Oleh: Sisilia Velma Oktaviani Lawi (Mahasiswa Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng)
PENA1NTT.COM – Di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi digital, budaya lokal menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Berbagai tren budaya dari luar dengan mudah masuk dan memengaruhi pola pikir, gaya hidup, serta cara pandang generasi muda. Akibatnya, tidak sedikit anak-anak dan remaja yang lebih mengenal budaya populer dari luar dibandingkan budaya yang tumbuh di lingkungan mereka sendiri.
Fenomena ini juga terjadi di Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT). Kekayaan budaya yang diwariskan oleh para leluhur perlahan menghadapi ancaman kehilangan ruang di tengah kehidupan generasi muda. Jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin berbagai warisan budaya yang selama ini menjadi identitas masyarakat Manggarai akan semakin terpinggirkan dan akhirnya hanya menjadi cerita dalam buku sejarah.
Salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk menjaga keberlangsungan budaya Manggarai adalah melalui dunia pendidikan. Sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki peran penting dalam menanamkan nilai-nilai budaya kepada peserta didik. Oleh karena itu, penerapan tarian adat sebagai kegiatan ekstrakurikuler merupakan salah satu strategi yang relevan dan efektif dalam upaya melestarikan budaya Manggarai.
Sekolah memiliki tanggung jawab yang lebih luas daripada sekadar mengejar capaian akademik. Pendidikan sejatinya bertujuan membentuk manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter, identitas, dan rasa bangga terhadap budayanya sendiri. Dalam konteks ini, kegiatan ekstrakurikuler berbasis budaya dapat menjadi sarana yang tepat untuk memperkenalkan sekaligus menanamkan kecintaan terhadap warisan leluhur.
Tarian adat Manggarai seperti Tari Caci, Tari Sae, maupun Tari Rangkuk Alu bukan sekadar pertunjukan seni yang menarik untuk disaksikan. Di balik setiap gerakan, irama, dan simbol yang terkandung di dalamnya terdapat nilai-nilai kehidupan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ketika tarian-tarian tersebut diajarkan secara rutin di sekolah, peserta didik tidak hanya belajar menari, tetapi juga memahami sejarah, filosofi, serta makna budaya yang menyertainya.
Melalui kegiatan ekstrakurikuler, siswa memperoleh kesempatan untuk terlibat langsung dalam praktik budaya, bukan hanya mengenalnya secara teoritis. Mereka belajar menghargai identitas daerahnya, memahami akar budayanya, serta merasakan kebanggaan menjadi bagian dari masyarakat Manggarai. Pengalaman seperti ini jauh lebih bermakna dibandingkan sekadar melihat dokumentasi budaya melalui media sosial atau layar gawai.
Manfaat dari penerapan tarian adat sebagai ekstrakurikuler juga sangat luas. Selain menjadi sarana pelestarian budaya, kegiatan ini mampu membentuk karakter peserta didik. Tari Caci, misalnya, mengajarkan nilai keberanian, sportivitas, pengendalian diri, serta penghormatan terhadap lawan. Nilai-nilai tersebut sangat relevan dalam kehidupan modern yang menuntut generasi muda memiliki kemampuan bersaing tanpa kehilangan sikap saling menghargai.
Di sisi lain, proses latihan yang dilakukan secara berkelompok dapat menumbuhkan semangat kerja sama dan solidaritas. Anak-anak belajar untuk saling mendukung, menghargai perbedaan kemampuan, serta bekerja bersama demi mencapai tujuan yang sama. Nilai-nilai seperti ini sejalan dengan semangat lonto leok, yaitu budaya musyawarah dan kebersamaan yang menjadi salah satu ciri khas masyarakat Manggarai.
Namun, keberhasilan program ini tentu membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Sekolah perlu memberikan ruang dan fasilitas yang memadai bagi kegiatan seni budaya. Guru dan pembina ekstrakurikuler juga harus mendapatkan dukungan agar mampu menjalankan program secara berkelanjutan.
Lebih dari itu, keterlibatan tokoh adat, seniman lokal, dan budayawan sangat penting untuk menjaga keaslian nilai budaya yang diajarkan kepada peserta didik. Kehadiran mereka dapat menjadi jembatan antara generasi tua sebagai pewaris budaya dengan generasi muda sebagai penerus budaya. Dengan demikian, proses pelestarian budaya tidak hanya berlangsung di atas kertas, tetapi benar-benar hidup dalam praktik pendidikan.
Pemerintah daerah juga memiliki peran strategis dalam mendukung upaya ini. Dukungan dapat diwujudkan melalui penyelenggaraan festival seni budaya antar-sekolah, pemberian bantuan sarana dan prasarana, serta penyusunan kebijakan yang mendorong pelestarian budaya lokal melalui pendidikan. Apabila seluruh pihak bergerak bersama, maka sekolah dapat menjadi pusat pengembangan budaya yang efektif dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, bagi masyarakat Manggarai, tarian adat bukan sekadar hiburan atau pertunjukan seni semata. Tarian adat adalah identitas, warisan sejarah, dan cerminan nilai-nilai luhur yang membentuk karakter masyarakat. Oleh karena itu, menghadirkan tarian adat sebagai kegiatan ekstrakurikuler di sekolah bukan hanya tentang melestarikan seni, melainkan juga menjaga jati diri generasi masa depan.
Melalui pendidikan, budaya dapat diwariskan dengan cara yang lebih sistematis dan berkelanjutan. Dengan mengenal, mempelajari, dan mencintai budaya sejak usia sekolah, generasi muda Manggarai akan tumbuh menjadi pribadi yang mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan akar budayanya.
Sebab sejauh apa pun mereka melangkah dan setinggi apa pun mereka meraih cita-cita, identitas budaya yang tertanam sejak dini akan selalu menjadi kompas yang menunjukkan jalan pulang kepada tanah leluhurnya.













