Opini oleh Maria Yoanita Atris Lahus
MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Grup WhatsApp kelas kami belakangan ini terasa jauh lebih panas, tepatnya ketika semua orang membicarakan satu per satu tugas yang diberikan oleh dosen.
Di semester kedua ini, sukacita menjadi “mahasiswa baru” yang santai dan tidak terlalu tertantang perlahan mulai menghilang, digantikan oleh kenyataan kehidupan kampus yang sebenarnya.
Setiap kali memasuki lingkungan kampus, melihat pencapaian dan keterampilan teman seangkatan serta rekan sekelas seolah saling mendahului.
Si A memiliki teknik berkomunikasi yang nyaris sempurna, si B memiliki nilai sempurna di semua mata kuliah, dan si C mudah bergaul dan membangun koneksi dengan semua orang.
Sementara saya? Saya masih saja berdiam diri dan melihat keberhasilan orang lain. Saya masih saja menatap rentetan tugas yang struktur pengerjaannya belum sepenuhnya saya pahami. Pada akhirnya, muncul pertanyaan dalam diri: apakah saya salah mengambil jurusan?
Setiap hari saya merasa cemas. Saya merasa sesak dan pikiran saya tidak menentu. Selalu muncul pertanyaan yang terus menghantui batin: “Mengapa mereka bisa langsung melesat, sementara saya masih merangkak melewati semester dua ini?”
Saya akui perasaan tertinggal di awal masa kuliah adalah beban berat yang sering kita tanggung sendiri dalam diam.
Saat ini kita hidup di lingkaran kampus yang tanpa kita sadari mengharuskan kita untuk bisa menjadi mahasiswa yang sempurna dalam segala hal.
Pada masa awal masuk kuliah, kita harus menyesuaikan diri dengan sistematika pembelajaran di kampus dan cara belajar bersama dosen yang jelas berbeda dengan lingkungan SMA.
Kita mempelajari standar baru, kita pun harus berorganisasi, serta harus punya relasi yang luas. Karena itu, saya selalu merasa bahagia ketika tiba saat untuk kembali ke rumah. Hal ini terjadi karena saya merasa lelah dan selalu merasa tertinggal saat berada di lingkungan kampus.
Namun, seiring berjalannya waktu, saya menyadari satu hal yang saya lupakan saat melihat “kesempurnaan” rekan sekelas ataupun teman seangkatan, yaitu bahwa garis start setiap orang berbeda-beda.
Terkadang kita hanya melihat apa yang mereka tampilkan di permukaan. Kita tidak pernah tahu hal sulit apa yang telah mereka lalui untuk mencapai kesempurnaan itu.
Rasa cemas yang selalu kita rasakan mungkin juga mereka sembunyikan, atau betapa lelahnya terus berpura-pura tahu segalanya. Sebaliknya, kita juga sering mengabaikan perjuangan kita untuk mencapai tahap ini.
Bertransformasi dari siswa SMA yang selalu disuapi materi menjadi mahasiswa yang dituntut mandiri—walau terkadang kita juga masih disuapi materi oleh dosen kita.
Dari sini kita tahu bahwa setiap orang memiliki ritme adaptasi yang berbeda. Ada yang membutuhkan banyak waktu untuk mengerti penjelasan dosen, ada juga yang masih berjuang melawan rasa rindu rumah (homesick), dan ada juga yang masih saja bingung dengan minatnya sendiri.
Semua hal ini bersumber dari diri saya sendiri. Pada akhirnya, saya mengerti bahwa sejak awal semester saya sudah menyiksa batin saya dengan mengukur kecepatan saya dengan kecepatan orang lain.
Merangkak di semester dua bukan berarti kita gagal atau salah jurusan. Kuliah empat tahun ke depan adalah sebuah maraton yang panjang, bukan lari cepat seperti yang sudah ditentukan di tahun pertama kuliah.
Sebaiknya kita jangan memaksakan diri untuk langsung mengambil semua kesempatan karena kita hanya akan menemui satu titik akhir, yaitu kegagalan. Rasa lelah yang berlebihan di awal bisa merusak sisa semester kita berikutnya.
Berdamai dengan langkah sendiri di awal perkuliahan adalah tentang keberanian diri untuk menghargai proses penyesuaian kita sendiri.
Berhasil di tahun pertama bukan tentang siapa yang paling terkenal atau yang paling sibuk, melainkan tentang bagaimana kita mengenali kecepatan belajar kita sendiri dan membangun dasar yang kokoh untuk semester-semester yang akan datang.
Berhasil memahami penjelasan dosen dan berani menjawab pertanyaan dosen adalah kemenangan kecil yang patut dihargai.
Di sini saya mulai belajar untuk menurunkan ego saya dan tidak cemas melihat kecepatan teman-teman sekelas.
Jadikan kelebihan mereka sebagai bahan afirmasi diri bahwa kita juga bisa menjadi seperti mereka. Mari menutup mata sejenak dari kesempurnaan orang lain, lalu kembali fokus pada kuliah kita dan rentetan tugas kita sendiri.
Pada akhirnya, di tahun pertama perkuliahan ini, kita tidak sedang berlomba dengan siapa pun. Kita sedang belajar mengenali diri sendiri di lingkungan yang baru.
Jadi, pelankan langkahmu jika perubahan ini terasa menyesakkan batinmu. Tarik napas dalam-dalam, nikmati proses yang sedang mendewasakanmu ini, dan melangkahlah dengan bangga di atas kecepatanmu sendiri.
Sebab, setiap mahasiswa memiliki jalannya sendiri untuk berkembang. Memulai dengan pelan namun konsisten jauh lebih baik daripada berlari kencang di awal lalu tumbang sebelum waktunya.













