Opini  

Menolak Dangkal: Mengapa Pendidikan Sastra Harus Berpijak pada Filsafat Ilmu?

Opini oleh Verawati Ijan (Mahasiswi UNIKA Santu Paulus Ruteng)

MANGGARAI, PENA1NTT.COM — Di tengah pendidikan yang makin akrab dengan layar, aplikasi, dan kecerdasan buatan, ada pertanyaan yang perlu kita ajukan lagi: sebenarnya, apa yang ingin kita capai lewat belajar Bahasa dan Sastra Indonesia?

Apakah cukup kalau mahasiswa mampu menjawab soal, menghafal istilah, menyelesaikan tugas, lalu mendapat nilai? Atau pendidikan seharusnya membantu mereka memahami manusia, membaca keadaan sekitar, dan berani mempertanyakan sesuatu?

Bagi saya, pendidikan sastra tidak boleh berhenti pada kemampuan mengulang isi buku. Ia perlu berpijak pada filsafat ilmu supaya proses belajar punya arah dan tidak sekadar mengejar hasil yang terlihat.

Kondisi sekarang membuat informasi terasa sangat dekat. Mahasiswa bisa mencari ringkasan novel, penjelasan teori, atau contoh analisis puisi dalam hitungan detik.

Kehadiran teknologi seperti kecerdasan buatan juga bisa membantu menyusun ide dan membuka sudut pandang baru.

Namun, kemudahan itu membawa risiko: kita bisa tergoda menerima jawaban yang rapi tanpa memeriksa apakah isinya benar, apakah sumbernya jelas, dan apakah pemikiran itu sungguh kita pahami.

Informasi belum tentu menjadi pengetahuan. Pengetahuan perlu diuji, dibandingkan, dan dipikirkan kembali. Di titik inilah filsafat ilmu penting, karena ia mengajak kita bertanya bagaimana sebuah pemahaman dibangun, apa dasar alasannya, dan sejauh mana kita bisa mempercayainya.

Dalam pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, pertanyaan semacam itu bisa dimulai dari kegiatan membaca yang sederhana. Saat membahas cerpen, misalnya, mahasiswa tidak cukup hanya menyebut tema, tokoh, alur, atau amanat.

Mereka perlu menelusuri bukti dalam teks: kalimat mana yang menunjukkan perubahan sikap tokoh? Mengapa tokoh memilih diam ketika menghadapi ketidakadilan? Apakah tafsir tentang kemiskinan, keluarga, atau kekuasaan memang didukung cerita, atau justru berasal dari prasangka pembaca?

Dengan cara ini, membaca tidak lagi menjadi kegiatan mencari jawaban yang sudah disiapkan, tetapi latihan menyusun pendapat dengan alasan yang bisa dipertanggungjawabkan.

Filsafat ilmu juga mengingatkan kita bahwa setiap cara pandang punya batas. Pendekatan sosiologi dapat membantu melihat hubungan karya dengan kondisi masyarakat.

Pendekatan psikologi bisa menerangkan pergulatan batin tokoh. Sementara itu, kajian bahasa dapat memperhatikan pilihan kata, gaya tutur, dan bagaimana makna dibentuk.

Semua pendekatan itu berguna, tetapi tidak satu pun bisa menjelaskan seluruh isi karya sastra. Jika sebuah puisi hanya dibaca sebagai cermin keadaan sosial, keindahan bunyi dan pengalaman personalnya mungkin terlewat.

Jika cerpen hanya dicari unsur intrinsiknya, persoalan manusia yang lebih luas bisa luput. Sastra tidak selalu menawarkan jawaban tunggal; kadang kekuatannya justru terletak pada pertanyaan yang tetap terbuka.

Menurut saya, salah satu masalah pembelajaran sastra adalah kebiasaan terlalu mengejar hal yang mudah dinilai.

Mahasiswa diminta membuat analisis, tetapi rubriknya kadang lebih menekankan kelengkapan istilah daripada kedalaman alasan.

Diskusi kelas bisa berakhir pada satu tafsir yang dianggap paling aman, sementara pendapat berbeda jarang diberi ruang.

Akibatnya, mahasiswa belajar menebak jawaban yang disukai pengajar, bukan mengembangkan cara berpikirnya sendiri.

Mereka mungkin hafal bahwa sebuah karya memakai sudut pandang orang pertama, tetapi belum tentu mampu menjelaskan bagaimana sudut pandang itu memengaruhi pembaca.

Hal serupa bisa terjadi dalam tugas menulis. Ketika tugas hanya meminta esai dengan topik umum dan tenggat yang singkat, mahasiswa mungkin lebih sibuk menghasilkan tulisan yang tampak meyakinkan daripada membangun gagasan.

Di era AI, persoalannya menjadi lebih nyata. Bukan berarti semua penggunaan AI harus dilarang, tetapi kelas perlu membicarakan batas dan tanggung jawabnya.

Mahasiswa sebaiknya menjelaskan sumber yang dipakai, menandai bantuan teknologi jika diminta, memeriksa fakta, dan tetap mampu menerangkan isi tulisannya sendiri.

Tulisan yang baik bukan hanya tulisan yang lancar; tulisan yang baik punya pikiran, bukti, dan suara penulis di dalamnya.

Berpijak pada filsafat ilmu tidak berarti setiap pertemuan harus dipenuhi istilah berat. Justru yang dibutuhkan adalah kebiasaan yang dekat dengan kegiatan belajar: membedakan fakta dan pendapat, memeriksa sumber, menguji tafsir lewat kutipan, menerima kritik, serta berani merevisi pandangan.

Dosen bisa meminta mahasiswa membandingkan dua tafsir atas satu cerpen dan menjelaskan bukti yang mendukung masing-masing.

Dalam menulis, mahasiswa dapat diminta menyertakan catatan proses: bagaimana ide awal muncul, sumber apa yang dibaca, dan bagian mana yang berubah setelah mendapat masukan.

Penilaian pun sebaiknya melihat proses berpikir, bukan hanya produk akhir. Pendidikan sastra juga perlu dekat dengan kehidupan yang benar-benar dialami mahasiswa.

Karya dari berbagai daerah, cerita lisan, lagu, berita, percakapan di ruang digital, atau pengalaman masyarakat setempat dapat menjadi bahan untuk melihat bagaimana bahasa membentuk identitas dan hubungan sosial.

Misalnya, pembahasan tentang pilihan bahasa di media sosial bisa membuka pertanyaan tentang siapa yang dianggap berwibawa, bagaimana stereotip terbentuk, dan mengapa bahasa tertentu dipandang lebih tinggi daripada bahasa lain.

Dari sini, pelajaran sastra dan bahasa tidak terasa jauh dari kehidupan, melainkan membantu mahasiswa memahami lingkungan mereka dengan lebih peka.

Pada akhirnya, sastra bukan sekadar pelajaran tentang bahasa yang benar atau karya yang terkenal. Sastra memberi kesempatan untuk berjumpa dengan pengalaman orang lain, termasuk pengalaman yang berbeda dari hidup kita sendiri.

Filsafat ilmu menjaga perjumpaan itu agar tidak berubah menjadi penerimaan pasif. Ia mengajak kita membaca dengan rasa ingin tahu, berpikir dengan alasan, dan rendah hati ketika berhadapan dengan hal yang belum dipahami.

Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang kuat bukan pendidikan yang menghasilkan mahasiswa dengan jawaban paling cepat, melainkan manusia yang tidak gampang puas pada jawaban dangkal.

Sebab, belajar sastra seharusnya membuat kita lebih cermat melihat dunia—dan lebih berani mempertanyakannya.

Penulis: Nana Patris AgatEditor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *