Opini  

Menggugat Realitas Pendidikan di Balik Narasi Kosong

Opini oleh Lidia Liberti Liut (Mahasiwi UNIKA Santu Paulus Ruteng)

MANGGARAI,PENA1NTT.COM — Tidak mudah untuk melangkah ketika jalan yang dijanjikan ternyata hanya papan iklan. Begitu saya membuka halaman rekomendasi sebuah situs berita yang menyebut dirinya sebagai sumber informasi, yang muncul bukan wawasan, melainkan repetisi.

Enam judul, enam wajah dengan komposisi nyaris identik, dan satu kesimpulan yang sama: pendidikan telah direduksi menjadi kata kunci, bukan gagasan.

Mari kita baca dengan jujur apa yang ditampilkan. Di baris pertama, ada “Pendidikan Bukan Sekadar Nilai di Atas Kertas” di samping “Pentingnya Pendidikan bagi Generasi Muda”. Di baris kedua, “Dilema Penilaian Desil KIP Kuliah: Ketika Angka Mengabaikan Realitas…” bersebelahan dengan “Pentingnya Pendidikan Dalam Membentuk Karakter Dan…”.

Di baris ketiga, judul “Pentingnya Pendidikan bagi Generasi Muda” muncul lagi, persis sama, seolah algoritma lupa bahwa pembaca memiliki ingatan.

Lalu di sampingnya, “Kegagalan Dalam Pendidikan: Bukan Akhir…” dengan judul yang dipotong titik-titik, tanda bahwa penulis atau mesin pengisi konten tidak merasa perlu menyelesaikan kalimatnya sendiri.

Di bawah semua itu, sebuah banner besar untuk “Santuy Flower Cafe” menutupi sebagian tampilan, lengkap dengan tawaran “Free Wifi” dan emotikon “Anja”. Ini bukan portal pendidikan. Ini adalah etalase yang meminjam bahasa pendidikan untuk menjual ruang iklan.

Foto-foto yang menyertai artikel-artikel itu layak mendapat perhatian khusus. Enam pas foto dengan latar merah atau biru, kemeja putih, dasi hitam, ekspresi datar. Tidak ada konteks kelas, tidak ada buku terbuka, tidak ada guru sedang mengajar. Hanya wajah-wajah yang tampak seperti hasil pemotretan seragam.

Di artikel tentang dilema desil KIP Kuliah, fotonya justru seorang pemuda dengan latar yang tampak seperti ruang restoran, bukan ruang diskusi kebijakan publik. Ini bukan sekadar estetika yang buruk. Ini adalah bukti bahwa konten dibuat bukan untuk menjelaskan, melainkan untuk mengisi ruang.

Lalu apa masalahnya? Bukankah ini hanya soal tampilan?

Tidak. Masalahnya jauh lebih dalam dari sekadar desain yang buruk. Ketika sebuah media memproduksi judul-judul seperti “Pentingnya Pendidikan bagi Generasi Muda” berulang kali dalam satu halaman yang sama, ia tidak sedang mengajak pembaca berpikir. Ia sedang mengoptimalkan mesin pencari.

Kata “penting” diulang sampai kehilangan makna. “Generasi muda” menjadi label kosong. “Karakter” dijadikan hiasan judul tanpa penjelasan apa pun tentang bagaimana karakter dibentuk, siapa yang bertanggung jawab, dan apa indikator keberhasilannya.

Bahkan judul tentang kegagalan dalam pendidikan dipotong dengan titik-titik, seolah kegagalan itu terlalu besar untuk disebutkan secara utuh.

Pendidikan yang sejati tidak bisa diperlakukan seperti ini. Pendidikan bukan sekadar nilai di atas kertas, memang benar. Tetapi jika kita serius dengan pernyataan itu, maka kita juga harus serius dengan cara kita membahasnya.

Kita tidak bisa membicarakan pendidikan hanya dengan kalimat-kalimat besar yang kosong. Kita perlu data. Kita perlu nama sekolah, nama daerah, angka putus sekolah, rasio guru terhadap murid, anggaran per siswa, dan cerita nyata dari mereka yang terpinggirkan.

Kita perlu menyebut bahwa dilema penilaian desil KIP Kuliah bukan sekadar “ketika angka mengabaikan realitas”, melainkan sebuah sistem yang seringkali gagal menangkap kemiskinan yang tidak tercatat dalam database resmi.

Kita perlu menjelaskan bahwa kegagalan dalam pendidikan bukan akhir segalanya hanya jika sistem memberikan kesempatan kedua yang nyata, bukan sekadar retorika.

Saya menulis ini bukan untuk menyerang satu situs tertentu, melainkan untuk menggugat narasi kosong yang merajalela. Kita hidup di era di mana informasi tentang pendidikan melimpah, tetapi pemahaman tentang pendidikan justru menyusut.

Setiap hari, artikel-artikel dengan judul seragam beredar: penting, karakter, generasi muda, nilai, kegagalan, dan akhir segalanya. Semua kata itu benar, tetapi ketika digunakan tanpa isi, mereka menjadi semacam mantra yang membuat kita merasa sudah memahami sesuatu padahal kita hanya membaca judul.

Lidia Liberti Liut bukan nama yang akan muncul di foto-foto pas tersebut. Saya bukan wajah dengan latar merah atau biru yang siap ditempelkan di samping judul apa pun. Saya adalah pembaca yang lelah. Saya adalah mahasiswa, atau mungkin guru, atau mungkin hanya seseorang yang percaya bahwa pendidikan layak mendapat perlakuan yang lebih baik dari sekadar algoritma pengisi ruang.

Dan saya percaya bahwa jika kita terus membiarkan narasi kosong ini berkuasa, maka yang akan gagal bukan hanya siswa yang tidak lulus ujian, melainkan masyarakat yang lupa bagaimana cara bertanya.

Mari kita kembali ke gambar itu. Perhatikan bagaimana judul-judul itu disusun. Tidak ada urutan logis. Tidak ada kategori. Tidak ada tanggal. Hanya grid enam kotak yang terlihat seperti hasil pengacakan otomatis.

Ini adalah visualisasi dari cara kita memperlakukan pendidikan saat ini: sebagai komoditas yang bisa diatur, dipindah, dan dijual sesuai kebutuhan iklan. Bahkan banner “Santuy Flower Cafe” yang muncul di bawahnya bukan sekadar gangguan visual.

Itu adalah pengingat bahwa dalam ekonomi perhatian, pendidikan dan bunga kafe memiliki nilai yang sama: seberapa banyak klik yang bisa mereka hasilkan.

Jika pendidikan benar-benar bukan sekadar nilai di atas kertas, maka buktinya tidak bisa berupa enam judul yang sama-sama kosong. Buktinya harus berupa kebijakan yang diubah, anggaran yang dialokasikan dengan adil, guru yang diberi ruang untuk mengajar bukan hanya menguji, dan siswa yang didengar bukan hanya dinilai.

Buktinya harus berupa pengakuan bahwa dilema desil KIP Kuliah bukan masalah teknis yang bisa diselesaikan dengan satu artikel pendek, melainkan masalah struktural yang membutuhkan keberanian politik.

Saya ingin mengajak pembaca untuk melakukan sesuatu yang sederhana tetapi radikal: baca judulnya, lalu tanya apa isinya. Jika isinya hanya pengulangan dari judul, tutup halaman itu. Jika fotonya hanya wajah dengan latar studio tanpa konteks, tanyakan siapa mereka dan apa hubungannya dengan teks.

Jika ada banner iklan yang menutupi bagian penting dari tulisan, tanyakan siapa yang diuntungkan dari perhatian Anda. Ini bukan sikap sinis. Ini adalah literasi media yang dasar.

Nama saya Lidia Liberti Liut, dan saya menulis ini bukan sebagai ahli pendidikan, melainkan sebagai warga yang peduli. Saya tidak memiliki foto pas dengan latar merah yang siap ditempelkan di samping judul ini. Saya hanya memiliki kata-kata, dan keyakinan bahwa kata-kata masih bisa berarti sesuatu jika kita berhenti menggunakannya sebagai hiasan.

Tidak mudah untuk melangkah ketika jalan dipenuhi oleh narasi kosong. Tetapi jika kita mulai dengan menolak untuk menerima judul tanpa isi, maka kita sudah mengambil satu langkah yang nyata.

Pendidikan layak mendapat lebih dari sekadar rekomendasi algoritma. Pendidikan layak mendapat pertanyaan yang sulit, jawaban yang jujur, dan ruang yang tidak dijual kepada pengiklan bunga kafe.

Jika kita setuju dengan itu, maka tugas kita bukan hanya membaca, melainkan menuntut. Menuntut agar setiap artikel tentang pendidikan memiliki data, memiliki penulis yang bertanggung jawab, memiliki foto yang relevan, dan memiliki tujuan yang lebih besar daripada sekadar mengisi ruang antara dua iklan.

Itu bukan tuntutan yang berlebihan. Itu adalah standar minimal bagi siapa pun yang mengaku peduli pada masa depan generasi muda.

Jadi, mari kita mulai dari sini. Mari kita lihat halaman rekomendasi itu bukan sebagai hiburan, melainkan sebagai cermin. Cermin yang menunjukkan betapa mudahnya bahasa pendidikan dipinjam, dipotong, dan dijual.

Dan mari kita putuskan bahwa kita tidak akan lagi puas dengan judul-judul besar yang berakhir dengan titik-titik. Kita akan meminta kalimat lengkap. Kita akan meminta nama penulis. Kita akan meminta bukti. Karena tidak mudah untuk melangkah, tetapi jauh lebih sulit untuk berjalan di tempat. Dan saat ini, terlalu banyak narasi tentang pendidikan yang hanya membuat kita berjalan di tempat.

Lidia Liberti Liut menutup ini dengan satu harapan sederhana: semoga suatu hari, halaman rekomendasi tentang pendidikan tidak lagi dipenuhi oleh wajah-wajah seragam dan judul-judul kosong, melainkan oleh cerita-cerita nyata, data yang terbuka, dan keberanian untuk mengatakan bahwa tidak semua yang penting bisa dirangkum dalam satu judul pendek.

Sampai saat itu tiba, tugas kita adalah tetap kritis, tetap bertanya, dan tidak pernah berhenti melangkah—meski jalan yang sebenarnya belum terlihat jelas.

Editor: Nana Patris Agat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *