Opini oleh Veronika Indah Meliani (Mahasiswi UNIKA Santu Paulus Ruteng)
MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Pendidikan merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia. Pendidikan bukan sekadar proses mentransfer ilmu pengetahuan dari guru kepada peserta didik, melainkan juga proses membentuk manusia agar memiliki karakter, moral, tanggung jawab, serta kepedulian terhadap sesama.
Dalam konteks ini, pendidikan yang memanusiakan manusia berarti pendidikan yang menghargai martabat manusia, memahami kebutuhan setiap individu, dan memberikan kesempatan kepada setiap orang untuk berkembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya.
Namun, dalam situasi bencana alam, khususnya gempa bumi, pelaksanaan pendidikan menghadapi berbagai tantangan.
Gempa bumi dapat menyebabkan kerusakan gedung sekolah, terputusnya akses transportasi, gangguan jaringan komunikasi, kehilangan tempat tinggal, serta trauma psikologis bagi peserta didik dan tenaga pendidik.
Dalam keadaan seperti ini, pendidikan tidak boleh hanya dipahami sebagai kegiatan belajar mengajar yang berlangsung di ruang kelas, tetapi juga sebagai upaya menjaga harapan, memulihkan semangat, dan mempertahankan hak setiap manusia untuk belajar.
Menurut opini saya, pendidikan yang memanusiakan manusia harus tetap hadir di tengah bencana melalui pendekatan yang fleksibel, baik secara daring (dalam jaringan) maupun luring (luar jaringan).
Kedua pendekatan tersebut perlu disesuaikan dengan kondisi masyarakat, ketersediaan fasilitas, dan terutama keselamatan peserta didik serta tenaga pendidik.
Pendidikan yang Memanusiakan Manusia di Tengah Bencana Gempa Bumi
Pendidikan yang memanusiakan manusia menempatkan manusia sebagai pusat dari seluruh proses pendidikan. Artinya, pendidikan tidak hanya berorientasi pada nilai, prestasi, kurikulum, dan kelulusan, melainkan juga emosional, sosial, dan kebutuhan nyata peserta didik.
Ketika gempa bumi terjadi, anak-anak mungkin kehilangan rumah, anggota keluarga, buku pelajaran, bahkan rasa aman dalam kehidupan mereka.
Dalam keadaan demikian, tidak adil apabila mereka langsung dituntut mengikuti pembelajaran secara normal tanpa mempertimbangkan kondisi yang sedang dihadapi.
Menurut saya, pendidikan yang benar-benar memanusiakan manusia adalah pendidikan yang mampu memahami penderitaan peserta didik dan memberikan ruang bagi mereka untuk memulihkan diri.
Guru tidak hanya berperan sebagai penyampai materi pelajaran, tetapi juga sebagai pendamping yang mampu mendengarkan, memberikan motivasi, dan membantu peserta didik membangun kembali kepercayaan diri.
Pendidikan harus hadir untuk menguatkan manusia, bukan menambah beban penderitaan mereka. Oleh karena itu, pelaksanaan pendidikan pada masa bencana perlu mengutamakan keselamatan, kesehatan psikologis, dan kebutuhan dasar peserta didik sebelum menuntut pencapaian akademik.
Peran Pendidikan Daring di Tengah Bencana Gempa Bumi
Pendidikan daring merupakan proses pembelajaran yang memanfaatkan teknologi digital dan jaringan internet, seperti melalui aplikasi pembelajaran, konferensi video, pesan singkat, serta platform pendidikan lainnya.
Melalui pembelajaran daring, guru dapat membagikan materi, memberikan tugas yang sesuai dengan kondisi peserta didik, dan tetap menjalin komunikasi dengan mereka.
Peserta didik juga dapat mengakses bahan pembelajaran tanpa harus datang ke sekolah yang mungkin mengalami kerusakan.
Meskipun demikian, pendidikan daring tidak selalu menjadi solusi yang mudah. Bencana gempa bumi dapat menyebabkan listrik padam, jaringan internet terputus, perangkat elektronik rusak, dan keluarga kehilangan kemampuan untuk menyediakan kuota internet.
Selain itu, sebagian peserta didik mungkin harus tinggal di pengungsian dengan fasilitas yang terbatas. Jika pendidikan daring diwajibkan tanpa mempertimbangkan kondisi tersebut, justru akan muncul ketidakadilan pendidikan.
Peserta didik yang memiliki fasilitas lengkap akan lebih mudah mengikuti pembelajaran, sedangkan mereka yang kehilangan akses teknologi berisiko tertinggal.
Oleh karena itu, menurut saya, pendidikan daring yang memanusiakan manusia harus dilaksanakan secara fleksibel.
Guru dapat menyediakan materi berukuran kecil yang mudah diunduh, rekaman pembelajaran yang dapat diakses kemudian, atau tugas yang tidak mengharuskan peserta didik selalu terhubung ke internet.
Guru juga perlu memberikan kelonggaran waktu pengumpulan tugas dan menghindari tuntutan akademik yang berlebihan selama masa darurat.
Dengan demikian, teknologi seharusnya menjadi alat untuk membantu manusia memperoleh pendidikan, bukan menjadi penghalang bagi mereka yang sedang mengalami kesulitan akibat bencana.
Peran Pendidikan Luring di Bencana Gempa Bumi
Pendidikan luring merupakan proses pembelajaran yang berlangsung tanpa bergantung pada koneksi internet. Pembelajaran ini dapat dilakukan melalui pertemuan langsung, buku cetak, lembar kerja, diskusi kelompok, atau kegiatan belajar di lingkungan masyarakat.
Di tengah bencana gempa bumi, pendidikan luring memiliki peran penting, terutama bagi peserta didik yang tidak mempunyai perangkat digital atau tidak dapat mengakses jaringan internet.
Sebagai contoh, ketika sekolah mengalami kerusakan dan tidak dapat digunakan, kegiatan belajar dapat dilaksanakan di tempat sementara yang aman, seperti ruang belajar darurat atau fasilitas masyarakat yang telah diperiksa kelayakannya.
Kegiatan ini harus dilakukan setelah ada penilaian keselamatan dari pihak yang berwenang.
Guru dapat memberikan pembelajaran melalui buku, kertas, diskusi, permainan edukatif, kegiatan menggambar, dan aktivitas lain yang sesuai dengan usia serta kondisi peserta didik.
Selain membantu mempertahankan proses belajar, pertemuan langsung juga dapat memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk berinteraksi, bermain bersama, dan membangun kembali hubungan sosial yang mungkin terganggu akibat bencana.
Namun, pelaksanaan pendidikan luring harus memperhatikan risiko gempa susulan, kondisi bangunan, akses menuju tempat belajar, serta keselamatan seluruh peserta. Kegiatan pembelajaran tidak boleh dipaksakan berlangsung di lokasi yang belum dinyatakan aman.
Menurut saya, pendidikan luring yang memanusiakan manusia bukan sekadar memindahkan ruang kelas ke tempat lain, melainkan menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, inklusif, dan sesuai dengan kebutuhan penyintas bencana.
Sinergi Pendidikan Daring dan Luring
Pendidikan daring dan luring sebaiknya tidak dipertentangkan. Keduanya memiliki kelebihan dan keterbatasan masing-masing sehingga dapat saling melengkapi sesuai dengan keadaan di lapangan.
Pendidikan daring dapat digunakan ketika jaringan internet dan perangkat tersedia serta kegiatan belajar jarak jauh memungkinkan untuk dilaksanakan.
Sementara itu, pendidikan luring dapat menjadi pilihan ketika akses internet tidak tersedia, perangkat digital terbatas, atau peserta didik membutuhkan pendampingan secara langsung.
Dalam situasi tertentu, kedua pendekatan tersebut dapat dikombinasikan melalui pembelajaran campuran atau blended learning.
Misalnya, guru membagikan materi melalui pesan digital ketika jaringan tersedia, kemudian menyediakan buku cetak atau lembar kerja bagi peserta didik yang tidak dapat mengakses internet.
Sekolah juga dapat bekerja sama dengan pemerintah, orang tua, relawan, dan masyarakat untuk menyediakan fasilitas belajar sementara, alat tulis, bahan bacaan, serta dukungan lain yang diperlukan.
Akan tetapi, pelaksanaan pembelajaran campuran harus tetap mempertimbangkan keselamatan dan kesiapan peserta didik. Tidak semua keadaan memungkinkan penggunaan teknologi maupun pertemuan langsung.
Karena itu, keputusan mengenai metode pembelajaran perlu disesuaikan dengan situasi setempat, bukan semata-mata mengikuti tuntutan administratif atau target kurikulum.
Pendidikan yang memanusiakan manusia menuntut adanya kebijakan yang adil agar setiap peserta didik tetap memiliki kesempatan belajar, tanpa membedakan latar belakang ekonomi, tempat tinggal, maupun akses terhadap teknologi.
Peran Guru, Pemerintah, dan Masyarakat
Keberhasilan pendidikan di tengah bencana gempa bumi tidak hanya menjadi tanggung jawab guru, tetapi juga membutuhkan keterlibatan pemerintah, orang tua, lembaga pendidikan, dan masyarakat.
Guru perlu menerapkan pembelajaran yang fleksibel, memahami kondisi psikologis peserta didik, dan menyesuaikan beban belajar dengan keadaan mereka.
Pemerintah perlu memastikan keselamatan fasilitas pendidikan, menyediakan ruang belajar sementara, membantu pemenuhan kebutuhan pembelajaran, serta memperluas akses terhadap perangkat dan jaringan komunikasi apabila memungkinkan.
Orang tua dapat memberikan dukungan emosional, menciptakan kesempatan belajar sesuai kemampuan keluarga, dan berkomunikasi dengan guru mengenai kebutuhan anak.
Sementara itu, masyarakat dan relawan dapat berpartisipasi melalui penyediaan buku, alat tulis, ruang belajar yang aman, kegiatan edukasi kebencanaan, dan dukungan sosial bagi keluarga terdampak.
Seluruh pihak harus memahami bahwa anak-anak yang mengalami bencana membutuhkan lebih dari sekadar materi pelajaran.Mereka juga membutuhkan rasa aman, perhatian, kesempatan bermain, dan dukungan untuk menghadapi pengalaman yang sulit.
Dengan kerja sama tersebut, pendidikan dapat menjadi sarana untuk membangun kembali kehidupan masyarakat sekaligus memperkuat solidaritas sosial.
Pendidikan sebagai Sarana Pemulihan dan Kemanusiaan
Bencana gempa bumi memberikan pelajaran bahwa kehidupan manusia tidak dapat sepenuhnya dikendalikan. Dalam waktu singkat, rumah, sekolah, dan fasilitas umum dapat mengalami kerusakan. Namun, di tengah keadaan tersebut, nilai-nilai kemanusiaan harus tetap dipertahankan.
Pendidikan yang memanusiakan manusia mengajarkan bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik, tetapi juga oleh kepedulian, empati, solidaritas, dan kemampuan bekerja sama.
Anak-anak perlu memperoleh kesempatan untuk memahami pentingnya keselamatan, saling menolong, menghargai perasaan orang lain, serta menghadapi bencana dengan pengetahuan yang benar.
Di sisi lain, masyarakat perlu menyadari bahwa pendidikan bukan hanya tanggung jawab sekolah. Pendidikan juga berlangsung melalui pengalaman hidup, interaksi sosial, dan tindakan nyata dalam membantu sesama.
Oleh karena itu, pembelajaran di tengah bencana harus memberikan ruang bagi peserta didik untuk bertumbuh sebagai manusia yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan tanggung jawab terhadap lingkungan.
Dalam konteks ini, pendidikan daring maupun luring bukan sekadar metode penyampaian materi, melainkan sarana untuk menjaga keberlangsungan belajar, membangun harapan, dan memulihkan kehidupan manusia.
Berdasarkan uraian di atas, saya berpendapat bahwa pendidikan yang memanusiakan manusia harus tetap menjadi dasar penyelenggaraan pendidikan daring maupun luring di tengah bencana alam gempa bumi.
Pendidikan daring dapat membantu menjaga keberlangsungan pembelajaran melalui teknologi, sedangkan pendidikan luring memberikan alternatif bagi peserta didik yang memiliki keterbatasan akses digital dan membutuhkan pendampingan secara langsung.
Keduanya harus dilaksanakan secara fleksibel, adil, dan bertanggung jawab dengan mengutamakan keselamatan serta kebutuhan fisik, emosional, dan sosial peserta didik.
Dalam keadaan darurat, pendidikan tidak boleh hanya mengejar penyelesaian kurikulum dan pencapaian nilai. Pendidikan harus mampu memahami keadaan manusia, memberikan kesempatan untuk pulih, dan membantu setiap individu mempertahankan harapan akan masa depan.
Pada akhirnya, pendidikan yang sejati bukan hanya pendidikan yang menghasilkan manusia berpengetahuan luas, melainkan juga manusia yang mampu menghargai kehidupan, memahami penderitaan sesama, dan bertindak dengan penuh tanggung jawab.
Pendidikan yang memanusiakan manusia adalah pendidikan yang tetap berpihak kepada manusia, bahkan ketika manusia sedang berada dalam keadaan paling sulit.
Di tengah bencana gempa bumi, baik melalui daring maupun luring, pendidikan harus menjadi jembatan harapan yang membantu setiap orang belajar, bangkit, dan membangun kembali masa depannya.













