Opini  

Universitas Kehilangan Nalar Kritis!

Opini oleh Anna Jecquinitia Yoman (Mahasiswi UNIKA Santu Paulus Ruteng)

MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Universitas seharusnya menjadi rumah bagi nalar kritis. Di sanalah mahasiswa belajar berpikir, bukan sekadar menghafal.

Realitas hari ini justru terbalik. Banyak universitas berubah menjadi pabrik ijazah. Mahasiswa datang, membayar uang kuliah, mengerjakan tugas, lalu wisuda.

Proses berpikir kritis jarang terjadi. Ruang dialog antara dosen dan mahasiswa semakin sempit.

Ada tiga gejala yang mengkhawatirkan di universitas kita:

Pertama, mahasiswa kehilangan keberanian bersuara. Banyak mahasiswa lebih memilih diam agar nilai aman. Mereka takut berbeda pendapat dengan dosen.

Budaya senioritas dan feodalisme akademik masih kuat. Akibatnya, kelas menjadi satu arah: dosen berbicara, mahasiswa mencatat.

Kedua, dosen kehilangan waktu untuk membimbing. Beban administrasi sangat berat. Dosen harus mengurus akreditasi, laporan Beban Kerja Dosen (BKD), jurnal, dan proyek.

Waktu untuk diskusi mendalam dengan mahasiswa menjadi terbatas. Pendidikan akhirnya hanya formalitas.

Ketiga, kurikulum tercabut dari realitas sosial. Mahasiswa di Manggarai belajar teori pembangunan dari buku teks impor.

Sementara itu, konflik agraria, penggusuran warga, dan kemiskinan terjadi di depan mata mereka. Universitas gagal menghubungkan teori dan kenyataan.

Padahal, tujuan utama universitas adalah memanusiakan manusia. Universitas harus melahirkan intelektual yang berpihak pada kebenaran dan keadilan, bukan melahirkan sarjana yang hanya mengejar sertifikat.

Oleh karena itu, pembenahan harus dimulai sekarang.

Universitas perlu mengembalikan kelas sebagai ruang dialog, bukan ruang indoktrinasi. Dosen perlu memberikan kebebasan kepada mahasiswa untuk bertanya, membantah, dan menawarkan gagasan baru.

Mahasiswa perlu didorong untuk menulis opini, melakukan riset lapangan, dan terlibat dalam persoalan masyarakat.

Pemerintah dan pimpinan universitas juga perlu memangkas birokrasi yang membebani dosen.

Dosen harus dikembalikan pada tugas utamanya, yaitu mengajar, meneliti, dan mengabdi kepada masyarakat.

Jika universitas kehilangan nalar kritis, kita akan kehilangan masa depan.

Bangsa ini tidak membutuhkan lebih banyak pemegang ijazah. Bangsa ini membutuhkan lebih banyak manusia yang berani berpikir jernih dan bertindak adil.

Penulis: Nana Patris AgatEditor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *