Penulis: Simon Cascia (Aktivis PMKRI Cabang Ruteng St. Agustinus)
MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Putusnya crossway Wae Musur di Kecamatan Rana Mese, Kabupaten Manggarai Timur bukan sekadar musibah alam, tetapi cermin lemahnya keseriusan pemerintah dalam membangun infrastruktur yang layak.
Dampaknya nyata dan langsung dirasakan warga Desa Bea Ngencung, Desa Lidi, dan Desa Satar Lenda yang kini terjebak dalam keterbatasan akses dan aktivitas hidup sehari-hari.
Crossway ini bukan hanya jalur transportasi, tetapi jalur ekonomi, pendidikan, dan keselamatan.
Ketika akses putus, warga kehilangan ruang gerak: hasil kebun sulit dijual, anak sekolah terhambat, bahkan pasien darurat bisa terlambat ditangani.
Yang lebih menyedihkan, kondisi seperti ini selalu berulang, seolah masyarakat sudah dipaksa untuk terbiasa hidup dalam penderitaan yang sama setiap musim hujan.
Pemerintah daerah dan DPRD memang sudah turun meninjau, namun masyarakat tidak butuh kunjungan seremonial dan pernyataan yang hanya memperpanjang berita.
Yang dibutuhkan adalah tindakan cepat dan keputusan tegas. Jika perbaikan darurat terus terlambat, maka itu bukan lagi soal kendala teknis, tetapi soal kelalaian.
Perbaikan darurat harus segera dikerjakan, dan pembangunan jembatan permanen wajib dipercepat.
Sebab jika setiap tahun rusak dan setiap tahun hanya diperbaiki sementara, maka yang gagal bukan hanya jalan, tetapi cara berpikir pembangunan di Manggarai Timur.
Jangan tunggu korban jiwa baru semua pihak panik dan sibuk bekerja.
Karena keselamatan warga Bea Ngencung, Lidi, dan Satar Lenda bukan agenda musiman, melainkan tanggung jawab yang seharusnya diselesaikan sejak lama.













