Opini oleh Rafaeldus Jelat (Mahasiswa UNIKA Santu Paulus Ruteng)
MANGGARAI,PENA1NTT.COM — Kita hidup di zaman di mana informasi bergerak lebih cepat dari angin di atas Lingko. Pagi-pagi, sebelum berangkat ke kebun, HP kita sudah penuh dengan berita, video, dan pesan berantai. Semua ada di genggaman tangan. Inilah yang disebut era digital.
Namun, kemudahan ini menyimpan tantangan besar bagi dunia pendidikan, khususnya di Manggarai.
Dulu, masalah kita adalah kekurangan buku. Sekarang, masalah kita adalah kebanjiran informasi. Banyak pelajar di Manggarai sangat fasih menggunakan TikTok, Instagram, dan Facebook. Mereka bisa menghabiskan berjam-jam untuk men-scroll. Tetapi, ketika diminta membedakan mana berita benar dan mana hoaks, mana sumber yang kredibel dan mana yang asal-asalan, banyak yang masih bingung.
Artinya, kita pandai menggunakan alatnya, tetapi belum tentu pandai menggunakan isinya. Inilah yang disebut krisis literasi digital.
Mengapa literasi di era digital menjadi sangat penting?
Pertama, literasi adalah benteng dari hoaks. Di era digital, berita bohong menyebar lebih cepat daripada berita benar. Tanpa literasi, kita mudah terpancing emosi, mudah marah karena berita palsu, dan tanpa sadar ikut menyebarkannya. Pendidikan harus mengajarkan anak untuk tidak langsung percaya, tetapi untuk memeriksa, membandingkan, dan berpikir kritis.
Kedua, literasi membuka pintu ilmu yang tak terbatas. Jika dulu anak di pelosok Manggarai harus jalan kaki berjam-jam ke perpustakaan kabupaten untuk mencari buku, kini cukup dengan satu HP, ia bisa membaca jurnal dari universitas terbaik di dunia, belajar bahasa Inggris langsung dari penutur aslinya, dan belajar teknik bertani kopi organik dari Brazil. Era digital menghapus jarak antara kampung dan dunia. Syaratnya hanya satu: kemauan untuk membaca dan memahami.
Ketiga, literasi adalah cara menjaga jati diri Manggarai. Arus budaya asing masuk sangat deras lewat layar HP. Jika generasi muda tidak kuat literasinya, ia akan mudah kehilangan identitasnya. Ia lebih hafal bahasa gaul Jakarta atau tren Korea, daripada cerita tentang asal-usul Penti dan makna filosofis dari Caci.
Sebaliknya, anak yang literat akan menggunakan teknologi untuk mengangkat budayanya. Ia akan menulis tentang indahnya Wae Rebo, tentang filosofi Lingko, dan tentang cita rasa kopi Flores, sehingga dunia mengenal Manggarai melalui karya anak Manggarai sendiri.
Maka, apa yang harus kita lakukan?
Kita tidak bisa melarang anak bermain HP. Yang bisa kita lakukan adalah mengubah cara mereka menggunakan HP. Peran orang tua adalah mendampingi, bukan membiarkan. Peran guru adalah mengajarkan cara mencari referensi yang benar, bukan hanya memberi tugas untuk di-Google-kan.
Dan peran pemerintah desa adalah menghidupkan perpustakaan, baik perpustakaan buku maupun perpustakaan digital, agar anak punya tempat belajar yang sehat.
Pada akhirnya, teknologi hanyalah alat. Pisau bisa digunakan untuk memotong sayur, bisa juga melukai tangan. Begitu juga HP dan internet.
Di tangan generasi yang literat, teknologi akan menjadi alat untuk membangun Manggarai yang lebih cerdas dan bermartabat. Di tangan generasi yang buta literasi, teknologi hanya akan menjadi hiburan yang menghabiskan waktu.
Masa depan Manggarai di era digital tidak ditentukan oleh seberapa canggih HP yang kita pegang, tetapi oleh seberapa dalam kita memahami apa yang ada di dalam HP itu.













