Opini  

Renungan Pentakosta: Roh Kudus Menjadikan Gereja yang Hidup, Bersatu, dan Diutus

Renungan oleh RD. Andy Latu Batara

MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Hari ini Gereja merayakan Hari Raya Pentakosta, hari ketika Roh Kudus dicurahkan atas para rasul.

Peristiwa ini bukan hanya kenangan sejarah iman, tetapi pengalaman nyata bahwa Allah tetap bekerja dalam hidup Gereja sampai hari ini.

Dalam bacaan pertama, Kisah Para Rasul (2:1-11), para rasul yang sebelumnya takut dan bersembunyi berubah menjadi pribadi yang berani bersaksi.

Roh Kudus turun seperti tiupan angin keras dan lidah-lidah api. Mereka berbicara dalam berbagai bahasa, dan semua orang dapat mendengar karya Allah dalam bahasa mereka sendiri.

Pentakosta mengajarkan bahwa Roh Kudus mempersatukan perbedaan. Bahasa yang berbeda tidak lagi menjadi penghalang, tetapi menjadi jembatan kasih.

Gereja lahir sebagai persekutuan yang terbuka bagi semua bangsa dan semua orang.

Dalam bacaan kedua, Surat Pertama kepada Jemaat di Korintus (12:3b-7.12-12), Santo Paulus menegaskan bahwa karunia Roh itu bermacam-macam, tetapi semuanya berasal dari Roh yang sama.

Ada yang diberi kemampuan memimpin, melayani, mengajar, menghibur, dan membangun persekutuan. Semua karunia itu bukan untuk mencari pujian diri, melainkan untuk kepentingan bersama.

Karena itu, tidak ada anggota Gereja yang tidak penting. Setiap orang memiliki tempat dan tugas dalam karya keselamatan Allah.

Roh Kudus bekerja melalui anak-anak, kaum muda, orang tua, imam, biarawan-biarawati, maupun umat sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

Lalu dalam Injil (Yohanes 20:19-23), Yesus datang kepada para murid yang sedang ketakutan di ruang tertutup.

Kata pertama yang diucapkan-Nya adalah: “Damai sejahtera bagi kamu.” Sesudah itu Yesus mengembusi mereka dan berkata: “Terimalah Roh Kudus.”

Saudara-saudari, Roh Kudus selalu menghadirkan damai, bukan ketakutan. Roh Kudus membuka pintu hati yang tertutup.

Roh Kudus memberi keberanian untuk keluar dari rasa nyaman dan menjadi saksi Kristus di tengah dunia.

Semangat ini juga sejalan dengan arah pastoral Keuskupan Ruteng dalam Sinode IV: Gereja dipanggil menjadi Gereja yang berjalan bersama, mendengarkan, melayani, dan menghadirkan harapan bagi umat.

Gereja tidak boleh hanya sibuk di dalam tembok gereja, tetapi harus hadir di tengah masyarakat: memperhatikan keluarga, kaum kecil, orang sakit, kaum muda, pendidikan, keadilan sosial, dan kelestarian lingkungan hidup.

Roh Kudus mendorong kita untuk membangun Gereja yang:
* lebih peduli daripada menghakimi,
* lebih mendengarkan daripada menyalahkan,
* lebih melayani daripada dilayani,
* dan lebih mengutamakan persaudaraan daripada kepentingan pribadi.

Hari Raya Pentakosta menjadi ajakan bagi kita semua untuk membuka hati terhadap karya Roh Kudus. Jangan biarkan iri hati, kebencian, fitnah, atau perpecahan memadamkan api Roh Kudus dalam hidup kita.

Mari bertanya dalam hati: Apakah keluarga kita sudah menjadi tempat damai? Apakah lingkungan kita sudah menjadi ruang persaudaraan? Apakah kita sudah memakai talenta untuk melayani sesama?

Jika Roh Kudus sungguh hidup dalam diri kita, maka hidup kita akan menghasilkan buah-buah Roh: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan hati, dan penguasaan diri.

Saudara-saudari terkasih,
Pentakosta bukan hanya tentang turunnya Roh Kudus dua ribu tahun yang lalu. Pentakosta harus terjadi hari ini, dalam hati kita, keluarga kita, dan Gereja kita.

Semoga Roh Kudus: mengubah ketakutan menjadi keberanian, mengubah egoisme menjadi pelayanan, mengubah perpecahan menjadi persaudaraan, dan mengubah hidup kita menjadi kesaksian kasih Kristus. Amin.

Penulis: Nana Patris AgatEditor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *