Opini  

Persatuan Bermula dari Kesejahteraan: Catatan dari NTT

Penulis: Frederikus Bulman (Mahasiswa STIPAS St. Sirilus Ruteng)

MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Nusa Tenggara Timur (NTT) berdiri sebagai gerbang timur Indonesia, sebuah wilayah kepulauan yang indah dengan kekayaan budaya, sejarah perjuangan, dan keberagaman yang luar biasa.

Dari ujung barat Flores, Labuan Bajo, hingga ke wilayah perbatasan Timor, dari dataran Sumba hingga kepulauan Alor dan Lembata, masyarakat NTT telah lama dikenal sebagai masyarakat yang setia, rukun, dan mencintai tanah air.

Namun, di balik kesetiaan itu, ada satu pesan penting yang terus kami sampaikan kepada negara: persatuan yang kokoh tidak hanya dibangun di atas semboyan atau lambang negara, tetapi tumbuh subur ketika kesejahteraan dirasakan secara adil oleh setiap warga, termasuk kami di ujung timur ini.

Bagi kami warga NTT, makna integrasi nasional sangat sederhana namun mendalam. Menjadi bagian dari Indonesia bukan hanya soal berada di dalam peta wilayah, beribadah dengan bendera berkibar, atau mengikuti aturan hukum yang berlaku.

Bagi kami, integrasi sejati terasa nyata saat kami dapat menikmati hak yang sama atas pembangunan, memiliki akses yang sama terhadap fasilitas dasar, dan memiliki kesempatan yang sama untuk maju serta sejahtera seperti saudara-saudara kami di pulau besar lainnya.

Sampai tahun 2026 ini, realitas yang kami hadapi masih berbicara banyak soal ketimpangan. Kita harus berani mengakui bahwa pembangunan di NTT masih tertinggal jauh jika dibandingkan dengan wilayah lain di Indonesia.

Masih banyak desa dan pelosok yang akses jalannya sulit dilalui saat hujan. Masih banyak saudara kami yang harus berjuang mendapatkan air bersih, listrik yang belum stabil, hingga fasilitas pendidikan dan kesehatan yang jauh dari standar layak.

Di saat wilayah lain menikmati kemajuan teknologi dan kemudahan ekonomi, sebagian besar masyarakat di sini masih bergelut dengan keterbatasan infrastruktur dan kemiskinan struktural.

Kondisi ini memunculkan satu pertanyaan mendasar yang sering terucap di tengah percakapan warga: “Apakah kami ini bagian dari keluarga besar Indonesia? Jika ya, mengapa kami masih dibiarkan berjalan tertatih-tatih sendirian?”

Pertanyaan ini bukanlah bentuk pemberontakan, melainkan luapan rindu akan keadilan. Ada kekhawatiran nyata: jika ketimpangan ini dibiarkan terus berlanjut, rasa memiliki dan rasa persatuan yang sudah terjalin lama perlahan akan melemah.

Bagaimana mungkin kita berharap seseorang rela mempertahankan persatuan, jika kehadiran negara belum benar-benar terasa dalam kehidupan sehari-harinya?

Belakangan ini, perhatian mulai beralih ke arah timur. Persiapan Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028 yang akan digelar di NTT menjadi harapan besar bagi kami.

Kami berharap, peristiwa besar ini bukan sekadar ajang kompetisi olahraga, melainkan menjadi titik balik sejarah pembangunan di provinsi ini.

Harapan kami sederhana: pembangunan yang dilakukan harus merata, tidak hanya berpusat di ibu kota provinsi atau kawasan wisata strategis saja.

Jalan yang dibangun harus menghubungkan satu pulau ke pulau lain, fasilitas yang disiapkan harus bisa dimanfaatkan warga jangka panjang, dan kemajuan ekonomi harus dirasakan mulai dari kota hingga ke pelosok desa.

Kami meyakini sepenuhnya prinsip bahwa persatuan bermula dari kesejahteraan. Ketika masyarakat NTT sejahtera, ketika petani dan nelayan kami sejahtera, ketika anak-anak kami bisa bersekolah dan berobat dengan mudah, maka rasa cinta tanah air akan tumbuh secara alami dan sangat kuat.

Saat kebutuhan dasar terpenuhi dan kesejahteraan tercapai, perbedaan apa pun — baik itu suku, budaya, maupun agama — akan mudah disatukan dalam satu ikatan kebangsaan. Tidak ada ikatan yang lebih kuat dalam sebuah negara selain ikatan keadilan dan kesejahteraan yang merata.

NTT memiliki potensi luar biasa yang belum tergali sepenuhnya. Kami punya keindahan alam yang menjadi aset dunia, tanah yang subur untuk pertanian, laut yang kaya, serta budaya yang menarik.

Negara tidak perlu memberi kami hal yang berlebihan, tapi kami berhak mendapatkan kesempatan yang sama agar potensi ini bisa kami kelola demi kemajuan daerah dan sumbangsih bagi negara. Membangun NTT sama artinya dengan memperkokoh Indonesia.

Oleh karena itu, ini adalah catatan kecil dari ujung timur nusantara: Jangan jadikan persatuan hanya slogan indah di atas kertas. Jadikanlah kesejahteraan yang merata sebagai pondasi utamanya.

Saat NTT maju dan sejahtera sejajar dengan wilayah lain, saat itulah kita benar-benar bisa berkata bahwa integrasi nasional Indonesia sudah sempurna.

Karena pada akhirnya, kita hanya akan bersatu dengan kuat jika kita berjalan sejajar menuju masa depan yang sama makmur dan bahagia.

Penulis: Nana Patris AgatEditor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *