Opini oleh Luisfigo Nantu Gabut (Mahasiswa UNIKA Santu Paulus Ruteng)
MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Pendidikan bermutu sering dibayangkan lewat gedung sekolah yang megah, kurikulum yang baru, atau perangkat digital yang canggih.
Padahal, semua itu tidak berarti jika peserta didik belum mampu membaca, memahami, dan menalar dengan baik. Di sinilah literasi berperan sebagai fondasi.
Literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis. Literasi mencakup kemampuan memahami informasi, menilai kebenarannya, dan menggunakannya untuk mengambil keputusan.
Peserta didik yang literat tidak hanya hafal isi bacaan, tetapi juga mampu bertanya, membandingkan, dan menarik kesimpulan. Kemampuan inilah yang menopang semua mata pelajaran, mulai dari matematika hingga ilmu sosial.
Sayangnya, tantangan literasi kita masih besar. Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) berulang kali menunjukkan bahwa kemampuan membaca peserta didik Indonesia berada di bawah rata-rata negara anggota OECD.
Banyak siswa dapat melafalkan teks, tetapi kesulitan menangkap gagasan pokoknya. Di tengah derasnya arus informasi digital, kelemahan ini membuat mereka rentan terhadap hoaks dan informasi menyesatkan.
Ada beberapa langkah yang dapat ditempuh:
Pertama, sekolah perlu menjadikan membaca sebagai kebiasaan harian, bukan sekadar program seremonial. Perpustakaan harus dihidupkan dengan koleksi yang menarik dan sesuai dengan usia pembaca.
Kedua, guru semua mata pelajaran—bukan hanya guru bahasa—perlu melatih siswa memahami teks dalam bidang masing-masing.
Ketiga, keluarga harus ikut terlibat. Orang tua yang membacakan buku atau membiasakan diskusi di rumah menanamkan minat baca jauh sebelum anak masuk sekolah.
Pemerintah daerah dan masyarakat juga memiliki tanggung jawab. Penyediaan buku bermutu di daerah terpencil, pelatihan guru, serta dukungan bagi taman bacaan masyarakat akan memperkecil kesenjangan literasi antarwilayah.
Tanpa pemerataan akses, mutu pendidikan hanya akan dinikmati sebagian kecil anak bangsa.
Pada akhirnya, bangunan pendidikan yang kokoh hanya dapat berdiri di atas fondasi yang kuat.
Jika literasi diperkuat sejak dini, pilar-pilar lain seperti berpikir kritis, pemahaman belajar, dan karakter akan lebih mudah tumbuh.
Mari kita mulai dari hal sederhana: membuka buku, membaca bersama, dan memastikan setiap anak Indonesia mampu memaknai apa yang dibacanya.













