Opini oleh Nazaria Ata Banju (Mahasiswi UNIKA Santu Paulus Ruteng)
MANGGARAI,PENA1NTT.COM — Pendidikan sering kali dipersempit sekadar proses pengajaran di dalam kelas dan pencapaian nilai akademis. Fenomena ini menciptakan orientasi belajar yang keliru.
Peserta didik cenderung berfokus pada hasil akhir berupa ijazah, bukan pada pemahaman mendalam atau pembentukan karakter. Jika kondisi ini terus dibiarkan, pendidikan akan kehilangan esensi utamanya sebagai sarana memanusiakan manusia.
Pendidikan yang ideal seharusnya berorientasi pada pengembangan potensi individu secara utuh. Proses pembelajaran harus mampu menumbuhkan daya kritis, kreativitas, serta kepedulian sosial.
Untuk mencapai hal tersebut, ruang kelas perlu ditransformasi menjadi wadah diskusi yang inklusif dan partisipatif, bukan sekadar tempat transfer pengetahuan secara searah dari pendidik kepada murid.
Peran pendidik dalam sistem ini sangat vital. Pendidik tidak hanya bertugas menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga menjadi fasilitator dan teladan moral.
Di sisi lain, kurikulum harus fleksibel dan relevan dengan dinamika era digital tanpa mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan.
Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan tidak diukur dari tingginya angka di atas kertas sertifikat, melainkan dari sejauh mana lulusannya mampu memberi dampak positif bagi masyarakat.
Sudah saatnya semua pemangku kepentingan berkolaborasi untuk mengembalikan esensi pendidikan. Dengan demikian, pendidikan benar-benar menjadi pilar utama pembentuk generasi yang berkarakter, cerdas, dan berdaya saing.













