Budaya Manggarai di Tengah Arus Kehidupan Anak Muda Masa Kini: Bertahan atau Perlahan Hilang?

Aldianus Ari Sangputra Galis (Mahasiswa Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng)

Oleh: Aldianus Ari Sangputra Galis (Mahasiswa Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng)

PENA1NTT.COM– Perubahan zaman yang berlangsung begitu cepat membawa banyak dampak bagi kehidupan masyarakat, termasuk terhadap keberlangsungan budaya lokal. Di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi digital, budaya Manggarai kini menghadapi tantangan yang tidak ringan. Generasi muda yang seharusnya menjadi pewaris budaya justru semakin akrab dengan budaya luar dibandingkan budaya yang lahir dan tumbuh di tanah leluhurnya sendiri.

Fenomena ini dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari. Banyak anak muda lebih mengenal tren media sosial, budaya populer dari luar negeri, atau gaya hidup modern yang sedang viral dibandingkan sejarah, adat, dan nilai-nilai budaya Manggarai. Tidak sedikit yang mampu mengikuti perkembangan tren digital secara cepat, tetapi kurang memahami makna lonto leok, tudak, tradisi adat, maupun nilai-nilai yang diwariskan oleh para leluhur.

Padahal, budaya Manggarai bukan sekadar warisan masa lalu. Di dalamnya terdapat nilai-nilai kehidupan yang tetap relevan hingga saat ini, seperti semangat kebersamaan, penghormatan kepada orang tua, musyawarah dalam mengambil keputusan, solidaritas sosial, dan rasa tanggung jawab terhadap komunitas. Nilai-nilai tersebut justru menjadi fondasi penting dalam menghadapi kehidupan modern yang semakin individualistis.

Ase ka’e, keta toe manga perhatian agu budaya diong, bisa wae lonto leok, tudak, ata empo agu adat istiadat perlahan lako hilang.

Jika budaya sendiri tidak lagi mendapat perhatian, bukan tidak mungkin berbagai tradisi dan kearifan lokal yang selama ini menjadi identitas masyarakat Manggarai akan perlahan memudar dan akhirnya hanya tinggal cerita.

Modernisasi memang tidak dapat dihindari. Kehadiran internet dan media sosial telah membuka akses yang luas terhadap berbagai informasi dan budaya dari seluruh dunia. Anak muda Manggarai hari ini hidup dalam lingkungan yang jauh berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Cara berpakaian, cara berbicara, hingga pola pergaulan banyak dipengaruhi oleh tren global yang setiap hari muncul di layar ponsel.

Mengikuti perkembangan zaman tentu bukan sesuatu yang salah. Namun persoalannya muncul ketika modernisasi dipahami sebagai alasan untuk meninggalkan budaya sendiri. Tidak jarang kita menemukan anak muda yang lebih bangga meniru budaya luar daripada memperkenalkan identitas daerahnya. Bahkan, dalam beberapa situasi, budaya lokal dianggap kuno dan tidak lagi sesuai dengan kehidupan masa kini.

Salah satu tanda yang paling terlihat adalah semakin berkurangnya penggunaan bahasa Manggarai di kalangan generasi muda. Banyak anak muda lebih nyaman menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa gaul dalam percakapan sehari-hari. Sebagian bahkan merasa malu berbicara menggunakan bahasa Manggarai karena khawatir dianggap tidak modern.

Padahal bahasa adalah jiwa dari sebuah budaya. Ketika bahasa mulai ditinggalkan, perlahan-lahan berbagai nilai, filosofi, dan cara pandang hidup yang terkandung di dalamnya juga ikut menghilang. Bahasa daerah bukan hanya alat komunikasi, melainkan identitas yang membedakan suatu masyarakat dengan masyarakat lainnya.

Keta toe ngo bahasa Manggarai, bisa susah ge memahami adat agu nilai kehidupan one budaya diong.” Ketika generasi muda tidak lagi memahami bahasa Manggarai, mereka juga akan semakin jauh dari pemahaman terhadap adat dan kearifan lokal yang diwariskan oleh leluhur.

Selain bahasa, nilai kebersamaan yang selama ini menjadi ciri khas masyarakat Manggarai juga mulai mengalami pergeseran. Dahulu semangat gotong royong hidup kuat dalam kehidupan masyarakat. Ketika ada pembangunan rumah, pesta adat, atau kegiatan sosial lainnya, masyarakat datang membantu tanpa perlu diminta. Kebersamaan bukan sekadar slogan, tetapi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Saat ini tradisi tersebut memang masih dapat ditemukan di banyak kampung, tetapi intensitasnya mulai berkurang. Kesibukan pekerjaan, pengaruh teknologi, serta pola hidup yang semakin individualis membuat interaksi sosial tidak lagi seerat dahulu. Anak muda sering kali lebih banyak menghabiskan waktu di dunia digital dibandingkan terlibat dalam kegiatan sosial dan adat di lingkungan sekitarnya.

Meski demikian, kondisi ini bukan alasan untuk pesimis terhadap masa depan budaya Manggarai. Justru generasi muda memiliki peluang besar untuk menjadi pelopor pelestarian budaya di era digital. Menjaga budaya tidak selalu harus dilakukan melalui kegiatan besar atau program formal. Langkah sederhana seperti menggunakan bahasa Manggarai di rumah, mengikuti kegiatan adat, mempelajari sejarah kampung, atau memahami filosofi budaya lokal merupakan bentuk nyata pelestarian budaya.

Di sisi lain, teknologi yang sering dianggap sebagai ancaman sebenarnya dapat menjadi sarana yang sangat efektif untuk memperkenalkan budaya Manggarai kepada dunia. Media sosial dapat dimanfaatkan untuk membagikan konten tentang bahasa Manggarai, tarian tradisional, makanan khas, cerita rakyat, musik daerah, hingga nilai-nilai adat yang unik. Dengan cara ini, budaya tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu berkembang dan dikenal oleh generasi yang lebih luas.

Sudah banyak contoh bagaimana budaya lokal dari berbagai daerah berhasil mendapatkan perhatian nasional bahkan internasional berkat pemanfaatan teknologi digital. Manggarai juga memiliki potensi yang sama apabila generasi mudanya mampu menggabungkan kecintaan terhadap budaya dengan kreativitas dalam memanfaatkan teknologi.

Pada akhirnya, masa depan budaya Manggarai berada di tangan generasi saat ini. Budaya tidak akan hilang karena perkembangan zaman semata, tetapi bisa hilang karena ditinggalkan oleh pewarisnya sendiri. Sebaliknya, budaya akan tetap hidup jika generasi muda memiliki rasa bangga, rasa memiliki, dan kemauan untuk terus merawatnya.

“Ai ata Manggarai tetap ata Manggarai, neka po’ong salang agu budaya diong ai hitu bagian penting one identitas diong.”

Menjadi modern tidak berarti harus meninggalkan akar budaya. Justru di tengah dunia yang semakin terbuka, identitas budaya menjadi kekuatan yang membuat suatu masyarakat tetap dikenal dan dihargai. Karena itu, tugas generasi muda Manggarai hari ini bukan memilih antara budaya dan modernitas, melainkan memastikan keduanya dapat berjalan beriringan demi menjaga warisan leluhur tetap hidup di masa depan.

Penulis: Irenius Putra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *