Opini  

Krisis Air di Desa Momol: Cermin Mentalitas yang Perlu Dibenahi

Penulis: Hadrianus Fanri Ganggus (Mahasiswa STIPAS St. Sirilus Ruteng)

MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Bicara soal krisis air minum di Desa Momol, Kecamatan Ndoso, Kabupaten Manggarai Barat, kita tidak bisa terus-menerus menunjuk jari ke arah pemerintah desa, kecamatan, maupun kabupaten.

Sebab ada persoalan yang lebih mendasar dan lebih dekat — yakni mentalitas masyarakat itu sendiri yang perlu secara jujur kita akui dan benahi bersama

Infrastruktur air minum sudah dibangun. Pipa sudah dipasang. Sumber mata air sudah diidentifikasi. Namun yang terjadi kemudian adalah sebuah pemandangan yang memprihatinkan: sarana yang ada tidak dirawat, fasilitas umum dibiarkan rusak tanpa ada yang peduli, dan ketika air tidak mengalir, semua orang ramai-ramai menyalahkan pemerintah.

Padahal, siapa yang merusak? Siapa yang tidak menjaga? Jawabannya, kita sendiri.

Inilah akar masalah yang sesungguhnya. Bukan semata soal anggaran atau kebijakan, melainkan soal kedisiplinan dan rasa memiliki yang masih sangat lemah di sebagian besar warga Desa Momol.

Mentalitas Bukan Urusan Saya

Salah satu penyakit sosial yang paling nyata terlihat adalah sikap acuh terhadap fasilitas bersama. Saluran air yang bocor dibiarkan mengalir sia-sia berminggu-minggu karena tidak ada yang merasa itu adalah tanggung jawabnya.

Pipa yang rusak akibat ulah warga sendiri tidak dilaporkan, apalagi diperbaiki secara swadaya. Setiap orang menunggu orang lain yang bertindak, dan akhirnya tidak ada yang bertindak sama sekali.

Mentalitas bukan urusan saya ini adalah racun bagi kehidupan komunal. Dalam budaya Manggarai yang sesungguhnya kaya akan nilai gotong royong dan gendang one wine langke — semangat kebersamaan dalam satu kampung — sikap seperti ini justru bertentangan dengan warisan leluhur kita sendiri.

Sebagai orang Manggarai, kita seharusnya malu jika membiarkan nilai-nilai luhur itu mati hanya karena kemalasan dan ketidakpedulian kita.

Masalah lain yang tidak kalah serius adalah kebiasaan menggunakan air secara tidak tertib dan boros. Ketika air sedang mengalir deras, sebagian warga menggunakannya tanpa batas — mencuci kendaraan, mengairi lahan dengan cara yang tidak efisien, bahkan membiarkan kran terbuka tanpa pengawasan.

Namun ketika musim kemarau tiba dan air menipis, barulah timbul kepanikan dan keluhan ke sana-sini. Ini bukan salah alam. Ini adalah akibat langsung dari kebiasaan yang tidak dikelola dengan bijak.

Air adalah sumber daya yang terbatas. Tanpa disiplin dalam penggunaannya, sebanyak apapun infrastruktur yang dibangun, krisis akan terus berulang setiap tahun tanpa solusi yang berarti.

Program air bersih tidak bisa berjalan hanya dengan uang pemerintah. Ia membutuhkan partisipasi aktif warga — mulai dari kerja bakti membersihkan saluran, pengawasan bersama terhadap instalasi pipa, hingga iuran rutin untuk biaya perawatan.

Sayangnya, di Desa Momol, partisipasi semacam ini sering kali tidak berjalan sebagaimana mestinya. Warga hadir saat ada bantuan dibagikan, namun absen saat ada pekerjaan yang harus dilakukan bersama.

Sebagai mahasiswa yang lahir dan besar dari tanah Manggarai, saya merasakan sendiri bagaimana semangat gotong royong itu perlahan memudar.

Gotong royong bukan sekadar tradisi masa lalu yang kita banggakan dalam pidato adat. Ia harus hidup dalam tindakan nyata setiap hari — termasuk dalam hal menjaga dan merawat sumber air bersama demi kelangsungan hidup seluruh warga kampung.

Sebagai mahasiswa STIPAS St. Sirilus Ruteng, saya diajarkan bahwa manusia dipanggil untuk menjadi penjaga dan pengelola alam — bukan perusaknya.

Dalam tradisi iman Kristiani yang menjadi nafas lembaga pendidikan kami, tanggung jawab terhadap sesama dan terhadap lingkungan adalah panggilan moral yang tidak bisa diabaikan.

Laudato Si’, ensiklik Paus Fransiskus, dengan tegas mengingatkan bahwa krisis lingkungan — termasuk krisis air — lahir dari krisis moral dan sikap manusia yang tidak bertanggung jawab terhadap ciptaan.

Maka ketika saya melihat kondisi air di Desa Momol, saya tidak hanya melihatnya sebagai masalah teknis, tetapi sebagai masalah moral — masalah hati dan mentalitas yang perlu disentuh dan diubah dari dalam.

Saatnya Berbenah dari Dalam

Tentu saja pemerintah tetap memiliki peran penting. Namun pemerintah tidak bisa bekerja sendiri jika masyarakat yang dilayaninya tidak mau bergerak bersama.

Pembangunan yang sejati bukan hanya membangun fisik — jembatan, pipa, dan bak penampung — tetapi juga membangun karakter dan mentalitas warga yang tertib, bertanggung jawab, dan peduli terhadap sesama.

Ada beberapa langkah konkret yang perlu segera dimulai dari dalam masyarakat Desa Momol sendiri:

Pertama, bentuk dan aktifkan kembali kelompok pengelola air tingkat dusun yang bertugas merawat instalasi dan mengatur pembagian air secara adil dan tertib.

Kedua, bangun kesepakatan bersama — secara adat maupun tertulis — tentang tata cara penggunaan air: jadwal penggunaan, larangan pemborosan, dan sanksi sosial yang tegas bagi yang melanggar.

Ketiga, hidupkan kembali budaya kerja bakti rutin untuk membersihkan saluran air dan memperbaiki kerusakan kecil sebelum berkembang menjadi masalah besar yang tidak terkendali.

Keempat, tanamkan sejak dini kepada anak-anak di sekolah dan dalam keluarga tentang pentingnya menjaga sumber air sebagai warisan bersama yang harus dipelihara, bukan dihabiskan dan dirusak.

Krisis air minum di Desa Momol adalah cermin. Dan apa yang tercermin di sana bukan hanya wajah pemerintah yang lambat, tetapi juga wajah kita sebagai masyarakat yang belum sepenuhnya siap untuk bertanggung jawab atas kebutuhan hidup bersama kita sendiri.

Perubahan sejati selalu dimulai dari dalam. Jika kita ingin air mengalir lancar di setiap rumah warga Momol, maka disiplin, rasa memiliki, dan semangat gotong royong harus lebih dulu mengalir deras di dalam hati setiap warga.

Karena pada akhirnya, air yang bersih hanya akan hadir secara berkelanjutan di tengah masyarakat yang bermental bersih pula.

Mari kita berbenah. Mulai dari diri sendiri. Mulai dari sekarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *