Simfoni di Pucuk Beludru: Risalah Tiga Takdir yang Menguap

Penulis: Arto Ganggur

MANGGARAI, PENA1NTT.COM — Sehelai daun talas bersalut lilin alami yang halus menjadi singgasana bagi tiga tetes embun bening. Mereka berkilau layaknya permata yang tertinggal dari jubah malam, memantulkan spektrum cahaya fajar yang baru saja merekah.

Daun itu bergeming, membiarkan permukaan beludrunya menjadi saksi bisu sebuah dialog eksistensial, tepat sebelum sang surya mendaki singgasana dan menjemput mereka kembali ke rahim awan.

Dalam keheningan sakral, sebuah percakapan bermula.

Embun pertama, yang bertengger kokoh di tengah tulang daun, berujar dengan nada penuh ambisi.

“Lihatlah betapa kerdilnya kita di sini. Aku tak sudi selamanya hanya menjadi penghias pagi yang fana. Saat napas matahari mengubahku menjadi uap dan aku terlahir kembali sebagai rintik hujan, aku memilih jatuh di lautan luas. Aku ingin melebur dalam samudera tak bertepi, tempat bagi gelombang perkasa dan kedalaman misterius. Bagiku, laut adalah takhta tertinggi, sebuah muara agung tempatku menjadi besar dan tak tergoyahkan.”

Embun kedua, yang bergetar lembut diterpa angin sepoi, menyahut dengan suara sarat kerinduan akan keindahan.

“Ambisi itu terlalu menyesakkan. Aku lebih memilih keanggunan yang tenang. Aku ingin jatuh sebagai tetesan yang mendarat di danau nan molek. Bayangkan aku menyentuh permukaan air jernih serupa cermin, dikelilingi barisan angsa putih yang menari anggun di bawah naungan bunga-bunga bermekaran. Aku ingin menjadi bagian dari harmoni yang dipuja manusia karena estetika dan keteduhannya.”

Seketika, suasana di atas daun talas menjadi hening. Kedua embun serempak mengalihkan pandangan kepada embun ketiga yang sedari tadi terdiam di tepi daun. Tubuh beningnya perlahan menipis diterpa hangat cahaya.

“Bagaimana denganmu?” tanya embun pertama. “Tidakkah kau ingin menjadi bagian dari kejayaan atau keindahan abadi?”

Embun ketiga tersenyum tenang, memancarkan kedamaian yang tak terusik oleh kegelisahan akan hari esok.

“Pilihanku berbeda. Aku tidak mendamba kemegahan samudera, juga tidak menginginkan kenyamanan danau yang tenang. Jika takdir mengizinkanku memilih jalan pulang, aku memohon untuk jatuh di tengah gurun pasir yang gersang dan membara.”

Kedua temannya terperangah. “Gurun? Tempat kau akan langsung lenyap ditelan pasir panas dalam sekejap mata? Mengapa memilih jalan yang tampak seperti kesia-siaan itu?”

“Sebab di sana,” jawab embun ketiga dengan ketulusan yang menggetarkan, “kehadiranku memiliki arti paling purba. Di lautan, setetes air tak akan menambah dalam samudera. Di danau, setetes air hanya menambah luas cermin.”

“Namun di gurun, setetes air adalah napas bagi kehidupan. Aku ingin jatuh di atas sebiji benih yang sedang sekarat atau membasahi akar kering yang tengah berjuang melawan maut.”

“Aku memilih untuk tidak sekadar ‘ada’, namun membangkitkan kehidupan di tempat paling putus asa. Kemuliaan tertinggi bukan berada di tempat paling indah, namun menjadi yang paling berarti bagi mereka yang hampir mati.”

Sesaat kemudian, matahari mencapai puncaknya. Di atas daun talas yang licin, ketiga embun perlahan memudar.

Mereka terangkat ke angkasa sebagai uap tak kasatmata, membawa janji dan takdir masing-masing menuju cakrawala yang luas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *