Opini  

Fenomenologi Kampus: Antara Ruang Intelektual atau Arena Peragaan Busana

Penulis: Efendiktus Marino Djamin

MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Kampus seharusnya menjadi ruang intelektual yang menjunjung tinggi etika, rasionalitas, dan pembentukan karakter.

Namun realitas yang tampak hari ini justru memperlihatkan degradasi makna tersebut.

Kampus perlahan berubah menjadi panggung narsisme, tempat di mana sebagian mahasiswa lebih sibuk mempertontonkan tubuh dan gaya berpakaian daripada mengasah daya pikir.

Fenomena berpakaian terbuka yang semakin dinormalisasi tidak lagi dapat dibaca sekadar sebagai ekspresi kebebasan, melainkan sebagai gejala krisis kesadaran akademik.

Dalam perspektif fenomenologi, tindakan berpakaian adalah bentuk penyingkapan makna diri dalam ruang sosial.

Namun yang terjadi di kampus saat ini justru menunjukkan banalitas makna: tubuh direduksi menjadi objek tontonan, dan kebebasan direduksi menjadi legitimasi untuk tampil tanpa batas.

Mahasiswa seakan terjebak dalam ilusi modernitas mengira bahwa semakin terbuka pakaian, semakin tinggi nilai eksistensinya. Padahal, itu hanyalah reproduksi budaya populer yang dangkal dan konsumtif.

Lebih ironis lagi, institusi kampus seringkali bersikap permisif, seolah kehilangan otoritas moral.

Alih-alih menjadi penjaga nilai, kampus justru membiarkan dirinya disusupi logika pasar dan budaya visual yang mengutamakan penampilan dibanding substansi.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka kampus bukan lagi fokus pencarian kebenaran, melainkan sekadar arena kontestasi citra diri.

Kritik ini tidak lahir dari semangat moralistik yang kaku, tetapi dari keprihatinan terhadap hilangnya kesadaran akan martabat akademik.

Kebebasan tanpa kesadaran adalah kebebasan yang kosong. Berpakaian bukan hanya soal selera pribadi, tetapi juga soal etika ruang dan penghormatan terhadap komunitas ilmiah.

Ketika mahasiswa lebih memilih menjadi model daripada pemikir, maka yang runtuh bukan hanya standar berpakaian, tetapi juga integritas intelektual itu sendiri.

Sudah saatnya kampus dan seluruh civitas akademika melakukan refleksi radikal: apakah kita masih menjaga kampus sebagai ruang pembentukan manusia berbudaya, atau justru merelakannya menjadi panggung banal yang kehilangan arah?

Penulis: Nana Patris AgatEditor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *