Opini  

Pendidikan Karakter: Urgensi yang Terabaikan oleh Orientasi Nilai

Opini oleh Oliva Hartin (Mahasiswi UNIKA Santu Paulus Ruteng)

MANGGARAI, PENA1NTT.COM — Pendidikan di Indonesia hari ini terlalu sibuk mengejar angka. Nilai rapor, peringkat kelas, dan skor ujian sering dianggap sebagai ukuran utama keberhasilan belajar.

Padahal, sekolah semestinya tidak hanya mencetak siswa yang pandai, tetapi juga manusia yang berkarakter, jujur, dan peduli terhadap sesama.

Kenyataan di lapangan menunjukkan hal yang mengkhawatirkan. Kasus menyontek, perundungan, dan ketidakjujuran akademik masih kerap terjadi.

Hal ini menandakan bahwa penguatan karakter belum menjadi prioritas. Guru dan sekolah cenderung diarahkan untuk menuntaskan kurikulum dan target kelulusan, sementara pembentukan sikap dianggap urusan sampingan.

Padahal, kecerdasan tanpa karakter justru berbahaya. Banyak kasus korupsi dilakukan oleh orang-orang berpendidikan tinggi.

Mereka cerdas secara intelektual, tetapi miskin integritas.

Dengan demikian, pendidikan yang hanya menekankan aspek kognitif belum menjawab kebutuhan bangsa.

Oleh karena itu, ada tiga langkah yang perlu dilakukan:

Pertama, sekolah harus menjadikan nilai kejujuran, tanggung jawab, dan empati sebagai bagian dari penilaian belajar, bukan sekadar slogan di dinding kelas.

Kedua, guru perlu menjadi teladan, sebab siswa belajar lebih banyak dari perilaku daripada nasihat.

Ketiga, orang tua dan masyarakat harus terlibat aktif, karena pendidikan tidak berhenti di gerbang sekolah.

Pemerintah juga perlu memberi ruang yang cukup bagi sekolah untuk mengembangkan pendidikan karakter, antara lain melalui pelatihan guru dan pengurangan beban administrasi.

Guru yang terbebani laporan tidak akan sempat membina murid secara utuh.

Pada akhirnya, kemajuan bangsa tidak ditentukan oleh banyaknya lulusan bernilai tinggi, melainkan oleh kualitas manusia yang dihasilkan.

Pendidikan yang berhasil adalah pendidikan yang melahirkan pribadi cerdas sekaligus berintegritas.

Sudah saatnya kita menempatkan karakter sejajar dengan prestasi akademik.

Penulis: Nana Patris AgatEditor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *