Opini oleh Alviana Dina (Mahasiswi UNIKA Santu Paulus Ruteng)
MANGGARAI, PENA1NTT.COM — Pendidikan merupakan hak fundamental setiap warga negara dan tidak seharusnya menjadi hak istimewa yang hanya dapat dinikmati oleh kalangan mampu. Setiap individu, baik yang berasal dari keluarga mapan maupun dari latar belakang sederhana, mempunyai hak yang setara untuk belajar dan meraih cita-cita. Keadaan ekonomi memang sering kali menjadi tantangan tersendiri dalam menempuh jenjang pendidikan, namun hal tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk menyerah dan berhenti berusaha. Keyakinan yang kuat, kerja keras, doa, serta dukungan keluarga terbukti menjadi kekuatan utama untuk terus melangkah maju.
Realitas ini tercermin secara nyata dari perjalanan hidup penulis. Berasal dari keluarga sederhana—dengan ayah yang bekerja di kebun dan ibu sebagai seorang perenun—memberikan pemahaman mendalam bahwa kerja keras orang tua adalah fondasi utama dalam memenuhi kebutuhan hidup dan membiayai pendidikan. Walaupun kondisi ekonomi keluarga tidak berlebihan, kedua orang tua senantiasa berupaya agar anak-anak mereka tetap dapat bersekolah tanpa menjadikan keterbatasan finansial sebagai hambatan.
Kesempatan untuk menempuh pendidikan dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi merupakan sebuah anugerah yang sangat berarti. Penulis menyadari bahwa tidak semua anak memiliki kesempatan yang sama; sebagian harus menghadapi kendala ekonomi, membantu orang tua, atau dihadapkan pada situasi keluarga yang membatasi akses belajar. Kesadaran ini menumbuhkan sikap penghargaan yang tinggi terhadap setiap peluang pendidikan yang ada, sekaligus tekad untuk tidak menyia-nyiakan pengorbanan besar orang tua.
Perjalanan akademis ini tentu tidak selalu berjalan mulus. Kendala nyata pernah dihadapi ketika menjelang jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP), di mana proses pendidikan hampir terhenti akibat kondisi kesehatan ayah yang menurun. Di tengah situasi yang penuh tantangan tersebut, keteguhan hati seorang ibu yang tetap tekun menenun menjadi penopang utama kelanjutan sekolah anak-anaknya. Berkat ketekunan dan kerja keras tersebut, pendidikan dapat diselesaikan hingga tuntas di tingkat menengah atas.
Pengalaman menempuh pendidikan di salah satu sekolah menengah atas dengan biaya yang relatif tinggi di Kota Ruteng memperlihatkan betapa besar pengorbanan yang telah diberikan oleh kedua orang tua. Meskipun tidak memiliki penghasilan tinggi, semangat dan keinginan luhur mereka agar anak-anaknya memperoleh pendidikan berkualitas menjadi bukti nyata bahwa kasih sayang terwujud melalui tindakan, pengorbanan, dan dukungan yang konsisten setiap hari.
Profesi orang tua—baik bertani di kebun maupun menenun—merupakan bentuk pekerjaan yang dilakukan secara jujur dan penuh tanggung jawab. Pekerjaan tersebut sama sekali bukan suatu hal yang perlu disembunyikan atau memicu rasa rendah diri, melainkan sumber kebanggaan karena dari sanalah masa depan anak-anak mereka diperjuangkan. Keberhasilan seorang pelajar tidak dapat dipisahkan dari peran sentral orang tua, sehingga sudah sepatutnya pengorbanan tersebut dibalas dengan kesungguhan dalam menuntut ilmu.
Pandangan keliru yang masih kerap beredar di tengah masyarakat adalah anggapan bahwa pendidikan tinggi hanya dapat diakses oleh kelompok masyarakat berkecukupan. Anggapan tersebut tentu tidak sepenuhnya akurat. Memang, keluarga dengan kemampuan finansial yang lebih baik memiliki kemudahan akses yang lebih besar, namun anak-anak dari keluarga sederhana tetap memiliki hak dan kesempatan yang sama. Keterbatasan ekonomi memang memperberat proses perjuangan, tetapi hal tersebut tidak boleh memadamkan harapan. Setiap individu dituntut untuk terus mencari jalan, memanfaatkan peluang, dan berusaha semaksimal mungkin.
Lebih dari sekadar mengejar angka di atas kertas atau selembar ijazah, hakikat pendidikan mencakup upaya memperluas wawasan, membentuk pola pikir yang kritis, melatih kedisiplinan, serta menumbuhkan rasa tanggung jawab. Pendidikan membekali seseorang untuk memahami kompleksitas kehidupan, mempersiapkan diri menghadapi masa depan, serta memperluas ruang kesempatan. Oleh sebab itu, semangat belajar mutlak dimiliki oleh setiap anak tanpa memandang latar belakang sosial keluarganya.
Selain dukungan eksternal dari keluarga, motivasi internal dari dalam diri sendiri memegang peranan yang sangat krusial. Seorang pelajar tidak boleh sepenuhnya bergantung pada pihak lain, melainkan harus memiliki kemauan yang mandiri untuk memperjuangkan masa depannya. Ketika menemui jalan buntu, orientasi harus diarahkan pada pencarian solusi alih-alih menyerah pada keadaan. Perjuangan orang tua hendaknya diposisikan sebagai bahan bakar motivasi untuk terus maju, bukan sebagai beban psikologis yang menimbulkan ketakutan untuk mencoba.
Besar harapan agar anak-anak dari keluarga sederhana tidak merasa minder atau menganggap cita-cita mereka berada di luar jangkauan. Setiap bentuk pekerjaan yang halal patut dihormati, dan setiap individu memiliki ruang yang sama untuk berkembang. Meskipun lintasan hidup setiap orang berbeda dan sebagian harus melalui jalan yang lebih terjal, hal tersebut tidak pernah menjadi alasan yang sah untuk berhenti bermimpi. Ketekunan dan pemanfaatan kesempatan secara optimal adalah kunci utamanya.
Dukungan kolektif dari orang tua, keluarga, institusi sekolah, serta lingkungan sosial sangat dibutuhkan untuk menjaga asa anak-anak bangsa. Dukungan tersebut tidak selalu berwujud materi atau finansial; perhatian, bimbingan, semangat, dan kepercayaan moral memiliki nilai yang sama pentingnya dalam menguatkan mental seorang anak dalam menghadapi berbagai rintangan. Sebaliknya, para pelajar juga memiliki kewajiban moral untuk menunjukkan keseriusan agar seluruh pengorbanan tersebut berbuah manis.
Secara keseluruhan, kualitas dan keberlanjutan pendidikan tidak ditentukan oleh status kekayaan sebuah keluarga, melainkan oleh tekad, kesempatan, ikhtiar, dan dukungan yang diperjuangkan bersama. Keteguhan hati seorang ayah di kebun dan ketekunan seorang ibu menenun membuktikan bahwa keterbatasan bukan halangan mutlak untuk mencetak prestasi. Pendidikan terbukti menjadi salah satu instrumen paling efektif untuk mentransformasikan kehidupan, dan setiap kesempatan untuk menempuhnya harus dihargai serta dioptimalkan demi mewujudkan masa depan yang lebih baik.













