Opini  

Optimalisasi Pariwisata Manggarai: Sinergi Kreativitas Anak Muda dan Tanggung Jawab Pemerintah

Penulis: Safridus Aduk (Aktivis PMKRI Cabang Ruteng)

MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Kabupaten Manggarai saat ini sedang memasuki fase penting dalam perkembangan sektor pariwisata. Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai destinasi wisata baru bermunculan di hampir seluruh wilayah kecamatan.

Mulai dari air terjun yang sebelumnya tersembunyi di balik hutan, jalur pendakian yang direnovasi oleh komunitas lokal, sampai spot swafoto kreatif yang dirancang dengan sentuhan khas pemuda Manggarai.

Fenomena ini menegaskan dua hal penting: kekayaan alam Manggarai merupakan potensi luar biasa, dan kreativitas generasi mudanya kini menjadi pendorong utama perubahan di sektor wisata.

Berdasarkan laporan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Manggarai, jumlah kunjungan wisata ke berbagai destinasi lokal mengalami peningkatan signifikan dalam kurun waktu 2020–2024.

Tren serupa juga tercermin pada skala provinsi. Data pariwisata Nusa Tenggara Timur mencatat lebih dari 1,5 juta wisatawan berkunjung pada tahun 2024, menunjukkan bahwa NTT semakin dilirik sebagai tujuan wisata nasional maupun internasional.

Melihat situasi tersebut, Manggarai memiliki peluang besar untuk mengembangkan sektor pariwisata apabila mampu mengelolanya secara profesional, sistematis, dan berkelanjutan.

Peran generasi muda dalam kebangkitan pariwisata Manggarai tidak bisa dipandang sebelah mata. Anak-anak muda terlibat aktif dalam menciptakan konsep visual, membangun citra destinasi, sekaligus mempromosikannya melalui media sosial.

Banyak tempat wisata yang dikenal publik saat ini mulanya dipublikasikan oleh para pemuda melalui platform digital. Kreativitas ini bukan hanya menunjukkan kemampuan mereka dalam memanfaatkan teknologi, tetapi juga merupakan modal sosial berharga yang tidak dimiliki banyak daerah lain.

Hal ini sejalan dengan pandangan Richard Florida, seorang pakar kreativitas, yang menegaskan bahwa “kreativitas komunitas lokal adalah energi sosial yang dapat mengubah wilayah biasa menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru.”

Kutipan ini mencerminkan situasi Manggarai saat ini, di mana kreativitas anak muda benar-benar menjadi motor pembaruan dan penggerak sektor wisata.

Namun demikian, geliat kreativitas tersebut masih menghadapi sejumlah hambatan klasik. Banyak destinasi wisata baru yang belum memiliki akses jalan memadai, fasilitas dasar, maupun sarana keselamatan.

Beberapa lokasi juga minim petunjuk arah, tempat istirahat, sanitasi, dan sistem pengelolaan tiket yang jelas. Tanpa dukungan pemerintah, destinasi-destinasi ini berpotensi hanya menjadi tren sementara yang viral di media sosial tetapi tidak tumbuh menjadi industri wisata yang stabil.

Di sinilah pentingnya sinergi antara komunitas dan pemerintah daerah. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan menegaskan bahwa pemerintah daerah wajib menyusun Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah (RIPPARDA).

Dokumen ini berfungsi sebagai panduan strategis dalam mengembangkan destinasi secara terstruktur dan berkelanjutan. Kabupaten Manggarai, melalui dinas terkait, sebenarnya memiliki dasar hukum yang kuat untuk melakukan pembinaan, pendampingan, dan pengawasan terhadap destinasi wisata berbasis masyarakat.

Tantangannya terletak pada konsistensi implementasi kebijakan dan kemampuan eksekusi di lapangan. Arah kebijakan pariwisata nasional yang dikeluarkan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif juga memperkuat urgensi pembenahan sektor wisata Manggarai.

Kebijakan tersebut menitikberatkan pada konsep quality tourism, yaitu pariwisata yang tidak hanya mengejar kuantitas wisatawan, tetapi menekankan kualitas pengalaman, dampak positif bagi lingkungan, dan keterlibatan masyarakat lokal.

Mantan Menteri Pariwisata Sandiaga Uno bahkan menegaskan bahwa “anak muda adalah motor utama ekonomi kreatif; tanpa kreativitas mereka, destinasi kehilangan daya tarik visual dan identitas lokalnya.”

Kutipan tersebut sangat relevan dengan konteks Manggarai, di mana antusiasme pemuda menjadi pilar utama berkembangnya destinasi baru. Untuk memastikan perkembangan pariwisata Manggarai tidak berhenti pada fenomena viral, ada sejumlah langkah strategis yang harus ditempuh.

Pertama, pemerintah daerah perlu memperkuat perencanaan pariwisata berbasis data serta menentukan zona destinasi prioritas. Pendekatan semacam ini akan membantu pembangunan berjalan terarah dan menghindari tumpang tindih program.

Kedua, pemerintah harus memperhatikan pembangunan infrastruktur dasar, seperti akses jalan, jaringan listrik, penyediaan air bersih, serta sinyal komunikasi yang stabil. Fasilitas dasar semacam ini merupakan kebutuhan fundamental agar wisatawan merasa aman dan nyaman.

Ketiga, komunitas pengelola wisata serta kelompok pemuda perlu mendapat pelatihan rutin terkait manajemen destinasi, pemasaran digital, mitigasi risiko bencana, standar kebersihan, dan sistem pengelolaan tiket yang akuntabel. Pelatihan tersebut adalah investasi jangka panjang agar destinasi dikelola secara profesional meskipun berbasis masyarakat.

Keempat, pemerintah harus menciptakan regulasi yang tidak membebani, namun mampu memberi ruang bagi inovasi lokal. Insentif, bantuan dana stimulus, dan kemudahan administrasi dapat membantu kelompok pengelola destinasi berkembang lebih cepat.

Kelima, kegiatan promosi perlu dilakukan secara lebih terkurasi dan terarah. Pemerintah daerah bisa berkolaborasi dengan jejaring wisata yang sudah berkembang seperti Labuan Bajo, mengemas paket wisata terpadu, dan memperkuat identitas branding Manggarai sebagai destinasi hijau dan budaya.

Dengan promosi strategis semacam ini, Manggarai dapat menarik wisatawan yang tidak hanya sekadar berkunjung, tetapi benar-benar ingin merasakan pengalaman yang autentik.

Pada dasarnya, Manggarai memiliki dua pilar kekuatan utama: kekayaan alam yang memukau dan generasi muda yang energik serta penuh ide.

Bila kedua kekuatan ini mampu dipadukan dengan kebijakan pemerintah yang visioner, maka perkembangan pariwisata Manggarai akan melampaui tren sesaat dan berubah menjadi fondasi ekonomi yang berkelanjutan.

Pariwisata tidak boleh dipahami semata sebagai aktivitas kunjungan wisatawan, melainkan peluang untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat lokal melalui penciptaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan desa, dan pelestarian budaya.

Saat ini momentum telah terbentuk. Destinasi baru terus muncul, minat wisatawan semakin meningkat, dan kreativitas anak muda tidak menunjukkan tanda melambat. Yang dibutuhkan adalah komitmen bersama untuk menjaga keberlanjutan.

Bila pemerintah, komunitas, dan generasi muda berjalan dalam satu visi, Manggarai bukan hanya akan dikenal sebagai daerah yang indah, tetapi juga sebagai model pengembangan pariwisata berbasis masyarakat yang berhasil, inklusif, dan berdaya saing tinggi.

IMG-20260217-WA0004
Penulis: Nana Patris Agat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *