Penulis: Cantika Suciadi (Ketua OSIS SMAK St. Thomas Aquinas Ruteng)
MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Waktu terus maju tanpa menoleh ke belakang, menyeret kita ke dalam arus teknologi yang kian binal berlari. Cepatnya perubahan dalam gemerlap layar memaksa generasi muda beradaptasi dan bertransformasi secara kilat agar tetap berdiri di tengah kemajuan dunia.
Kendati demikian, ada suatu hal yang sering terlupakan, yaitu asal-usul kita. Akar budaya dan simpul adat yang sejatinya telah mengikat warisan antar-generasi kini sedang diuji kekuatannya.
Pengetahuan adat yang menjadi salah satu warisan penguat identitas dalam kehidupan masyarakat tampak kian memudar di kalangan muda.
Di tanah Manggarai, sebuah kegelisahan yang sunyi sedang menetap. Tradisi dan ritus leluhur perlahan ditinggalkan oleh generasi muda, memicu kekhawatiran mendalam akan keberlangsungan warisan budaya.
Selangkah demi selangkah, budaya tradisional kehilangan ruang akibat tersisih oleh gaya hidup yang serba praktis, modern, dan menarik.
“Teknologi digital melampirkan algoritma, sehingga perlahan memengaruhi pola pikir anak muda. Tak hanya itu, teknologi pada dasarnya melayani semua keinginan dan kebutuhan penggunanya,” ujar Pak Agustinus Agung, seorang guru agama di SMAK St. Thomas Aquinas Ruteng, menggambarkan realitas yang ada.
Beliau lebih lanjut menjelaskan bahwa algoritma tampil sesuai dengan keinginan peminatnya, sehingga generasi muda cenderung hanya melihat informasi, tren, dan gaya hidup yang serupa.
Dampak dari fenomena ini kian bergerak nyata. Berbagai ritual adat dan tradisi kini hanya dijalankan sebagai formalitas belaka tanpa memahami makna, simbol, serta sejarah filosofis di balik untaian doa dan gerakan tersebut.
Padahal, tradisi bukan merupakan sebuah artefak atau cerita usang masa lalu, melainkan sebuah cara hidup. Bahasa daerah, ritus sakral, hingga nilai kebersamaan adalah identitas yang tidak boleh ditanggalkan.
Sebuah studi dari UNESCO (2020) bahkan telah membunyikan bel peringatan bahwa banyak tradisi lokal mengalami penurunan yang cukup pesat akibat kurangnya keterlibatan generasi muda.
Menuju Keheningan Lonto Leok
Sunyi yang mencemaskan kini terasa di tanah Manggarai di saat semangat anak muda mulai memudar dari kegiatan adat.
Tradisi Manggarai seperti Lonto Leok, yang dahulu menjadi ruang bagi anak muda dan orang tua untuk berkumpul, berdiskusi, serta mempelajari nilai adat, perlahan menuju keheningan.
Generasi muda lebih dekat dengan teknologi dibandingkan duduk bersama tetua adat yang kerap dianggap membosankan.
“Saya tidak fasih berbahasa Manggarai, jadi ketika orang tua atau tetua adat mulai berbincang menggunakan bahasa daerah, saya merasa bosan dan akhirnya memilih melarikan diri ke dunia di balik layar ponsel,” ujar Leonsy, salah satu pelajar SMAK St. Thomas Aquinas Ruteng.
Hal ini senada dengan pendapat Gwhynie, seorang pelajar SMAS St. Fransiskus Xaverius Ruteng, yang menyatakan bahwa anak zaman sekarang lebih terpikat pada ego berburu pengalaman baru atau tren global dibandingkan menjaga warisan lama.
Agus Takang (60), seorang guru di SMAK St. Thomas Aquinas Ruteng sekaligus tetua adat di Mena, turut menanggapi perubahan pemahaman adat di kalangan muda tersebut.
“Bukan tidak menganggap adat, namun apatis. Dalam area modernitas ini, mereka menganggap modernitas sangat fleksibel untuk seusia mereka, dan faktor utamanya adalah mereka menganggap adat itu kaku dalam membentuk karakter,” ujarnya.
Lebih lanjut, Ia menyuarakan berbagai cara revitalisasi untuk memperkenalkan budaya Manggarai.
Langkah ini diharapkan mendapat dukungan berbagai pihak, termasuk dalam dunia pendidikan mulai dari bangku TK hingga SMA, dengan selalu membuka ruang kreatif melalui seni pelestarian budaya, seperti perlombaan Turuk Curu kepada pemerintah dan upacara adat.
Ia juga menegaskan bahwa tradisi bukan sekadar simbol, melainkan pedoman hidup yang harus selalu dijaga serta menjadi akar etika dalam kehidupan bermasyarakat.
Menjadikan Teknologi Sebagai Jembatan, Bukan Jurang
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa pemantik kedekatan terhadap budaya belum padam sepenuhnya. Masih ada generasi muda yang mengaku memiliki ketertarikan kepada adat.
Sayangnya, mereka berhadapan dengan tembok besar berupa kendala akses serta pendekatan pembelajaran yang kuno dan tidak menarik.
Kondisi ini memperlihatkan adanya kesenjangan antara minat dan fasilitas edukasi budaya yang tersedia.
Meskipun demikian, di ujung lorong panjang yang gelap, harapan tidak boleh mati.
“Perkembangan teknologi justru membuka peluang untuk memperkenalkan adat dan budaya. Misalnya, media sosial dapat digunakan sebagai sarana memperkenalkan budaya Manggarai seperti cerita adat, bahasa daerah, tarian tradisional, dan nilai-nilai adat yang diwariskan turun-temurun,” tegas Romo Jean L. Sewadut, Vikaris Parokial Katedral Ruteng.
“Anak-anak muda zaman sekarang hidup di ruang digital. Oleh karena itu, budaya harus berani hadir di ruang yang mereka sukai,” ujar Pak Jemmy, seorang warga Ruteng.
Ia menilai pelestarian budaya tidak bisa lagi hanya bergantung pada upacara adat semata. Dibutuhkan kolaborasi yang kuat antara sekolah, pemerintah, tokoh adat, dan masyarakat agar budaya tetap relevan menantang zaman.
Saat ini, sejumlah sekolah di Manggarai telah menghadirkan berbagai kegiatan berbasis budaya lokal, mulai dari pengenalan bahasa daerah hingga keterlibatan siswa dalam kegiatan adat.
“Tradisi bukan sekadar simbol atau seremonial meriah, di dalamnya ada denyut nadi kebersamaan, penghormatan, dan harga diri identitas kita,” tambah Pak Jemmy.
Di tengah derasnya arus modernitas, budaya Manggarai kini berada di persimpangan: bertahan dengan beradaptasi, atau perlahan kehilangan generasi penerusnya.
Benteng pertahanan pertama dan utama berada di dalam rumah. Keluarga menjadi tempat pertama bagi seorang anak untuk menyerap adat, mencintai budaya, dan memperdalam iman sebagai perisai sebelum mereka menyelami arus modernisasi.
“Prinsipnya jelas: tetap berwawasan global, sebaliknya bertindak lokal,” pesan Romo Jean mendalam.
Membangun kesadaran adat di generasi muda tidak cukup dengan jargon usang Melestarikan Budaya, melainkan bagaimana tradisi ini dapat hidup dan tertanam dalam keseharian anak muda.
Mereka tidak boleh lagi ditempatkan sebagai penonton di pinggir lapangan, melainkan sebagai aktor utama yang menahkodai gerakan budaya itu sendiri.
Mengimbangkan adat dan modernisasi berarti menanamkan etika serta moral dalam jiwa generasi yang sedang berlari mengikuti zaman.
Kita tidak dapat menghentikan kemajuan modernisasi karena hal tersebut merupakan keniscayaan zaman.
Oleh karena itu, kita harus memanfaatkan kemajuan modernisasi sebagai sarana efektif untuk memperkenalkan budaya.
Kemajuan sejati bukan tentang melupakan asal-usul, melainkan tentang bagaimana membawa identitas bertumbuh dan tetap hidup di tengah perkembangan zaman.













