Opini  

Disorientasi Budaya Manggarai: Dari Tuntunan Hidup Menuju Komoditas Digital

Penulis: Felsianus Gol

MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Fenomena “Pudar di Tanah Sendiri” bukan lagi sekadar kegelisahan nostalgia. Ini merupakan alarm keras bagi ketahanan budaya Manggarai di tengah gempuran zaman.

Kita sedang menyaksikan perubahan orientasi (disorientasi) budaya yang nyata, sebuah kemerosotan cara masyarakat memperlakukan akarnya.

Warisan leluhur tidak lagi dihayati sebagai nilai hidup (tuntunan) yang menavigasi moralitas publik.

Tradisi kini kian terdegradasi, hanya dianggap sebagai komoditas visual (tontonan) untuk memuaskan rasa lapar mata.

Saat sebuah ritual kehilangan substansi dan hanya menyisakan kulit luar, jati diri kolektif kita sebenarnya sedang berada di ambang kepunahan fungsional.

Pergeseran Nilai: Antara Esensi dan Eksistensi Budaya

Seni Caci sejatinya merupakan manifestasi sportivitas dan estetika ketangkasan. Pergeseran paradigma kini membawa Caci pada ruang ego sektoral yang sempit.

Hilangnya rasa hormat terhadap lawan—sosok yang seharusnya dipandang sebagai saudara dalam seni—menunjukkan adanya pendangkalan makna terhadap simbolisme larik dan nggiling.

Tanpa pengendalian diri, Caci hanya akan menjadi pertunjukan kekerasan tanpa jiwa.

Kondisi ini diperparah oleh pemutusan rantai pengetahuan (knowledge gap) antara generasi tua dan muda.

Generasi masa kini cenderung memandang adat sebagai formalitas birokratis yang kaku dan usang.

Ketidakmampuan memahami filosofi hidup orang Manggarai mengakibatkan hilangnya rasa kepemilikan. Individu merasa menjadi orang asing di tengah ekosistem budayanya sendiri.

Dominasi teknologi digital dalam ruang seni turut memarginalkan alat musik organik. Penggunaan rekaman audio digital dalam upacara adat bukan sekadar masalah teknis.

Praktik tersebut merupakan bentuk pengabaian terhadap sakralitas bunyi. Getaran Gong dan Gendang yang dimainkan secara langsung mengandung energi spiritual. Kekuatan itu mustahil digantikan oleh bit-bit data digital.

Di tingkat yang lebih mendasar, budaya Tabe sebagai fondasi terkecil kontrak sosial masyarakat Manggarai mulai runtuh.

Memudarnya perilaku ini menandakan adanya pergeseran dari masyarakat komunal yang hangat menuju masyarakat individualis yang atomistik.

Saat kesantunan dianggap sebagai hal remeh, kohesi sosial yang selama ini menjaga harmoni di tanah Manggarai akan perlahan runtuh.

Di era masa kini, budaya sering kali dipaksa tunduk pada algoritma media sosial. Banyak praktik budaya kini dilakukan hanya demi estetika layar (konten), bukan karena kedalaman pemahaman maknanya.

Ritual yang seharusnya bersifat sakral dan privat diubah menjadi konsumsi publik yang dangkal demi mendapatkan pengakuan virtual. Budaya kita kini terjebak dalam dilema antara pelestarian tulus dan pameran semu.

Rekonstruksi Kesadaran: Memulihkan Kedaulatan Budaya

Menyelamatkan identitas budaya Manggarai memerlukan lebih dari sekadar perayaan seremonial tahunan.

Kita butuh keberanian untuk kembali ke substansi, menghidupkan kembali filosofi di balik simbol, serta memulihkan rasa hormat pada setiap jengkal tradisi.

Budaya adalah entitas yang hidup melalui praktik nyata, bukan sekadar artefak yang membeku di balik layar ponsel.

Pilihannya kini ada di tangan kita: tetap menjadi pemilik sah atas kedaulatan budaya kita, atau perlahan menjadi penonton asing di tanah kelahiran sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *