Gagal Paham! Manajemen Cafe Pas Keta Ruteng Diduga Buang Badan dan Abaikan Keselamatan Karyawan

Ruteng, Pena1NTT.Com — Skandal dugaan kelalaian serius mencuat di Kota Ruteng, Kabupaten Manggarai, setelah seorang karyawan perempuan Cafe Pas Keta berinisial Tika (bukan nama sebenarnya) dikabarkan pingsan saat menjalankan tugas, namun disebut-sebut diabaikan oleh pihak manajemen.

Insiden memilukan pada Selasa (28/10/2025) malam ini kini berbuntut panjang, dengan keluarga korban resmi melayangkan laporan pengaduan ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polres Manggarai pada Rabu (29/10/2025).

Laporan yang dibawa oleh Paulus Talus, ayah korban, bersama anggota keluarga lainnya, secara tajam menyoroti minimnya empati dan buruknya standar keselamatan kerja yang diterapkan oleh manajemen cafe ternama tersebut.

Tuduhan Buang Badan dan Kekecewaan Keluarga

Dilansir dari media KataNTT, Paulus Talus, ayah korban, mengungkapkan kekecewaan mendalam atas respons manajemen cafe Pas Keta.

Ia menyebut, saat Tika pingsan, tidak ada satu pun perwakilan manajemen yang sigap mengambil tindakan atau berinisiatif membawa korban ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ruteng.

“Sebagai orang tua, saya sangat sedih. Anak saya pingsan di tempat kerja, tetapi tidak ada tindakan cepat dari pihak manajemen. Tidak ada satu pun yang mendampingi atau membantu membawa anak saya ke rumah sakit,” ujar Paulus dengan nada kecewa.

Bukan hanya lambat, keluarga bahkan menuding manajemen Cafe Pas Keta telah ‘buang badan’ dan tidak menunjukkan itikad baik sedikit pun.

Akhirnya, keluarga sendirilah yang terpaksa pontang-panting mencari kendaraan untuk menyelamatkan nyawa Tika dan memberikan pertolongan medis.

“Kami menilai manajemen cafe sama sekali tidak menunjukkan itikad baik. Tidak ada rasa simpati terhadap karyawan yang sudah bekerja dan membantu usaha mereka,” kecamnya.

Upaya Komunikasi Dibalas Sikap Tertutup

Ironisnya, upaya keluarga untuk menuntut kejelasan dan tanggung jawab justru dibalas dengan sikap tertutup dari pihak manajemen cafe.

Rudy Ganggut, kakak korban, menceritakan upaya komunikasinya dengan admin kafe bernama Novi yang berujung kekecewaan.

Saat meminta nomor kontak pemilik kafe yang disebut berada di luar daerah, admin tersebut disebut enggan memberikan dan puncaknya, Novi disebut mematikan telepon saat dimintai penjelasan.

“Kami sudah minta nomor pemilik, tapi tidak diberikan. Saat kami minta penjelasan, dia justru mematikan telepon. Ini membuat kami semakin kecewa karena terkesan mereka ingin lepas tanggung jawab,” ungkap Rudy.

Desakan Penegakan Hukum: Pertanyakan Standar Keselamatan Kerja

Keluarga korban menegaskan bahwa insiden pingsan di lingkungan kerja ini adalah murni kecelakaan kerja.

Rudy dan keluarga menuntut agar manajemen bertanggung jawab penuh, baik secara moral maupun administratif.

“Kalau kejadian ini terjadi di tempat kerja, tanggung jawabnya jelas ada pada manajemen. Kami ingin tahu, apakah mereka memiliki standar keselamatan kerja atau tidak, karena yang kami lihat, mereka lalai,” tambahnya.

Admin cafe, Novi, yang dihubungi terpisah, mengaku tidak berada di tempat saat kejadian karena sudah berganti shift.

Namun, pengakuan ini tidak meredakan amarah keluarga yang kini menempuh jalur hukum untuk mencari keadilan dan perlindungan bagi Tika.

Keluarga berencana menindaklanjuti laporan pengaduan ini secara resmi dan akan berkoordinasi dengan Dinas Ketenagakerjaan untuk memastikan semua hak-hak korban terpenuhi.

Mereka menuntut kejelasan dan keadilan bagi pekerja yang mengalami musibah saat bekerja.

Hingga berita ini diturunkan, pihak manajemen Cafe Pas Keta bungkam dan belum memberikan keterangan resmi.

Sikap diam ini justru semakin memperkuat dugaan publik atas kelalaian serius dan upaya menutupi insiden yang mengancam nyawa karyawan mereka sendiri.

IMG-20260217-WA0004

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *