Opini oleh Arnoldus Liano Candra (Ketua Presidium PMKRI Cabang Ruteng St. Agustinus)
MANGGARAI, PENA1NTT.COM — Sudah hampir tiga bulan berlalu sejak hari yang sangat menakutkan itu. Tepatnya pada tanggal 15 Agustus 2026 yang lalu, gempa bumi kuat mengguncang tanah Flores, termasuk wilayah Manggarai.
Guncangan tersebut datang begitu cepat dan menghancurkan banyak hal dalam hitungan detik. Rumah-rumah tempat warga berlindung, fasilitas belajar anak-anak, ruang berkumpul keluarga, hingga ladang dan harta benda yang dikumpulkan seumur hidup, kini rata dengan tanah atau mengalami kerusakan parah.
Sejak hari musibah itu terjadi hingga hari ini, ribuan saudara-saudari kita kehilangan tempat tinggal definitif. Mereka tidak lagi memiliki akses terhadap hunian yang aman dan layak. Sebagai gantinya, mereka terpaksa bertahan hidup di posko-posko penampungan darurat sambil menanti kepastian realisasi pembangunan Hunian Sementara (Huntara).
Kendati demikian, waktu terus berjalan dan situasi alam kini telah berubah drastis. Bulan November telah tiba, membawa serta curah hujan tinggi yang mulai mengguyur wilayah Manggarai dan Flores secara umum.
Di tengah malam yang dingin, tatkala hujan turun dengan lebat dan angin bertiup kencang, mari kita sejenak merefleksikan diri di luar kesibukan harian, kenyamanan kamar, serta kehangatan keluarga. Mari kita arahkan nurani kepada saudara-saudari kita yang tengah berjuang mempertahankan hidup di dalam tenda-tenda pengungsian.
Mari membayangkan realitas hidup di posko pengungsian selama berbulan-bulan. Ketika kita dapat beristirahat dengan nyenyak di bawah atap yang kokoh, kering, dan hangat, mereka justru harus tidur beralaskan tikar tipis di atas permukaan tanah yang basah dan berlumpur. Saat hujan turun, air kerap merembes masuk ke dalam tenda.
Terpal-terpal yang mulai usang dan robek tidak lagi sanggup menahan terjangan air hujan. Suara gemuruh air hujan di atas atap terpal seolah menjadi saksi bisu atas penderitaan dan kecemasan yang mereka rasakan setiap hari. Ketenangan istirahat mereka meredup akibat dihantui rasa cemas: bagaimana jika angin kencang menerbangkan tenda, atau jika longsor menerjang kawasan posko?
Persoalan ini kian pelik dengan ancaman krisis kesehatan yang mengintai tanpa kenal waktu. Musim hujan secara konsisten memicu eskalasi penyakit, seperti infeksi saluran pernapasan, batuk persisten, masuk angin, diare, hingga infeksi kulit yang mendera tubuh dalam kondisi kelelahan. Anak-anak usia dini yang seharusnya tumbuh dalam keceriaan serta para warga lanjut usia merupakan kelompok paling rentan yang jatuh sakit di tengah situasi darurat ini.
Di dalam tenda yang sempit, lembap, dan minim fasilitas, ruang gerak menjadi sangat terbatas. Aktivitas harian, istirahat, hingga akses pengobatan terkendala oleh jarak dan keterbatasan finansial.
Sebagai Ketua Presidium PMKRI Cabang Ruteng, saya menyaksikan dan merasakan secara langsung bahwa kondisi ini sungguh mengiris nurani. Bencana gempa bumi pada 15 Agustus lalu tidak sekadar meruntuhkan infrastruktur fisik warga, melainkan turut menguji kadar kemanusiaan dan kepekaan sosial kita bersama.
Kita tidak boleh bersikap acuh tak acuh atau menganggap situasi ini sebagai hal yang lumrah. Empati publik tidak boleh surut hanya karena peristiwa tersebut telah berlalu tiga bulan. Realitasnya, penderitaan mereka belum usai; mereka masih terjebak dalam fase transisi yang sangat melelahkan.
Masyarakat di posko-posko penantian Huntara telah menunjukkan batas kesabaran yang panjang. Mereka telah terlampau lelah menghadapi ketidakpastian hidup dari hari ke hari. Oleh karena itu, di tengah eskalasi musim hujan saat ini, tulisan ini dihadirkan sebagai panggilan moral bagi kita semua melalui tiga poin krusial berikut:
Pertama, mari terus merawat solidaritas melalui dukungan doa, perhatian, serta aksi nyata. Jangan biarkan saudara-saudari kita berjuang menghadapi fase kritis ini seorang diri. Kehadiran moral berupa sapaan hangat, kunjungan langsung, serta uluran tangan dari kita memegang peranan penting dalam memulihkan ketahanan mental dan semangat hidup mereka yang sempat runtuh akibat bencana.
Kedua, saya mendesak secara tegas kepada para pemangku otoritas—baik pemerintah daerah di seluruh kabupaten se-Flores maupun pemerintah pusat—untuk mengambil langkah taktis yang jauh lebih cepat. Akselerasi proses distribusi logistik dan pastikan pembangunan Hunian Sementara (Huntara) segera dituntaskan.
Musim hujan telah tiba dan sedang berlangsung. Setiap hari penundaan berimplikasi pada bertambahnya durasi penderitaan warga yang harus menghadapi cuaca dingin dan basah di tenda darurat. Respons cepat harus diambil sebelum jatuhnya korban jiwa akibat cuaca ekstrim atau wabah penyakit di area pengungsian.
Ketiga, kita harus memastikan ketersediaan dan pemerataan hak-hak dasar mereka, meliputi suplai selimut tebal yang layak, pakaian kering, ketersediaan obat-obatan esensial, serta distribusi pangan bergizi di setiap posko penampungan. Pemerintah bersama para pihak dermawan wajib menjamin bahwa tidak ada satu pun warga terdampak yang terabaikan.
Masyarakat Manggarai dan Flores dikenal memiliki akar nilai luhur persaudaraan yang kokoh sejak leluhur. Tradisi saling menolong, budaya manget anak, pendampingan sesama, serta kerja kolektif meringankan beban orang lain merupakan manifestasi identitas kolektif kita.
Mari kita aktualisasikan kembali semangat gotong royong tersebut secara riil. Mari kita satukan daya, menggugah kesadaran para pengambil kebijakan, dan mengawal proses rehabilitasi serta rekonstruksi ini hingga tuntas.
Jangan biarkan air mata saudara-saudari kita yang kedinginan di bawah tenda pengungsian terabaikan di balik derasnya curah hujan. Mereka bukan pihak asing; mereka adalah bagian dari darah daging kita dan entitas esensial dari tanah Flores tercinta.













