Opini  

Mengeluh Boleh, Menyerah Jangan: Kesadaran Mahasiswa terhadap Perjuangan dan Kesempatan

Opini oleh Yuliana Delsinta Saimun

MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Menjadi mahasiswa bukanlah hal yang mudah. Tugas yang menumpuk, tekanan nilai, rasa lelah, hingga masalah pribadi sering kali membuat banyak mahasiswa ingin menyerah.

Mengeluh karena lelah adalah hal yang wajar, sebab setiap orang memiliki batas kemampuan masing-masing.

Namun, di tengah rasa lelah itu, mahasiswa juga harus belajar bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk menempuh pendidikan di bangku kuliah.

Di luar sana, masih banyak orang yang ingin kuliah tetapi terhalang oleh keadaan ekonomi, kurangnya dukungan, atau keterbatasan kesempatan.

Ada yang harus bekerja membantu orang tua, ada yang rela mengubur mimpinya demi kebutuhan keluarga.

Sementara itu, tidak sedikit mahasiswa yang justru menyia-nyiakan kesempatan yang sudah diberikan.

Mereka memilih berhenti di tengah jalan karena malas, kehilangan semangat, atau lebih memikirkan hal lain daripada masa depannya sendiri.

Sebagai mahasiswa, kita perlu sadar bahwa perjuangan ini bukan hanya tentang diri sendiri.

Ada orang tua yang bekerja keras demi biaya kuliah, ada harapan keluarga yang dititipkan, dan ada pengorbanan yang mungkin tidak selalu terlihat.

Oleh karena itu, keputusan untuk menyerah seharusnya tidak dilakukan hanya karena rasa malas atau keinginan sesaat.

Menikah atau membangun keluarga bukanlah hal yang salah, tetapi pendidikan dan masa depan juga perlu dipikirkan dengan matang agar perjuangan yang sudah dimulai tidak berhenti begitu saja.

Menurut saya, mahasiswa boleh merasa lelah dan boleh mengeluh ketika keadaan terasa berat, tetapi jangan sampai menyerah.

Rasa syukur harus menjadi pengingat bahwa kesempatan kuliah adalah anugerah yang tidak dimiliki semua orang.

Bertahan dalam proses pendidikan berarti menghargai perjuangan diri sendiri, orang tua, dan mimpi yang sejak awal ingin diwujudkan.

Oleh karena itu, marilah menjadi mahasiswa yang tidak hanya pandai bermimpi, tetapi juga kuat dalam berjuang.

Mengeluh boleh, menangis boleh, istirahat juga boleh, tetapi jangan berhenti di tengah jalan. Sebab, masa depan tidak dibangun dari rasa malas, melainkan dari usaha, rasa syukur, dan ketekunan untuk terus melangkah.

Penulis: Nana Patris AgatEditor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *