Oleh: Elviana Evarista Sari Mahasiswa Prodi Pendidikan Keagamaan Katolik, STIPAS Santo Sirilus Ruteng Program Makan…
Darurat Literasi: Ketika Buku Kalah Bersaing dengan Layar
Oleh: Yohana Kurniati Dalmun Mahasiswa STIPAS St. Sirilus Ruteng PENA1NTT.COM– Bayangkan sebuah ruang kelas di…
Generasi Digital Menuju 2045: Emas yang Nyata atau Sekadar Ilusi?
Oleh: Hermin Efrolinda Setia Mahasiswi STIPAS St. Sirilus Ruteng PENA1NTT.COM– Indonesia memiliki visi besar menuju…
Darurat Mitigasi Bencana di Lamba Leda: Belajar dari Tragedi Goreng Meni
Oleh: Titinda Ayu Terija Yesindi Mahasiswa Prodi Pendidikan Keagamaan…
Teknologi sebagai Katalisator Bisnis Tanpa Modal Besar bagi Wirausaha Muda Indonesia
Oleh: Maria Delina Naes …
Persaudaraan di Era Hiper-Konektivitas: Panggilan Mendesak di Tengah Dunia yang Terbelah
Oleh: Yarastika Monika (25231714) Mahasiswa Program Studi pendidikan keagamaan katolik Stipas…
Krisis Literasi: Ketika Membaca Tak Lagi Dicintai
Oleh: Kunigunda Dahul Mahasiswa Prodi Pendidikan Keagamaan Katolik STIPAS ST.Sirilus Ruteng PENA1NTT.COM – Literasi membaca…
Pendidikan Gratis, Bukan Makan Siang Gratis: Catatan Mahasiswa atas Tragedi Kematian Anak SD di Ngada
Oleh: Yustina Narti Ajon (25231733) Program Studi Pendidikan Keagamaan Katolik, Stipas St. Sirilus Ruteng PENA1NTT.COM-…
OPINI Rentenir Berkedok Koperasi: Menolong Sesaat Menjerat Selamanya
Penulis: Olga Joy Purnama (Sekretaris Jenderal PMKRI Cabang Ruteng St. Agustinus)
Gizi Menjelma Tragedi: Quo Vadis Makan Beracun Gratis!
Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebutkan jumlah rasio keracunan sangat kecil dari total penerima manfaat merupakan bentuk kegagalan komunikasi publik yang nihil empati.
Tidak Ada Postingan Lagi.
Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.

