Opini  

Bela Negara: Peran Pemuda dalam Mempertahankan Kedaulatan Nkri

Penulis: Maria Kalista Aprilia Jayansi (Mahasiswi STIPAS St. Sirilus Ruteng)

MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Di tengah perkembangan teknologi dan arus globalisasi yang semakin cepat, pemuda Indonesia memiliki peluang besar untuk menunjukkan perannya dalam menjaga bangsa dan negara.

Bela negara di era modern tidak lagi hanya dipahami sebagai tugas tentara atau aparat keamanan, tetapi juga menjadi tanggung jawab seluruh masyarakat, terutama generasi muda.

Saat ini, menjaga persatuan, menggunakan media sosial secara bijak, melawan hoaks, dan menanamkan rasa cinta tanah air merupakan bentuk nyata bela negara yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan perkembangan teknologi, pemuda justru memiliki ruang yang lebih luas untuk menyebarkan nilai-nilai positif dan memperkuat semangat kebangsaan.

Di sisi lain, media sosial dan kemajuan digital sebenarnya dapat menjadi sarana bagi pemuda untuk membawa perubahan yang baik bagi Indonesia.

Hal positifnya adalah masih ada anak muda yang mulai menggunakan platform digital untuk menyuarakan pendidikan, memperkenalkan budaya lokal, mendukung produk dalam negeri, hingga mengajak masyarakat menjaga persatuan.

Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak generasi muda memiliki potensi besar untuk menjadi agen perubahan bagi bangsa.

Para pemuda atau anak muda perlu menyadari bahwa mereka termasuk saya bukan hanya penikmat perkembangan zaman, tetapi juga generasi penerus yang memiliki tanggung jawab untuk menjaga kedaulatan dan masa depan NKRI.

Tantangan Pemuda Masa Kini

Namun, sebagai mahasiswa sekaligus anak muda bangsa, saya melihat bahwa ancaman terhadap NKRI hari ini justru datang dari dalam masyarakat sendiri.

Selain banyak anak muda yang melakukan hal positif sebagai bentuk dukungan terhadap masa depan NKRI, di sisi lain juga masih banyak pula anak muda yang terpengaruh dengan penyebaran berita palsu, ujaran kebencian, intoleransi, hingga sikap individualis semakin berkembang.

Pengaruh budaya luar juga menjadi tantangan besar. Banyak pemuda lebih bangga mengikuti tren luar negeri daripada mengenal budaya sendiri.

Contohnya, di TikTok atau Instagram sering terlihat anak muda lebih tertarik mengikuti gaya hidup dan bahasa asing, tetapi merasa malu menggunakan bahasa daerah atau memperkenalkan budaya lokalnya.

Bahkan, ada yang menganggap budaya daerah sudah kuno dan tidak menarik. Padahal, perkembangan zaman tidak seharusnya membuat kita kehilangan identitas sebagai bangsa Indonesia.

Bahkan, media sosial yang seharusnya menjadi ruang untuk belajar dan menyuarakan hal-hal positif sering kali berubah menjadi tempat mencari pengakuan dan popularitas semata.

Tidak sedikit anak muda lebih sibuk mengikuti tren viral, saling menghujat di kolom komentar, atau menyebarkan informasi tanpa memeriksa kebenarannya.

Selain itu, pengaruh narkoba, pergaulan bebas, dan radikalisme juga menjadi ancaman serius bagi generasi muda. Jika pemuda kehilangan arah hidup dan moralitas, maka masa depan bangsa juga akan terancam.

Apabila kondisi ini terus dibiarkan, maka generasi muda akan semakin jauh dari nilai-nilai kebangsaan.

Karena itu, diperlukan pembinaan karakter sejak dini, baik melalui keluarga, lembaga pendidikan, maupun lingkungan masyarakat.

Peran Pemuda Dalam Bela Negara

Salah satu bentuk bela negara yang paling penting adalah menjaga persatuan dan toleransi.

Indonesia terdiri dari berbagai latar belakang budaya dan agama. Pemuda perlu menjadi contoh dalam membangun sikap saling menghargai dan menghormati perbedaan.

Di tengah maraknya konflik sosial yang sering dipicu oleh media sosial, pemuda harus mampu menjadi penengah dan menyebarkan nilai-nilai persaudaraan.

Selain itu, peran pemuda dalam bela negara sebenarnya bisa dimulai dari hal-hal sederhana. Menghargai perbedaan, menjaga persatuan, belajar dengan sungguh-sungguh, dan menggunakan media sosial secara bijak adalah bentuk nyata cinta tanah air.

Contohnya, saat ada berita viral di media sosial tentang konflik agama atau suku, banyak orang langsung membagikannya tanpa mengecek kebenarannya, akibatnya, muncul pertengkaran dan saling menghina di kolom komentar.

Sebagai pemuda, kita harus lebih bijak dengan memeriksa fakta terlebih dahulu dan tidak mudah terprovokasi oleh isu yang dapat memecah persatuan bangsa.

Di sisi lain, bela negara tidak cukup hanya dengan slogan atau kegiatan seremonial setiap hari nasional. Pemuda juga harus berani bersikap kritis terhadap persoalan bangsa.

Contohnya, ketika melihat praktik korupsi, ketidakadilan hukum, atau pendidikan yang belum merata, Anak muda atau mahasiswa tidak boleh hanya diam.

Pemuda dapat menyuarakan pendapat melalui diskusi, tulisan, penyebaran eduksi melalui media sosial atau aksi sosial yang positif agar pemerintah dan masyarakat masyarakat lebih sadar terhadap masalah yang terjadi.

Sebagai salah satu anak muda yang sedang menempuh pendidikan di sekolah tinggi pastoral, saya melihat bahwa nilai-nilai kemanusiaan, pelayanan, dan tanggung jawab sosial juga perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Saya percaya bahwa bela negara juga berkaitan dengan nilai kemanusiaan dan moralitas. Pemuda tidak hanya dituntut cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter yang jujur, peduli, dan bertanggung jawab.

Sikap cinta tanah air harus berjalan seiring dengan nilai iman dan moral yang baik. Bangsa ini membutuhkan generasi muda yang berani bersuara untuk kebenaran, bukan generasi yang hanya menjadi penonton.

Penutup

Pada akhirnya, Sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Soekarno, “Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” kutipan ini menunjukkan bahwa pemuda memiliki kekuatan besar dalam menentukan arah bangsa.

Bela negara di era modern merujuk pada bagaimana generasi muda menjaga persatuan, melawan hoaks, bersikap kritis terhadap ketidakadilan, dan tetap memiliki rasa cinta terhadap bangsa di tengah arus globalisasi.

Pemuda seharusnya tidak hanya pandai berbicara tentang cinta tanah air, tetapi juga berani menunjukkan sikap nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Sebab, ancaman terbesar bagi bangsa ini bukan hanya datang dari luar, melainkan dari hilangnya kepedulian generasi mudanya sendiri.

Pemuda hari ini hidup di zaman yang penuh kemudahan teknologi, tetapi juga dipenuhi tantangan yang dapat melemahkan nasionalisme.

Ketika media sosial lebih sering dipakai untuk mencari popularitas, menyebarkan kebencian, atau saling menjatuhkan, maka di situlah peran pemuda diuji.

“Apakah aku hanya menjadi pengikut arus atau menjadi generasi yang mampu membawa perubahan?”.

 

Penulis: Nana Patris AgatEditor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *