Opini  

Integrasi Nasional Belum Selesai Selama Masih Ada Anak Bangsa yang Diabaikan

Penulis: Kristina Bate (Mahasiswi STIPAS St. Sirilus Ruteng)

MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Pada setiap peringatan hari kemerdekaan, kita selalu menyaksikan pemandangan yang sama: upacara bendera yang khidmat, pidato kenegaraan yang penuh semangat, dan ucapan syukur atas persatuan bangsa yang telah bertahan lebih dari tujuh dekade.

Semua itu indah dan mengharukan. Namun, di balik kemegahan perayaan itu, ada pertanyaan yang seharusnya kita berani tanyakan kepada diri sendiri sebagai sebuah bangsa: apakah kita benar-benar sudah bersatu?

Apakah integrasi nasional yang selama ini kita banggakan itu sudah sungguh-sungguh dirasakan oleh setiap anak bangsa, dari ujung barat hingga ujung timur Nusantara? Jawabannya, jika kita jujur, adalah belum.

Integrasi nasional bukan sekadar soal apakah kita masih menyanyikan lagu kebangsaan yang sama, atau apakah bendera Merah Putih masih berkibar di setiap sudut negeri.

Integrasi nasional yang sejati adalah ketika setiap warga negara—tanpa memandang dari mana ia berasal, apa agamanya, apa warna kulitnya, dan seberapa jauh ia tinggal dari pusat kekuasaan—merasakan bahwa negara hadir untuknya.

Bahwa ia didengar, dihargai, dan mimpi-mimpinya dianggap sama pentingnya dengan mimpi siapa pun yang tinggal di kota besar dengan segala kemudahannya. Selama standar itu belum terpenuhi, maka dengan segala hormat, kita belum selesai.

Kita perlu berbicara tentang fakta yang terlalu sering kita hindari. Di banyak daerah terpencil di Indonesia bagian timur, masih ada sekolah yang kekurangan guru.

Masih ada anak-anak yang harus berjalan berkilo-kilometer untuk mendapatkan akses pendidikan yang layak. Masih ada puskesmas yang tidak memiliki tenaga medis yang cukup, serta jalan yang rusak parah sehingga hasil pertanian warga tidak bisa diangkut ke pasar dengan baik.

Hal ini terjadi bukan karena warganya malas, melainkan karena perhatian negara belum merata sampai ke sana.

Ketika seorang anak di pedalaman Papua bertanya mengapa sekolahnya tidak punya buku yang cukup—sementara ia melihat di televisi bagaimana anak-anak di Jakarta belajar dengan fasilitas modern—maka di saat itulah benih kekecewaan mulai tumbuh.

Kekecewaan yang dibiarkan terlalu lama akan berubah menjadi rasa tidak memiliki, dan rasa itulah yang paling berbahaya bagi integrasi sebuah bangsa.

Masalah ini bukan hanya soal infrastruktur. Ada luka yang lebih dalam, yaitu diskriminasi yang masih dialami sebagian anak bangsa karena identitas lahiriah mereka.

Seorang mahasiswa dari timur Indonesia kadang masih menghadapi pandangan meremehkan karena warna kulitnya.

Seorang perempuan dari daerah tertentu harus berjuang dua kali lebih keras untuk diakui, dan penganut kepercayaan lokal masih bergulat dengan sistem administrasi negara yang belum sepenuhnya mengakui keberadaan mereka.

Selama diskriminasi ini nyata dirasakan, klaim bahwa kita sudah terintegrasi sepenuhnya adalah klaim yang belum bisa dipertanggungjawabkan.

Tantangan baru juga muncul dari media sosial. Alih-alih menyatukan, platform digital sering menjadi sumbu perpecahan karena algoritma yang mengurung kita dalam gelembung informasi masing-masing.

Perbedaan pendapat berubah menjadi permusuhan, dan hoaks bernuansa SARA menyebar dengan kecepatan yang menakutkan. Di sinilah integrasi nasional sedang diuji dengan cara yang paling halus namun berbahaya.

Apa yang harus kita lakukan?

Negara harus hadir secara nyata dan merata. Kebijakan afirmatif untuk daerah tertinggal bukan kemewahan, melainkan kewajiban moral. Investasi pada pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur di pelosok adalah investasi dalam integrasi itu sendiri.

Selain itu, pendidikan kebangsaan harus bertransformasi dari sekadar hafalan menjadi pembentukan empati—kemampuan untuk melihat kemanusiaan di balik perbedaan.

Setiap individu juga harus mengambil peran. Integrasi nasional adalah tanggung jawab bersama.

Setiap kali kita memilih untuk tidak menyebarkan hoaks, membela mereka yang diperlakukan tidak adil, atau membuka diri untuk berdialog, kita sedang menjaga integrasi. Tindakan-tindakan kecil yang konsisten akan menghasilkan perubahan besar.

Pada akhirnya, integrasi nasional bukanlah garis finish, melainkan perjalanan panjang yang menuntut komitmen setiap generasi. Selama masih ada warga yang merasa suaranya tidak didengar atau diperlakukan sebagai warga kelas dua, pekerjaan rumah kita belum selesai.

Indonesia yang benar-benar bersatu adalah Indonesia di mana setiap anak bangsanya merasa pulang ke rumah yang sama, disambut dengan hangat, dan diperlakukan dengan martabat yang sama. Itu bukan utopia, melainkan janji yang harus kita tepati mulai hari ini.

Catatan Redaksi: Opini ini merupakan refleksi kritis dan orisinal atas kondisi integrasi nasional Indonesia, hasil pemikiran mandiri yang belum pernah diterbitkan sebelumnya.

Penulis: Nana Patris AgatEditor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *