Opini oleh Angela Angul (Mahasiswi Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia UNIKA St. Paulus Ruteng)
MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Ketika berbicara tentang adat, sebagian orang mungkin menganggapnya sebagai sesuatu yang kuno, tradisional, dan perlahan ditinggalkan oleh perkembangan zaman.
Namun, bagi saya, adat bukanlah peninggalan masa lalu yang hanya layak dikenang dalam cerita atau dipentaskan dalam upacara-upacara budaya. Adat adalah jiwa yang hidup di dalam masyarakat. Adat adalah identitas yang membentuk cara berpikir, cara bertindak, dan cara manusia memandang kehidupan.
Hal tersebut juga berlaku dalam kehidupan masyarakat Manggarai. Adat Manggarai bukan sekadar kumpulan aturan, ritual, atau simbol budaya yang diwariskan oleh leluhur.
Lebih dari itu, adat Manggarai merupakan sumber nilai yang mengajarkan tentang kemanusiaan, persaudaraan, penghormatan terhadap alam, dan hubungan manusia dengan Tuhan.
Adat hadir dalam setiap aspek kehidupan masyarakat, mulai dari kelahiran hingga kematian, dari urusan keluarga hingga urusan kampung, dari hubungan antarindividu hingga hubungan dengan lingkungan sekitar.
Menurut saya, adat Manggarai adalah salah satu bentuk kearifan lokal yang memiliki kedalaman makna luar biasa.
Di tengah dunia yang semakin sibuk mengejar kemajuan material, adat Manggarai justru mengingatkan manusia tentang hal-hal yang sering terlupakan: pentingnya kebersamaan, rasa hormat, dan nilai kemanusiaan.
Adat Manggarai dan Makna Menjadi Manusia
Salah satu hal yang membuat saya kagum terhadap adat Manggarai adalah kemampuannya mengajarkan manusia untuk hidup sebagai manusia yang utuh.
Dalam kehidupan modern, manusia sering diukur berdasarkan jabatan, kekayaan, pendidikan, atau status sosial. Akibatnya, banyak orang lebih sibuk membangun citra daripada membangun karakter.
Namun, adat Manggarai mengajarkan sesuatu yang berbeda. Leluhur Manggarai tidak mewariskan ukuran keberhasilan berdasarkan seberapa banyak harta yang dimiliki seseorang.
Sebaliknya, mereka mengajarkan bahwa manusia yang baik adalah manusia yang mampu hidup bersama orang lain, menghormati sesama, menjaga persaudaraan, dan bertanggung jawab terhadap komunitasnya.
Bagi masyarakat Manggarai, manusia tidak pernah berdiri sendiri. Kehidupan seseorang selalu terhubung dengan keluarga, suku, kampung, dan masyarakat. Karena itu, setiap tindakan yang dilakukan seseorang tidak hanya berdampak pada dirinya sendiri, tetapi juga pada orang lain.
Menurut saya, filosofi ini sangat relevan untuk kehidupan saat ini. Ketika dunia semakin individualistis, adat Manggarai mengingatkan bahwa manusia pada hakikatnya adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain untuk bertumbuh dan berkembang.
Persaudaraan Sebagai Jantung Kehidupan Masyarakat Manggarai
Jika saya diminta menyebutkan satu nilai utama yang terkandung dalam adat Manggarai, maka saya akan menjawab: persaudaraan.
Persaudaraan dalam adat Manggarai bukan sekadar hubungan darah. Persaudaraan dipahami sebagai kesadaran bahwa setiap orang memiliki martabat yang harus dihormati.
Karena itu, masyarakat Manggarai selalu berusaha menjaga hubungan baik dengan sesama melalui musyawarah, gotong royong, dan berbagai bentuk kerja sama sosial.
Tradisi seperti Lonto Leok menunjukkan bagaimana masyarakat Manggarai menghargai dialog dan kebersamaan. Dalam tradisi tersebut, setiap orang diberi kesempatan untuk berbicara dan didengarkan. Tidak ada suara yang dianggap tidak penting. Semua orang memiliki tempat dalam kehidupan bersama.
Menurut saya, nilai ini sangat berharga. Di tengah kehidupan modern yang sering dipenuhi persaingan dan konflik, adat Manggarai mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada kemampuan mengalahkan orang lain, melainkan pada kemampuan merangkul dan berjalan bersama.
Adat sebagai Benteng Moral di Tengah Krisis Nilai
Dunia saat ini sedang mengalami banyak kemajuan. Teknologi berkembang dengan sangat cepat. Informasi dapat diakses dalam hitungan detik. Namun, di balik semua kemajuan tersebut, kita juga menyaksikan berbagai krisis moral yang mengkhawatirkan.
Korupsi, kekerasan, intoleransi, dan berbagai bentuk ketidakadilan masih terus terjadi. Banyak orang memiliki pengetahuan yang tinggi, tetapi kehilangan kebijaksanaan dalam menggunakan pengetahuannya. Banyak orang memiliki kemampuan berbicara, tetapi kehilangan kemampuan mendengar.
Dalam situasi seperti ini, saya melihat adat Manggarai sebagai benteng moral yang sangat penting. Adat mengajarkan kejujuran, tanggung jawab, penghormatan terhadap sesama, dan kesadaran bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi sosial. Nilai-nilai tersebut tidak hanya diajarkan melalui kata-kata, tetapi juga melalui praktik kehidupan sehari-hari.
Anak-anak belajar tentang tanggung jawab dari orang tua mereka. Generasi muda belajar tentang persaudaraan melalui keterlibatan dalam kegiatan adat. Dengan cara inilah adat membentuk karakter masyarakat.
Menurut saya, pendidikan modern dan adat seharusnya tidak dipertentangkan. Keduanya justru perlu berjalan bersama. Pendidikan memberikan ilmu pengetahuan, sedangkan adat memberikan kebijaksanaan dalam menggunakan ilmu tersebut.
Tantangan Terbesar: Melupakan Akar Budaya Sendiri
Anancaman terbesar terhadap adat Manggarai bukanlah modernisasi, melainkan sikap masyarakat yang mulai melupakan akar budayanya sendiri.
Saat ini banyak generasi muda yang mengenal budaya luar dengan sangat baik, tetapi kurang memahami budaya daerahnya sendiri. Mereka mampu mengikuti tren global, tetapi tidak memahami makna simbol-simbol budaya yang diwariskan oleh leluhur.
Menurut saya, keadaan ini sangat memprihatinkan. Sebab ketika suatu masyarakat kehilangan budayanya, mereka bukan hanya kehilangan tradisi, tetapi juga kehilangan sebagian dari identitas mereka.
Kemajuan memang penting. Namun kemajuan tanpa identitas akan membuat manusia kehilangan arah. Pohon yang tinggi tetap membutuhkan akar yang kuat.
Begitu pula manusia modern tetap membutuhkan nilai-nilai budaya sebagai fondasi kehidupannya. Karena itu, adat Manggarai harus terus diperkenalkan kepada generasi muda, bukan sebagai beban.
Adat Manggarai dan Harapan Masa Depan
Saya percaya bahwa adat Manggarai masih memiliki masa depan yang cerah. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tidak akan pernah usang karena berbicara tentang hal-hal mendasar yang selalu dibutuhkan manusia: cinta, persaudaraan, keadilan, penghormatan, dan kebersamaan.
Yang perlu dilakukan adalah menyesuaikan cara pewarisan adat dengan perkembangan zaman. Generasi muda harus diajak memahami makna adat, bukan sekadar menghafal ritualnya.
Mereka perlu mengetahui alasan mengapa leluhur menciptakan berbagai aturan dan tradisi tersebut. Jika hal ini dapat dilakukan, maka adat Manggarai tidak hanya akan bertahan, tetapi juga akan terus berkembang sebagai sumber nilai yang memperkaya kehidupan masyarakat modern.
Penutup
Bagi saya, adat Manggarai bukan sekadar warisan budaya yang harus dijaga karena alasan sejarah. Adat Manggarai adalah sekolah kehidupan yang mengajarkan manusia tentang arti kebersamaan, penghormatan, tanggung jawab, dan kemanusiaan.
Di tengah dunia yang terus berubah, adat Manggarai mengingatkan bahwa kemajuan sejati bukan hanya tentang teknologi dan pembangunan fisik, tetapi juga tentang kemampuan manusia untuk tetap menjaga nilai-nilai yang membuatnya menjadi manusia.
Jika suatu hari adat Manggarai hilang, yang hilang bukan hanya tarian, ritual, atau upacara adat. Yang hilang adalah cara masyarakat memahami kehidupan, cara mereka membangun persaudaraan, dan cara mereka menjaga kemanusiaan.
Karena itu, menjaga adat Manggarai bukan hanya tugas para tetua adat atau pemerintah. Menjaga adat Manggarai adalah tanggung jawab setiap generasi. Sebab di dalam adat itulah tersimpan suara leluhur, kebijaksanaan masa lalu, dan harapan untuk masa depan yang lebih bermartabat.
DAFTAR PUSTAKA
J. A. J. Verheijen. 1991. Manggarai dan Wujud Tertinggi. Jakarta: LIPI Press.
Maribeth Erb. 1999. The Manggaraians: A Guide to Traditional Life in West Flores. Jakarta: Indonesia Resources and Information Program.
Paul Arndt. 2009. Masyarakat Manggarai Flores Barat. Maumere: Penerbit Ledalero.
Kanisius Teobaldus Deki. 2011. Tradisi dan Nilai Budaya Manggarai. Ruteng: Nusa Indah.
M. J. H. P. M. C. B. B. Dami N. Toda. 1999. Manggarai Mencari Pencerahan Historiografi. Ende: Nusa Indah.
Yohanes S. Lon. 2018. Kamus Bahasa Indonesia–Manggarai. Ruteng: Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng.
Jagom, Bonifasius & Juhani, Sefrianus. 2023. “Korelasi Peribahasa Neka Behas Neho Kena, Neka Koas Neho Kota pada Masyarakat Manggarai dengan Sila Ketiga Pancasila”. Equilibrium: Jurnal Pendidikan.
Lobo, Leonardus & Dagur, Robertus A. 2018. “Kajian Nilai-Nilai Persatuan dalam Budaya Manggarai”. Jurnal Gatra Nusantara.
Jama, Kornelis B. 2021. “Kajian Nilai-Nilai Budaya dalam Go’et Masyarakat Manggarai”. Jurnal Lazuardi.
Salahuddin. 2023. “Life Values of Manggarai People as Reflected in the Oral Tradition Go’et”. Kanz Philosophia.
Daar, Gabriel Fredi & Beratha, Ni Luh Sutjiati. 2025. “Language Expression, Sense, and Denotatum Constructed from Go’et in Manggarai Language”. Linguistika.
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. 2023. Pelestarian Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Jakarta.
kemenbud.go.id. Diakses 4 Juni 2026.
kebudayaan.kemdikbud.go.id. Diakses 4 Juni 2026.
manggaraikab.go.id. Diakses 4 Juni 2026.
manggaraibaratkab.go.id. Diakses 4 Juni 2026.
manggaraitimurkab.go.id. Diakses 4 Juni 2026.
UNESCO. 2023. Intangible Cultural Heritage and Sustainable Development.
badanbahasa.kemdikbud.go.id. Diakses 4 Juni 2026.
Erb, Maribeth. 2006. Communities and the State in Contemporary Manggarai. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.













