Opini oleh Gregorius Jemalut (Mahasiswa UNIKA Santu Paulus Ruteng)
MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Dunia pendidikan saat ini mengalami perubahan besar akibat pesatnya perkembangan teknologi digital.
Sayangnya, digitalisasi sering kali hanya berfokus pada peningkatan kecakapan teknis dan akademis.
Banyak sekolah berlomba-lomba memperbarui fasilitas komputer dan jaringan internet, tetapi melupakan aspek fundamental manusia, yaitu karakter.
Agar generasi muda tidak tersesat dalam arus informasi, pendidikan karakter harus menjadi pilar utama dalam sistem kurikulum nasional.
Teknologi memang menyediakan akses informasi tanpa batas, tetapi teknologi tidak dapat mengajarkan etika.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa kecerdasan kognitif yang tinggi tidak berbanding lurus dengan moralitas yang baik.
Kita sering menyaksikan maraknya fenomena perundungan siber (cyberbullying), penyebaran berita bohong (hoax), dan kecurangan akademis digital di kalangan pelajar.
Fenomena ini menjadi bukti nyata bahwa kecerdasan tanpa dasar moral yang kukuh justru akan mendatangkan daya rusak yang besar bagi masyarakat.
Oleh karena itu, sekolah wajib mengintegrasikan nilai-nilai moral ke dalam setiap mata pelajaran.
Guru tidak boleh hanya berperan sebagai transformator ilmu pengetahuan, melainkan juga harus menjadi teladan perilaku yang berintegritas.
Kerja sama yang sinergis antara pihak sekolah, orang tua, dan masyarakat juga sangat diperlukan untuk menciptakan lingkungan belajar yang sehat.
Kesimpulannya, investasi terbaik dalam dunia pendidikan bukan terletak pada canggihnya gawai atau perangkat lunak yang digunakan.
Investasi terbaik adalah pembentukan karakter peserta didik. Ketika moralitas telah mengakar kuat di dalam jiwa generasi muda, teknologi akan berubah menjadi alat yang sangat berdaya guna untuk kemajuan bangsa.













