Opini  

Kecanduan Game Online dan Dampaknya pada kegiatan Rohani Remaja

Penulis: Theresia Ninu (Mahasiswi STIPAS St. Sirilus Ruteng)

MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Perkemangan teknologi digital membawa banyak hiburan instan bagi remaja, salah satunya melaluai game online.

Keseruan bermain dan intraksi virtual membuat remaja sering menghabiskan berjam-jam didepan layar.

Namun, ketika kesenangan ini berubah menjadi kecanduan, dampaknya tidak hanya prestasi belajar dan kesehatan mental, tetapi juga pada kehidupan rohani remaja.

Kecanduan game online membuat remaja sering mengabaikan waktu untuk doa, refleksi spiritual, dan kegiatan rohani lainnya.

Waktu yang seharusnya digunakan untuk pembangunan karakter, berinteraksi dengan keluarag, atau terlibat dalam pelayanan gereja, justru tersisa untuk bermain game.

Fenomena ini menjadi tantangan serius bagi pendidik, orang tua, dan komunitas gereja, karena berpotensi melemahkan pembentukan nilai moral dan pengendalian diri pada remaja.

World Health Organization (WHO) secara resmi memasukkan Gaming Disoder ke dalam International Classification of Diseases (ICD-11) pada tahun 2019.

Gangguan ini ditandai dengan hilangnya kontrol terhadap kebiasaan bermain game, meningkatnya prioritas pada game dibandingkan aktivitas lain, serta tetap bermain meskipun telah menimbuikan dampak negatif dalam kehidupan pribadi, sosial, pendidikan, maupun pekerjaan.

Pengakuan ini menunjukan bahwa kecanduan game bukan sekedar kebiasaan, tetapi dapat menjadi gangguan serius yang memengaruhi perkembangan remaja.

Masa remaja merupakan priode pembentukan identitas dan karakter. Ketika kontrol diri lemah, remaja rentan mengalami gangguan konsentrasi, penurunan motivaasi brlajar, serta konflik dalam keluarga.

Menurut American Psychological Association (APA), penggunaan game secara berlebihan dapat berkaitan dengan gangguan manajemen waktu, penurunan prestasi akademik, serta meningkatnya resiko stress dan masalah emosioanal pada remaja. Hal ini menunjukan pentingnya keseimbangan dalam penggunaan teknologi digital.

Dari prefektif gereja, remaja adalah pribadi yang memiliki martabat dan panggilan untuk hidup sesuai dengan kehendak Tuhan.

Gereja menekankan nilai pengendalian diri, disiplin, tanggung jawab, dan kesadaran rohani sebagai fondasi kehidupan.

Pendidikan karakter menjadi sarana penting untuk membimbing remaja remaja agar dapat menyimbangkan hiburan digital dengan kewajiban rohani dan sosial.

Nilai- nilai moral yang tertanam melalui pendidikan karakter membantu remaja menahan godaan dunia maya dan tetap pada pertumbuhan iman.

Alkitab menekankan pentingnya pengendalian diri sebagai bagian dari pertumbuhan iman (Galatia 5:22-23).

Ketika remaja menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bermain game, kegiatan seperti doa, membaca Allkitab, pelayanan gereja dan persekutuaan menjadi terabaikan.

Akibatnya pertumbuhan iman dan pembentukan karakter rohani dapat terhambat. Dalam konteks ini, kecandun game online menjadi bukan hanya persoalan hiburan, tetapi juga tantangan spiritual.

UNESCO menekankan pentingnya literasi digital dan pendidikan karakter dalam menghadapi era teknologi.

Remaja perlu dibimbing untuk menggunakan teknologi secara bijaksana dan bertanggung jawab. Pendidikan karakter membantu menanmkan nilai disiplin, tanggung jawab.

Selain itu, penelitian dari Pew Research Center menunjukan bahwa pengawasan dan komunikasi yang baik antara orang tua dan anak berperan penting dalam mengurangi danpak negatif penggunaan media digital, terutama game online.

Peran orang tua, guru, dan pendaming rohani sangat penting. Mereka dapat membimbing remaja mengenal dampak kecanduan, menetapkan batasan waktu bermain, dan mendorong kegiatan positif.

Misalnya; mengatur jadwal bermain game, memanffatkan waktu luang untuk kegiatan kreatif, pelayanan atau refleksi spiritual.

Pendampingan ini membantu remaja menyadari pntingnya tanggung jawab pribadi, menjaga keseimbangan hidup, dan menumbuhkan disiplin serta karakter yang kuat.

Peran orang tua, guru, dan pembimbing rohani sangat penting dalam menetukan: menetapkan batasan waktu bermain, mengarahkan remaja pada kegiatan positif, mendorong keterlibatan dalam pelayanan gereja, membantu remaja memahami tanggung jawab pribadi.

Kecanduan game online bukan sekedar, masalah hibur, tetapi tantangan rohani dan pendidikan.

Dengan pendidikan karakter dan bimbingan iman yang konsisten, remaja maupun mengendalikan diri, menjaga prestasi belajar, dan tetap selaras dengan nilai-nilai iman.

Disiplin pengendalian diri, dan kesadaran rohani menjadi benteng utama agar remaja dapat menikmati hiburan digital secara sehat tanpa kehilangan arah.

Singkatnya game online bisa menjadi hiburan positif jika digunakan dengan bijak. Namun kecanduan membawa dampak serius pada rohani remaja.

Pendidikan karakter dan bimbingan iman menjadi kunci agar remaja tumbuh seimbang, bertanggung jawab, dan berkarakter, sehingga setiap selaras dengan kehendak Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan demikian pendampingan yang konsisten, remaja dapat belajar mengatur waktu dan menjaga keseimbangan antara hiburan, pendidikan, dan kehidupan rohani.

Game online pada dasarnya dapat menjadi hiburan yang baik jika digunakan secara bijaksana.

Namun ketika berubah menjadi kecanduan, dampaknya tidak hanya memengaruhi prestasi akademik, dan kesehatan mental, tetapi juga kehidupan rohani remaja.

Oleh karena itu, pendidikan karakter, literasi digital serta pendampingan iman yang konsisten dari keluarga dan gereja menjadi kunci penting dalam membentuk remaja yang disiplin, bertanggung jawab dan memiliki pengendalian diri.

Dengan demikian, remaja dapat menikmati teknologi secara sehat tanpa kehilangan arah dalam pertumbuhan iman dan kehidupan sosialnya.

Penulis: Nana Patris AgatEditor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *