MERAWAT NALAR KRITIS DI ERA KECERDASAN BUATAN: PMKRI CABANG RUTENG ST. AGUSTINUS PERKUAT KAPASITAS RISET DAN KOMPETENSI DIGITAL KADER

Foto:Kegiatan Pelatihan Riset Berbasis AI PMKRI Cabang Ruteng St. Agustinus, Sabtu, 7 November 2026.

MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan telah membawa perubahan signifikan dalam dunia pendidikan, penelitian, dan kehidupan organisasi. Kehadirannya menawarkan berbagai kemudahan dalam mengakses informasi, mengembangkan gagasan, mengolah data, hingga menyelesaikan pekerjaan. Namun, di balik berbagai kemudahan tersebut, pemanfaatan AI juga menuntut kemampuan berpikir kritis, kecakapan digital, dan tanggung jawab manusia.

Merespons perkembangan tersebut, Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Ruteng St. Agustinus menyelenggarakan Pelatihan Riset Berbasis Artificial Intelligence (AI). Kegiatan ini menjadi salah satu upaya penguatan kapasitas intelektual dan kompetensi digital kader, khususnya dalam memanfaatkan teknologi untuk menunjang aktivitas akademik di kampus maupun pelaksanaan tugas dan tanggung jawab organisasi.

Pelatihan ini diarahkan untuk membekali kader dengan keterampilan praktis dalam memanfaatkan AI, mulai dari pengembangan ide, penelusuran informasi dan referensi, penyusunan karya ilmiah, serta persiapan presentasi akademik hingga penyusunan proposal kegiatan, perencanaan program kerja, laporan pertanggungjawaban, kajian organisasi, dan publikasi. Dengan demikian, AI diharapkan dapat menjadi instrumen pendukung yang membantu kader bekerja lebih efektif, sistematis, dan produktif.

Ketua Presidium PMKRI Cabang Ruteng St. Agustinus, Arnoldus Liano Candra, menegaskan bahwa perkembangan kecerdasan buatan harus disikapi sebagai peluang untuk meningkatkan kualitas sumber daya kader tanpa mengabaikan identitas PMKRI sebagai organisasi kaderisasi dan perjuangan yang menjunjung tinggi nilai intelektualitas.

Menurutnya, kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi harus berjalan seiring dengan pemeliharaan nalar kritis dan kemandirian berpikir.

“Perkembangan Artificial Intelligence merupakan realitas zaman yang tidak bisa kita hindari. Karena itu, kader PMKRI harus mampu beradaptasi dan memanfaatkan teknologi ini secara bijaksana. Jangan sampai kemudahan teknologi membuat kita berhenti berpikir, malas membaca, dan kehilangan kemampuan menganalisis persoalan. AI harus menjadi alat bantu untuk memperkuat kapasitas intelektual, bukan menggantikan daya pikir kader,” ungkap Arnoldus.

Sementara itu, Presidium Riset dan Teknologi PMKRI Cabang Ruteng St. Agustinus, Heribertus Harianto Harjo, menjelaskan bahwa pelatihan tersebut merupakan bagian dari program kerja Presidium Riset dan Teknologi yang berorientasi pada peningkatan kemampuan kader dalam memanfaatkan perkembangan teknologi untuk kebutuhan akademik dan organisasi.

Ia menilai bahwa keterampilan menggunakan AI menjadi kompetensi penting bagi mahasiswa, terutama dalam menghadapi tuntutan perkuliahan dan dinamika organisasi yang membutuhkan kemampuan mengelola informasi, menyusun gagasan, serta menghasilkan berbagai karya dan dokumen secara sistematis.

“Melalui pelatihan ini, kami ingin kader tidak hanya mengenal berbagai aplikasi AI, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan nyata. AI dapat membantu mahasiswa dalam mengembangkan penelitian, menyusun karya ilmiah, dan menyelesaikan berbagai kebutuhan akademik. Dalam organisasi, teknologi ini juga dapat dimanfaatkan untuk mendukung penyusunan program kerja, proposal, laporan, kajian, dan publikasi. Namun, penggunaannya harus tetap disertai pemahaman, kemampuan analisis, dan tanggung jawab dari setiap kader,” jelas Heribertus.

Dalam pemaparan materinya, Robert Bell Thundang menekankan bahwa riset berbasis Artificial Intelligence tidak berarti menyerahkan seluruh proses berpikir dan pekerjaan manusia kepada kecerdasan buatan. AI harus ditempatkan sebagai alat bantu yang mendukung proses kerja manusia, sementara manusia tetap menjadi subjek utama dalam menentukan arah, mengembangkan pemikiran, melakukan analisis, mengambil keputusan, dan mempertanggungjawabkan hasil pekerjaannya.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa hal mendasar dalam pemanfaatan AI bukan semata-mata kemampuan seseorang mengoperasikan teknologi, melainkan kesanggupan untuk mempertanggungjawabkan setiap informasi, gagasan, maupun hasil pekerjaan yang diperoleh dengan bantuan teknologi tersebut. Oleh karena itu, pengguna AI harus mampu memeriksa kebenaran informasi, memastikan keakuratan sumber, serta memahami substansi dari setiap hasil yang digunakan.

Pandangan tersebut menjadi relevan bagi kader PMKRI, baik dalam kehidupan akademik maupun organisasi. Dalam menghasilkan karya ilmiah, misalnya, mahasiswa tidak cukup hanya mengandalkan hasil yang diberikan AI, tetapi harus memahami isi tulisan, memverifikasi referensi, dan mempertanggungjawabkan argumentasi yang disampaikan. Demikian pula dalam menjalankan tugas organisasi, setiap dokumen, kajian, dan keputusan harus tetap didasarkan pada fakta serta kondisi nyata.

Melalui pelatihan ini, PMKRI Cabang Ruteng St. Agustinus berupaya membangun kader yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, memiliki keterampilan riset, serta mampu mengintegrasikan pengetahuan dengan kebutuhan kehidupan akademik dan organisasi. Lebih dari sekadar penguasaan teknologi, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya menumbuhkan budaya intelektual yang kritis, produktif, dan bertanggung jawab.

Sebab, tantangan terbesar di era kecerdasan buatan bukan hanya bagaimana manusia mampu menggunakan teknologi, tetapi bagaimana manusia tetap memiliki kemandirian berpikir dan keberanian mempertanggungjawabkan setiap hasil pekerjaannya. Teknologi boleh berkembang, tetapi nalar kritis, integritas, dan tanggung jawab manusia harus tetap menjadi landasan utama. Inilah semangat yang perlu dirawat oleh kader PMKRI dalam mengabdikan diri bagi Gereja dan Tanah Air. 

Penulis: Heribertus Harianto HarjoEditor: REDAKSI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *