Opini oleh Matren Alfao Wal (Mahasiswa STIPAS Santu Sirilus Ruteng)
MANGGARAI, PENA1NTT.COM — Di era media sosial, kata “cinta” diucapkan dengan sangat mudah. Ia hadir dalam unggahan, pesan tengah malam, hingga lagu yang kita putar berulang kali. Namun, semakin sering kata itu terdengar, semakin sulit kita membedakan apakah yang dirasakan benar-benar cinta atau sekadar hasrat yang mengenakan topengnya.
Pertanyaan ini tampak sederhana, tetapi jawabannya menentukan arah sebuah hubungan dan luka yang kelak harus ditanggung. Tulisan ini mengajak pembaca merenungkan perbedaan keduanya serta alasan mengapa kekeliruan itu begitu sering terjadi.
Perlu ditegaskan bahwa hasrat bukanlah musuh. Ketertarikan fisik dan gejolak emosi adalah bagian wajar dari pengalaman manusia. Helen Fisher (2004) menjelaskan bahwa tahap awal jatuh cinta melibatkan sistem dopamin di otak yang berkaitan dengan motivasi dan rasa ingin.
Studi pencitraan otak oleh Aron dkk. (2005) pada orang yang baru jatuh cinta juga menemukan aktivitas pada area penghargaan di otak. Dengan kata lain, debar jantung dan rindu yang menggebu memang memiliki dasar biologis. Masalah muncul ketika sensasi yang kuat itu dianggap sebagai bukti kedalaman cinta, padahal intensitas tidak sama dengan kedalaman.
Psikolog Robert Sternberg (1986) merumuskan teori segitiga cinta yang terdiri atas keintiman, gairah, dan komitmen. Hubungan yang hanya berisi gairah ia sebut infatuation, yakni cinta yang membara tetapi dangkal.
Cinta yang utuh baru terwujud ketika ketiga unsur itu hadir bersama. Kerangka ini menunjukkan bahwa gairah memang bagian dari cinta, tetapi bukan keseluruhannya. Ketika berdiri sendirian, gairah mudah menyamar sebagai cinta karena sama-sama menghadirkan rasa bahagia dan keinginan untuk terus dekat. Perbedaannya baru tampak ketika waktu mulai menguji.
Erich Fromm (1956) dalam bukunya The Art of Loving menegaskan bahwa cinta bukan sekadar perasaan yang menimpa seseorang, melainkan seni yang menuntut perhatian, tanggung jawab, rasa hormat, dan pengetahuan tentang orang yang dicintai. Bagi Fromm, cinta adalah tindakan memberi, bukan upaya memiliki.
Dengan ukuran ini, perbedaannya menjadi jelas. Hasrat bertanya, “Apa yang bisa saya dapatkan darimu?” sedangkan cinta bertanya, “Bagaimana saya bisa menumbuhkanmu?” Hasrat berpusat pada pemenuhan diri, sementara cinta bergerak menuju kebaikan orang lain.
Lantas, bagaimana mengenali hasrat yang sedang menyamar? Setidaknya ada tiga tanda yang patut diwaspadai.
Pertama, ketergesaan. Hasrat menuntut segalanya serba cepat, mulai dari kedekatan, pengakuan, hingga kepastian, sedangkan cinta yang matang sabar untuk saling mengenal.
Kedua, idealisasi. Dorothy Tennov (1979) menyebut keadaan tergila-gila ini sebagai limerence, yaitu ketika seseorang memuja pujaannya dan nyaris tidak sanggup melihat kekurangannya. Pada titik itu, kita sebenarnya jatuh cinta pada bayangan yang kita ciptakan sendiri.
Ketiga, ketergantungan pada pemenuhan. Ketika keinginan tidak terpenuhi, hasrat mudah berubah menjadi kecewa, marah, bahkan sikap mengendalikan, sedangkan cinta tidak lenyap hanya karena satu harapan tak terwujud.
Tanda-tanda tersebut tidak otomatis berarti perasaan kita palsu. Seseorang bisa saja memulai dengan hasrat yang besar, lalu belajar mencintai dengan sungguh-sungguh. Yang bermasalah adalah ketika kita berhenti pada tahap pertama dan enggan bertanya lebih jauh. Kejujuran terhadap diri sendiri menjadi syarat utama, sebab kita sering lebih mahir membohongi diri sendiri daripada orang lain.
Budaya kontemporer turut memperparah kebingungan ini. Media sosial menyajikan romansa sebagai tontonan, lengkap dengan kado mewah, foto mesra, dan kata-kata manis yang dipertunjukkan.
Kita pun belajar bahwa cinta harus terasa menggebu setiap saat, sehingga ketenangan sering disalahartikan sebagai kehambaran. Padahal, Hatfield dan Walster (1978) membedakan cinta bergairah (passionate love) dari cinta persahabatan (companionate love).
Yang pertama cenderung mereda seiring waktu, sedangkan yang kedua tumbuh lebih tenang namun lebih kokoh. Banyak hubungan kandas bukan karena cinta telah mati, melainkan karena hasrat memudar dan pasangan keliru mengira semuanya sudah berakhir.
Dalam kehidupan sehari-hari, kekeliruan ini sering tampak pada hubungan yang dibangun di atas kesan pertama dan rayuan. Kita terbiasa memuji perasaan yang meledak-ledak sebagai tanda “jodoh”, lalu menafsirkan keraguan sebagai tanda tidak cocok. Padahal, perasaan yang kuat hanya menceritakan keadaan batin kita, bukan watak orang yang kita sukai.
Karakter seseorang baru terlihat dari cara ia memperlakukan orang lain, menghadapi tekanan, mengakui kesalahan, dan memegang janji. Semua itu tidak bisa dibaca dari getaran sesaat, melainkan hanya dari waktu dan pengamatan yang tenang.
Konsekuensi dari salah mengenali ini nyata. Hasrat yang disangka cinta melahirkan keputusan tergesa, seperti menikah tanpa saling mengenal, bertahan dalam hubungan yang menyakitkan, atau berpindah dari satu orang ke orang lain demi mengejar sensasi awal.
Hubungan yang berdiri hanya di atas hasrat juga rapuh, sebab begitu sensasinya habis, tidak ada lagi fondasi yang menopangnya. Di sisi lain, ada luka yang diam-diam menumpuk ketika seseorang merasa dicintai padahal hanya diinginkan.
Kabar baiknya, hasrat dapat bertransformasi menjadi cinta. Prosesnya tidak instan. Ia dimulai dari kemauan untuk mendengarkan, menghargai batas, dan hadir dalam keseharian yang biasa-biasa saja, termasuk saat bosan atau berbeda pendapat. Di sanalah komitmen dan keintiman, dua unsur lain dalam teori Sternberg, perlahan tumbuh dan menyempurnakan gairah yang semula berdiri sendirian.
Beberapa pertanyaan reflektif dapat membantu kita bersikap jujur. Apakah saya mencintai orangnya, atau perasaan yang ia timbulkan pada saya? Apakah saya tetap peduli ketika ia tidak memberi apa-apa? Mampukah saya menerima kekurangannya? Apakah hubungan ini membuat kami sama-sama bertumbuh?
Pertanyaan-pertanyaan ini tidak dimaksudkan untuk mematikan perasaan, melainkan untuk menjernihkannya. Jawaban jujur atas pertanyaan tersebut sering kali lebih berharga daripada seribu kata rayuan. Waktu pun menjadi hakim yang adil, sebab hasrat cenderung gugur oleh ujian, sedangkan cinta biasanya justru menguat karenanya.
Pada akhirnya, hasrat dan cinta tidak harus dipertentangkan. Hasrat dapat menjadi pintu masuk, tetapi cinta adalah rumah yang dibangun sesudahnya, dengan kejujuran, komitmen, dan kerelaan untuk memberi
Tugas kita bukan memadamkan hasrat, melainkan berhenti menyerahkan kemudi hidup kepadanya. Sebab, hanya mereka yang berani membedakan keduanya yang akan terhindar dari penyamaran paling halus dalam urusan hati.
Daftar Pustaka:
- Aron, A., Fisher, H., Mashek, D. J., Strong, G., Li, H., & Brown, L. L. (2005). Reward, motivation, and emotion systems associated with early-stage intense romantic love. Journal of Neurophysiology, 94(1), 327–337.
- Fisher, H. (2004). Why we love: The nature and chemistry of romantic love. New York: Henry Holt.
- Fromm, E. (1956). The art of loving. New York: Harper & Row.
- Hatfield, E., & Walster, G. W. (1978). A new look at love. Reading, MA: Addison-Wesley.
- Sternberg, R. J. (1986). A triangular theory of love. Psychological Review, 93(2), 119–135.
- Tennov, D. (1979). Love and limerence: The experience of being in love. New York: Stein and Day.













