Opini  

Kompas Bangsa: Peran Strategis Mahasiswa dalam Mengaktualisasikan Wawasan Nusantara

Penulis: Olimpianus Gerisimus Agun (Mahasiswa STIPAS St. Sirilus Ruteng)

MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Di era globalisasi yang serba digital ini, Indonesia dihadapkan pada paradoks yang cukup menantang.

Di satu sisi, teknologi mendekatkan yang jauh; di sisi lain, arus informasi asing yang tak terbendung berpotensi mengikis sekat-sekat budaya lokal dan rasa nasionalisme.

Di tengah riuh rendah disintegrasi bangsa, konflik horizontal, dan polarisasi politik, kita perlu menengok kembali satu konsep fundamental bangsa kita: Wawasan Nusantara.

Wawasan Nusantara bukan sekadar materi hafalan dalam mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan. Ia adalah cara pandang bangsa Indonesia mengenai diri dan lingkungannya sebagai satu kesatuan yang utuh—baik dari aspek politik, ekonomi, sosial budaya, maupun pertahanan keamanan. Lalu, di mana posisi mahasiswa?

Sebagai agen perubahan (agent of change) dan penjaga nilai (iron stock), mahasiswa memegang kartu as dalam mengamalkan nilai-nilai luhur ini. Mahasiswa bukan lagi penonton di tribun sejarah, melainkan pemain di lapangan konstitusi.

Tiga Pilar Aktualisasi Wawasan Nusantara

Untuk membumikan Wawasan Nusantara, mahasiswa dapat bergerak melalui tiga ranah utama:

Pertama, Merajut Keberagaman di Kampus (Aspek Sosial Budaya).
Kampus adalah miniatur Indonesia. Mahasiswa dari Sabang sampai Merauke berkumpul di satu ruang kelas yang sama.

Mengamalkan Wawasan Nusantara berarti mengikis ego kedaerahan (etnosentrisme). Mahasiswa harus menjadi jembatan dialog antarbudaya, menolak diskriminasi, dan menjadikan perbedaan sebagai kekayaan intelektual, bukan pemicu konflik.

Ketika mahasiswa aktif dalam organisasi yang inklusif, mereka sedang mempraktikkan kesatuan bangsa.

Kedua, Memerangi Hoaks dan Polarisasi Digital (Aspek Politik dan Keamanan).
Dunia maya saat ini menjadi medan perang ideologi yang nyata. Polarisasi politik dan penyebaran berita bohong (hoaks) sangat rentan memecah belah bangsa.

Mahasiswa dengan nalar kritisnya harus berfungsi sebagai filter informasi. Mengamalkan Wawasan Nusantara di era digital berarti menggunakan jempol secara bijak.

Mahasiswa wajib mengedukasi masyarakat, memproduksi konten positif yang merekatkan persatuan, dan tidak ikut serta dalam siber-balkanisasi (pengotak-ngotakan digital yang ekstrem).

Ketiga, Inovasi untuk Keadilan Sosial (Aspek Ekonomi).
Wawasan Nusantara mengamanatkan bahwa kekayaan wilayah nusantara adalah modal dan milik bersama bangsa. Namun, realitasnya, ketimpangan pembangunan masih terjadi.

Melalui kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN), sociopreneurship, atau riset, mahasiswa dapat membantu daerah-daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar).

Menyalurkan ilmu pengetahuan untuk memajukan ekonomi lokal di daerah terpencil adalah bentuk konkret dari menjaga keutuhan ekonomi nusantara.

Tantangan dan Refleksi

Tantangan terbesar mahasiswa hari ini adalah sikap apatis. Banyak yang terjebak dalam pragmatisme—kuliah hanya untuk cari kerja, tanpa peduli pada arah bangsa.

Jika mahasiswa—yang di pundaknya terdapat privilese akademik—memilih abai, maka Wawasan Nusantara hanya akan menjadi dokumen usang di perpustakaan.

Wawasan Nusantara bukanlah pembatasan pandangan kita terhadap dunia, melainkan fondasi kokoh agar kita tidak limbung saat berinteraksi dengan dunia.

Mengamalkan Wawasan Nusantara bagi mahasiswa tidak perlu muluk-muluk dengan mengangkat senjata.

Cukup dengan menjadi mahasiswa yang kritis namun solutif, menghargai perbedaan di lingkungan kos dan kampus, serta menggunakan ilmu yang didapat untuk kemaslahatan masyarakat luas.

Penulis: Nana Patris AgatEditor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *