Opini  

Menjahit Retak Nasionalisme: PKn Sebagai Benang Pemersatu

Oleh: Bernadina Igriani Jenaut

Mahasiswa STIPAS St. Sirilus Ruteng

GENERASI MUDA adalah pemegang mandat masa depan. Maju mundurnya Indonesia sangat bergantung pada kualitas manusianya hari ini. Di pundak mereka, beban pembangunan diletakkan, namun untuk memikulnya, kepintaran akademis saja tidaklah cukup.
Dibutuhkan karakter yang kokoh, rasa tanggung jawab yang tinggi, dan semangat nasionalisme yang tak luntur oleh zaman.

Di sinilah Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) mengambil peran krusial sebagai “benang” yang menjahit kembali komitmen kebangsaan.

Tantangan Identitas di Era Digital

​Saat ini, perkembangan teknologi dan media sosial berlangsung sangat cepat. Generasi muda dapat dengan mudah memperoleh informasi dan berkomunikasi melintasi batas negara.

Namun, perkembangan tersebut tidak selalu membawa dampak positif. Ada kecenderungan “retakan” pada jiwa nasionalisme: banyak anak muda yang mulai terpengaruh budaya asing secara berlebihan, kurang menghargai identitas sendiri, bahkan lebih sering menghabiskan waktu di dunia maya dibandingkan berinteraksi dengan lingkungan sosial secara nyata.

​Selain itu, krisis kedisiplinan dan tanggung jawab masih menjadi tantangan besar. Fenomena perundungan (bullying), penyebaran ujaran kebencian, hingga pengabaian terhadap norma kesopanan di media sosial adalah bukti bahwa literasi moral kita sedang diuji.

Jika hal ini terus terjadi tanpa adanya filter yang kuat, maka persatuan dan kehidupan masyarakat kita terancam rapuh.

Pendidikan Kewarganegaraan sebagai Kompas

​Pendidikan Kewarganegaraan hadir bukan sekadar sebagai mata pelajaran formal yang penuh dengan hafalan teori. Ia adalah pelajaran tentang hidup bermasyarakat; tentang bagaimana hak dan kewajiban berjalan beriringan, bagaimana nilai-nilai Pancasila menjadi napas dalam berdemokrasi, serta betapa pentingnya menjaga hukum demi keadilan bersama.

​Melalui PKn, generasi muda tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga dibimbing untuk memiliki nurani. Pelajaran ini membantu kita memahami bahwa menjadi pribadi yang hebat harus dimulai dengan sikap jujur, disiplin, dan bertanggung jawab dalam hal-hal kecil sekalipun.

Manifestasi dalam Keseharian

​Menjahit nasionalisme tidak harus dimulai dengan langkah besar. Nilai-nilai PKn dapat diterapkan melalui tindakan sederhana namun bermakna:

1. ​Menghormati teman yang berbeda agama atau suku sebagai bentuk pengakuan atas keberagaman.

2. ​Menjaga kebersihan lingkungan sebagai wujud cinta pada tanah air.

3. ​Menggunakan produk dalam negeri dan melestarikan budaya lokal agar identitas bangsa tidak hilang ditelan arus globalisasi.

​Indonesia adalah permadani indah yang ditenun dari ribuan suku, bahasa, dan agama. Keberagaman ini adalah kekayaan yang harus dijaga bersama. Oleh karena itu, generasi muda harus belajar menghargai perbedaan agar tercipta kehidupan yang damai dan harmonis.

Penutup

​Menurut pendapat saya, Pendidikan Kewarganegaraan adalah instrumen yang sangat vital dan tidak boleh dianggap remeh. Ia bukan sekadar teori di dalam kelas, melainkan pedoman moral di tengah ketidakpastian zaman.

Dengan PKn, kita berharap lahir generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki akhlak yang baik dan semangat nasionalisme yang tinggi.

​Mari kita jadikan pendidikan ini sebagai benang yang kuat untuk terus merajut persatuan, demi menjaga keutuhan dan kemajuan bangsa Indonesia di masa depan.

Editor: Bino Maot

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *