, dalam setahun ia telah mencegah sekitar 365 lembar plastik masuk ke lingkungan.

Kalikan dengan ribuan mahasiswa di satu kampus saja angkanya menjadi sangat berarti. Dampak kolektif dari kebiasaan individual yang tampak kecil bisa luar biasa besarnya.

Perbedaan antara tren sesaat dan langkah nyata terletak pada satu kata: konsistensi.
Membawa tumbler sekali dua kali untuk konten media sosial tidak mengubah apa pun.

Tetapi menjadikannya kebiasaan harian bahkan di hari-hari biasa yang tidak ada yang memperhatikan itulah yang membuat perbedaan nyata. Kesadaran lingkungan yang sejati tidak membutuhkan penonton.

Kampus sebenarnya memiliki peran besar dalam membentuk kebiasaan ini. Penyediaan stasiun isi ulang air minum yang mudah diakses, kebijakan diskon untuk pembeli yang membawa wadah sendiri di kantin kampus, hingga kampanye edukasi yang tidak hanya bicara soal larangan tapi juga soal mengapa semua ini bisa memperkuat tren menjadi budaya.

Mahasiswa, sebagai calon pemimpin bangsa yang katanya melek isu-isu global, juga semestinya tidak berhenti pada aksi simbolik. Pilihan konsumsi adalah tindakan politik.

Setiap kali kita memilih tidak membeli minuman dalam kemasan plastik sekali pakai, kita sedang mengirimkan sinyal kepada industri bahwa kita tidak mau menjadi bagian dari masalah.

Tren tumbler di kampus bisa menjadi salah satu dari dua hal: sebuah momen yang berlalu bersama musim, atau awal dari pergeseran budaya yang nyata.

Penentu perbedaannya bukan merek tumbler yang kamu bawa, bukan warna atau harganya melainkan seberapa sering kamu benar-benar memakainya, dan seberapa dalam kamu memahami alasan di baliknya.

Jadi, sebelum kamu meletakkan tumbler itu di rak dan membiarkannya berdebu, tanyakan pada diri sendiri: apakah kamu membawanya untuk lingkungan, atau untuk feed-mu?

Jawabannya hanya kamu yang tahu. Tapi lingkungan yang akan merasakan akibatnya atau manfaatnya.

Penulis: Nana Patris AgatEditor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *