Opini  

Menulis: Keterampilan yang Terlupakan di Ruang Kelas

Opini oleh Antonius Jian Paul (Mahasiswa UNIKA Santu Paulus Ruteng)

MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Disekolah, siswa belajar membaca, berhitung, dan menghafal. Namun, keterampilan menulis sering hanya menjadi pelengkap.

Padahal, menulis adalah cara paling nyata bagi seseorang untuk menunjukkan bahwa ia benar-benar memahami sesuatu.

Di banyak kelas, kegiatan menulis masih terbatas pada menyalin catatan dari papan tulis. Siswa jarang diminta mengungkapkan pikirannya sendiri.

Akibatnya, mereka terbiasa menerima informasi, tetapi kesulitan menyusunnya kembali dengan kata-kata sendiri.

Kondisi ini terlihat ketika siswa diminta menulis karangan atau menjawab soal uraian. Banyak yang bingung memulai, kalimatnya tidak runtut, dan gagasannya melompat-lompat.

Masalah ini tidak hanya dialami siswa sekolah. Mahasiswa pun kerap mengalami hal serupa saat menyusun tugas atau karya ilmiah.

Ada beberapa penyebabnya:

Pertama, waktu pelajaran yang terbatas membuat guru lebih mengejar target materi daripada melatih keterampilan.

Kedua, memeriksa tulisan siswa membutuhkan waktu dan tenaga, sehingga latihan menulis sering dikurangi.

Ketiga, kebiasaan membaca yang belum kuat membuat siswa kekurangan bahan untuk menulis. Orang sulit menulis jika jarang membaca.

Kemajuan teknologi juga ikut memengaruhi. Dengan mudahnya menyalin jawaban dari internet, siswa tergoda melewatkan proses berpikir.

Mereka mengumpulkan tugas yang rapi, tetapi belum tentu memahami isinya. Jika dibiarkan, kebiasaan ini melemahkan daya nalar dan kejujuran akademik.

Karena itu, sekolah perlu menempatkan menulis sebagai kebiasaan harian. Latihan tidak harus panjang.

Lima belas menit untuk menulis ringkasan pelajaran, pengalaman, atau pendapat sederhana sudah cukup membantu.

Yang terpenting, kegiatan itu dilakukan secara rutin dan mendapat tanggapan dari guru. Guru juga dapat mengubah cara menilai.

Tulisan siswa tidak hanya diperiksa benar atau salahnya, tetapi juga diberi masukan agar siswa tahu bagian yang perlu diperbaiki. Dengan begitu, siswa merasa dihargai dan tidak takut salah.

Peran perpustakaan dan keluarga tidak kalah penting. Sekolah dapat membuat pojok baca dan mading sebagai tempat siswa memajang karyanya.

Orang tua dapat mendorong anak membaca dan bercerita di rumah. Dari kebiasaan kecil itulah kemampuan menulis tumbuh.

Menulis bukan sekadar urusan pelajaran bahasa. Siswa yang terlatih menulis akan lebih teratur berpikir, lebih berani berpendapat, dan lebih siap menghadapi tantangan di bangku kuliah maupun dunia kerja.

Sudah saatnya kita berhenti menganggap menulis sebagai tugas tambahan.

Ketika ruang kelas memberi tempat bagi gagasan siswa, pendidikan tidak lagi sekadar menjejalkan pengetahuan, tetapi sungguh membentuk pribadi yang berpikir kritis dan mampu menyuarakan pikirannya.

Penulis: Nana Patris AgatEditor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *