Penulis: Klaudius Sandro Natang
MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Budaya Ganda atau tradisi berkumpul untuk berbagi cerita (sharing) merupakan warisan luhur masyarakat Manggarai yang menjadi fondasi utama kehidupan bermasyarakat.
Tradisi ini bukan sekadar pertemuan fisik, melainkan sebuah ritual sosial yang mengedepankan nilai persaudaraan dan keintiman emosional.
Dalam praktiknya, masyarakat Manggarai sering kali melakukan Lonto Leok, yaitu duduk melingkar di dalam rumah atau di pelataran rumah.
Di ruang melingkar ini, tidak ada hierarki yang kaku; setiap individu memiliki ruang untuk bertukar pikiran, menyampaikan nasihat (keturu), dan mempererat ikatan batin tanpa ada sekat penghalang.
Komunikasi yang terjalin sangatlah mendalam karena melibatkan kontak mata secara langsung, artikulasi nada suara yang tulus, serta sentuhan kemanusiaan yang nyata.
Kebersamaan ini secara historis berfungsi sebagai laboratorium pendidikan karakter, tempat di mana nilai-nilai moral, silsilah keluarga, dan kearifan lokal diturunkan dari generasi tua ke generasi muda melalui tradisi lisan yang penuh kehangatan.
Namun, di era kontemporer ini, esensi dari budaya Ganda menghadapi tantangan eksistensial akibat hadirnya teknologi telepon pintar (handphone) yang kian masif dan dominan.
Fenomena ini membawa perubahan radikal pada perilaku sosial masyarakat, di mana gawai sering kali menjadi tamu tak diundang yang merusak kekhusyukan interaksi.
Kini, pemandangan orang-orang yang duduk bersama dalam satu lingkaran namun terjebak dalam dunianya masing-masing melalui layar digital menjadi pemandangan yang lazim sekaligus memprihatinkan.
Kondisi ini menciptakan paradoks teknologi yang nyata: kita mampu mendekatkan yang jauh secara virtual, tetapi di saat yang sama, kita justru menciptakan jarak yang lebar dengan orang yang berada tepat di hadapan kita.
Suasana hangat yang dulunya diisi dengan tawa renyah, diskusi yang hidup, serta pertukaran ide yang mencerahkan, kini sering kali digantikan oleh kesunyian yang dingin karena setiap individu terhipnotis oleh arus informasi di media sosial.
Akibatnya, interaksi fisik yang merupakan jantung dari budaya sharing mulai kehilangan denyutnya, menyebabkan nilai-nilai kebersamaan tradisional terancam pudar ditelan arus individualisme digital.
Hilangnya budaya Ganda juga berdampak pada memudarnya pemahaman generasi muda terhadap kekayaan tutur bahasa Manggarai.
Dalam momen berkumpul tradisional, biasanya terselip penggunaan Goet (pepatah/kiasan) yang mengandung filosofi hidup mendalam.
Tanpa adanya interaksi langsung yang intens, kekayaan linguistik dan filosofis ini tidak lagi terwariskan dengan sempurna.
Kehadiran handphone cenderung menyederhanakan komunikasi menjadi sekadar teks singkat dan emoji yang kering akan rasa, sehingga kedalaman emosional yang biasanya didapat dari sebuah pertemuan langsung menjadi hilang.
Jika dibiarkan, masyarakat Manggarai dikhawatirkan akan kehilangan identitas kolektifnya dan berubah menjadi sekumpulan individu yang hidup dalam isolasi digital, meskipun secara fisik mereka masih berada dalam satu wilayah yang sama.
Oleh karena itu, diperlukan kesadaran kolektif yang kuat untuk mengembalikan marwah budaya Ganda di tengah gempuran modernitas.
Perjuangan ini bukan berarti kita harus menolak kemajuan teknologi secara total, melainkan tentang bagaimana kita mampu menetapkan batasan etika yang tegas dalam berkomunikasi.
Masyarakat perlu mulai menerapkan kesepakatan sosial yang tidak tertulis, seperti meletakkan gawai dan mematikannya saat sedang berada dalam forum keluarga, acara adat, atau sekadar duduk santai bersama tetangga.
Menghidupkan kembali tradisi berbagi secara langsung adalah upaya krusial untuk menjaga jati diri sebagai makhluk sosial yang memiliki prinsip Nai Ca Anggit, Tuka Ca Lale (satu hati, satu pikiran).
Dengan menjaga keseimbangan antara manfaat teknologi dan pelestarian nilai-nilai tradisional, maka semangat Ganda akan tetap menjadi fondasi yang kokoh bagi persatuan dan ketahanan budaya masyarakat Manggarai di masa depan.














