Penulis: Anjelika Esa Depu (Mahasiswi STIPAS St. Sirilus Ruteng)
MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Perkembangan teknologi informasi membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Kehadiran media sosial mempermudah manusia dalam memperoleh informasi, berkomunikasi, dan menyampaikan pendapat.
Namun, di balik manfaat tersebut, muncul ancaman serius berupa penyebaran hoaks atau berita bohong.
Hoaks menjadi salah satu masalah yang dapat mengganggu ketahanan nasional Indonesia karena mampu memengaruhi pola pikir masyarakat, menimbulkan konflik, serta merusak persatuan bangsa.
Indonesia merupakan negara yang memiliki keberagaman suku, agama, budaya, dan bahasa. Keberagaman ini menjadi kekuatan bangsa apabila dijaga dengan baik, tetapi juga dapat menjadi kelemahan jika dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk menyebarkan informasi palsu.
Saat ini, banyak hoaks yang beredar melalui media sosial seperti Facebook, Instagram, TikTok, dan WhatsApp.
Informasi yang belum tentu benar sering kali langsung dipercaya dan dibagikan tanpa adanya proses pengecekan terlebih dahulu. Akibatnya, masyarakat mudah terprovokasi dan muncul perpecahan di tengah kehidupan sosial.
Menurut pendapat saya, ancaman hoaks terhadap ketahanan nasional sangat berbahaya karena menyerang kesadaran dan pola pikir masyarakat.
Ketahanan nasional tidak hanya berkaitan dengan kekuatan militer, tetapi juga mencakup persatuan, stabilitas politik, keamanan sosial, dan kepercayaan masyarakat terhadap negara.
Jika masyarakat terus-menerus dipengaruhi oleh berita bohong, maka rasa percaya kepada pemerintah, lembaga negara, maupun sesama warga akan menurun. Kondisi ini dapat memicu konflik sosial yang mengancam persatuan bangsa.
Salah satu contoh nyata adalah penyebaran hoaks saat pemilu atau kegiatan politik. Banyak informasi palsu dibuat untuk menjatuhkan pihak tertentu dan memengaruhi pilihan masyarakat.
Hoaks politik biasanya berisi fitnah, ujaran kebencian, dan provokasi yang dapat menimbulkan permusuhan antarkelompok.
Akibatnya, masyarakat menjadi terpecah hanya karena perbedaan pilihan politik. Jika situasi ini terus terjadi, maka stabilitas nasional dapat terganggu dan demokrasi Indonesia menjadi lemah.
Selain dalam bidang politik, hoaks juga berdampak pada bidang kesehatan dan ekonomi. Pada masa pandemi Covid-19, banyak berita palsu yang beredar mengenai vaksin, obat-obatan, dan kondisi kesehatan masyarakat.
Beberapa orang percaya bahwa vaksin berbahaya sehingga menolak program vaksinasi pemerintah. Akibatnya, penanganan pandemi menjadi terhambat.
Dalam bidang ekonomi, hoaks dapat menyebabkan kepanikan masyarakat, misalnya berita palsu tentang kenaikan harga barang atau krisis ekonomi. Kepanikan tersebut dapat memengaruhi kestabilan pasar dan merugikan masyarakat luas.
Ancaman hoaks semakin besar karena rendahnya literasi digital masyarakat. Masih banyak orang yang belum mampu membedakan informasi benar dan informasi palsu.
Sebagian masyarakat hanya membaca judul berita tanpa memeriksa isi dan sumbernya. Bahkan, ada juga yang sengaja menyebarkan hoaks demi mendapatkan perhatian atau keuntungan tertentu.
Oleh karena itu, pendidikan literasi digital sangat penting agar masyarakat lebih bijak dalam menggunakan media sosial.
Menurut saya, upaya melawan hoaks tidak hanya menjadi tugas pemerintah, tetapi juga tanggung jawab seluruh masyarakat Indonesia. Pemerintah memang memiliki peran penting dalam membuat aturan dan menindak penyebar berita palsu.
Namun, masyarakat juga harus memiliki kesadaran untuk tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum jelas kebenarannya.
Sebelum membagikan berita, seseorang perlu memeriksa sumber informasi, membandingkan dengan media terpercaya, dan memastikan fakta yang sebenarnya.
Selain itu, sekolah dan keluarga juga memiliki peran penting dalam membentuk sikap kritis generasi muda.
Pendidikan mengenai penggunaan media sosial yang baik harus diberikan sejak dini agar anak-anak dan remaja tidak mudah terpengaruh oleh informasi palsu.
Generasi muda perlu diajarkan untuk berpikir kritis, menghargai perbedaan pendapat, dan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.
Media massa juga harus menjalankan fungsi edukasi kepada masyarakat. Media yang profesional harus menyajikan informasi yang akurat, objektif, dan dapat dipercaya.
Di sisi lain, masyarakat perlu mendukung media yang kredibel dan tidak mudah terpengaruh oleh akun-akun anonim yang menyebarkan provokasi.
Dengan adanya kerja sama antara pemerintah, media, dan masyarakat, penyebaran hoaks dapat diminimalkan.
Kesimpulannya, hoaks merupakan ancaman nyata terhadap ketahanan nasional Indonesia karena dapat merusak persatuan, menimbulkan konflik sosial, dan melemahkan kepercayaan masyarakat terhadap negara.
Di era digital saat ini, masyarakat harus lebih bijak dalam menerima dan menyebarkan informasi. Literasi digital, sikap kritis, dan kesadaran bersama menjadi kunci utama dalam melawan hoaks.
Jika seluruh elemen masyarakat mampu bekerja sama menjaga kebenaran informasi, maka ketahanan nasional Indonesia akan tetap kuat dan persatuan bangsa dapat terpelihara.













