Opini oleh Yohana Maria Viany Kasman (Mahasiswi UNIKA Santu Paulus Ruteng)
MANGGARAI, PENA1NTT.COM — Pendidikan adalah fondasi utama untuk memajukan bangsa. Tanpa sistem yang berkualitas, sebuah negara akan tertatih-tatih melahirkan sumber daya manusia (SDM) yang berdaya saing global.
Sayangnya, wajah pendidikan kita hari ini masih diwarnai oleh paradoks yang mengkhawatirkan: megah di pusat kota, namun terseok-seok di pinggiran.
Kualitas dan akses pendidikan di Indonesia sejauh ini belum sepenuhnya merdeka dari ketimpangan. Kesenjangan terlihat jelas antara wilayah perkotaan dan daerah terpencil atau wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar).
Keterbatasan infrastruktur sekolah yang rusak, persebaran guru berkualitas yang menumpuk di kota, serta akses teknologi yang belum menyentuh pelosok menjadi kerikil tajam yang menghambat potensi anak bangsa.
Akibatnya, sebagian peserta didik terpaksa belajar dengan fasilitas seadanya—sebuah ketidakadilan nyata yang mencederai hak konstitusional mereka.
Pemerintah memang tidak tinggal diam. Berbagai upaya pembenahan telah digulirkan, mulai dari pembaruan kurikulum yang dinamis hingga penyaluran Bantuan Operasional Sekolah (BOS).
Akan tetapi, kebijakan di atas kertas tidak akan pernah cukup tanpa adanya pengawasan ketat dan evaluasi yang konsisten di lapangan. Kebijakan yang bersifat top-down sering kali gagap ketika berhadapan dengan realitas geografis dan kultural daerah yang beragam.
Oleh karena itu, transformasi pendidikan yang merata membutuhkan sinergi yang keluar dari ego sektoral.
Kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, tenaga pendidik, dan masyarakat bukan lagi sekadar slogan, melainkan sebuah kebutuhan mendesak.
Pemerintah daerah harus lebih proaktif memetakan kebutuhan spesifik sekolah di wilayahnya, sementara para pendidik dituntut untuk terus meningkatkan adaptabilitasnya terhadap teknologi tepat guna.
Pendidikan yang merata bukan sekadar mimpi utopis yang dikejar menjelang pergantian menteri, melainkan sebuah keharusan demi menyongsong Indonesia Emas.
Dengan komitmen yang kuat dan sinergi dari semua pihak, kita dapat meruntuhkan tembok ketimpangan ini, sekaligus menghadirkan masa depan yang lebih cerah bagi setiap generasi penerus bangsa—tanpa kecuali.













