Opini oleh Angelina Jelita (Mahasiswi Program Studi Bahasa Inggris UNIKA St. Paulus Ruteng)
MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Cara berpacaran setiap generasi memang tidak pernah sama. Gen Z berbeda jauh dari Gen X maupun Milenial.
Perbedaan ini terjadi karena Gen Z tumbuh di era internet dan teknologi yang berkembang sangat cepat.
Cara mereka memandang cinta, hubungan, bahkan diri sendiri ikut terbentuk dari lingkungan digital tersebut.
Akibatnya, pola hubungan asmara Gen Z saat ini jauh berbeda dari generasi sebelumnya.
Lewat aplikasi kencan dan media sosial, Gen Z lebih mudah bertemu orang baru. Jarak bukan lagi masalah.
Mereka bisa berkenalan dengan orang dari kota lain, bahkan dari luar negeri, hanya lewat layar HP.
Namun, kemudahan ini punya sisi lain. Fenomena ghosting jadi semakin sering terjadi. Menghilang tanpa kabar seolah jadi hal yang wajar.
Lama-kelamaan, kondisi ini memengaruhi cara Gen Z memaknai komitmen. Banyak dari mereka jadi lebih cepat menyerah ketika hubungan mulai bermasalah.
Gen Z mungkin generasi yang paling paham istilah hubungan. Red flag untuk tanda bahaya, green flag untuk tanda sehat, love bombing, gaslighting — semua istilah itu sudah tidak asing lagi.
Mereka bisa dengan cepat menilai apakah seseorang baik atau tidak untuk dijadikan pasangan.
Ironisnya, pengetahuan itu tidak selalu membuat mereka terhindar dari hubungan yang salah. Banyak Gen Z yang sadar pasangannya memiliki red flag.
Mereka juga sadar hubungan itu menguras tenaga dan bikin capek secara mental. Tapi anehnya, mereka tetap bertahan.
Ada alasan utama kenapa Gen Z sulit keluar dari hubungan toksik.
Pertama, rasa sayang yang sudah terlalu dalam. Rasa itu membuat mereka takut kehilangan, bahkan ketika yang dipertahankan justru menyakiti diri sendiri.
Ada pemikiran seperti, “Lebih baik sakit bersama dia, daripada sepi tanpa dia.”
Kedua, ada ego untuk terus bertahan. Gen Z ingin membuktikan bahwa mereka sudah berjuang semaksimal mungkin. Mereka merasa harus sampai di titik lelah yang benar-benar habis dulu, baru boleh menyerah.
Seolah-olah menyerah di tengah jalan berarti gagal. Dari cara pikir begitulah yang membuat mereka susah untuk keluar dari hubungan toksik.
Membuat pikiran mereka menyiksa hingga stres, hanya karena memikirkan masalah percintaan.
Pada dasarnya, hubungan toksik bukan hanya soal cinta. Lebih dari itu, ini tentang obsesi dan rasa takut kehilangan. Gen Z perlu belajar bahwa menyadari red flag saja tidak cukup.
Keberanian untuk pergi juga harus dilatih. Cinta yang sehat seharusnya membuat tenang, bukan membuat lelah setiap hari. Dan cinta membuatmu membawa hal positif, bukan negatif.
Contohnya seperti kamu menjadi lebih semangat untuk belajar atau bekerja dan semangat menjalani hidup, bukan membawa kita ke hal negatif.













