Opini  

Menjadi Mahasiswa di Era Digital: Antara Peluang Teknologi dan Distraksi Tanpa Batas

Opini oleh Maria Frayenta Paput, Fransiska Kabrini Nilgen, Kristiani Edom, Paulinus Etmerson Omas, dan Oktavianus Sentosa

MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Perkembangan pesat teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah mengubah cara mahasiswa belajar, berkomunikasi, dan mengakses informasi.

Berbagai platform digital menyediakan jawaban instan, materi pembelajaran, dan bantuan akademik yang membuat proses pendidikan menjadi lebih efisien.

Namun, di balik berbagai kemudahan tersebut, muncul kekhawatiran yang semakin nyata, yaitu menurunnya keberanian intelektual di kalangan mahasiswa.

Keberanian intelektual merupakan kemampuan dan kemauan seseorang untuk berpikir secara mandiri, mempertanyakan informasi secara kritis, menyampaikan pendapat dengan jujur, serta mempertahankan gagasan berdasarkan bukti dan argumentasi yang rasional.

Saat ini, banyak mahasiswa lebih memilih jawaban yang cepat dibandingkan melakukan analisis yang mendalam.

Melimpahnya informasi yang tersedia melalui teknologi sering kali mendorong penerimaan secara pasif daripada proses pencarian dan pengkajian yang aktif.

Akibatnya, mahasiswa menjadi semakin bergantung pada sumber eksternal dan kurang percaya diri dalam mengembangkan pandangan mereka sendiri.

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan pada 13 Juni 2026, Yustus S. Halum, M.Pd menyatakan bahwa kemajuan teknologi telah membawa perubahan yang signifikan dalam kehidupan mahasiswa dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.

Menurutnya, teknologi memungkinkan mahasiswa memperoleh informasi dengan cepat, memperluas jaringan komunikasi, dan meningkatkan daya saing di tingkat global.

Namun, ia menegaskan bahwa mahasiswa harus memiliki kemampuan literasi digital yang kuat untuk menilai kebenaran informasi yang diterima.

Ia mengingatkan bahwa informasi yang viral belum tentu benar sehingga mahasiswa perlu memiliki keberanian untuk mempertanyakan dan memverifikasi informasi sebelum menerimanya sebagai kebenaran.

Yustus S. Halum, M.Pd juga menyoroti meningkatnya penggunaan AI seperti ChatGPT dan Gemini dalam aktivitas akademik.

Meskipun teknologi tersebut dapat membantu mahasiswa memperoleh informasi dan menyelesaikan tugas dengan lebih efisien, ia menekankan bahwa AI seharusnya berfungsi sebagai alat pendukung, bukan pengganti kemampuan berpikir mandiri.

Menurutnya, integritas akademik dan refleksi kritis tetap menjadi unsur penting dalam pendidikan tinggi.

Pandangan serupa disampaikan oleh Trisno Arkadeus, mahasiswa berprestasi Universitas Katolik Indonesia (UNIKA) St. Paulus Ruteng, dalam wawancara pada 11 Juni 2026.

Ia mengakui bahwa teknologi telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan mahasiswa karena memungkinkan akses terhadap berbagai sumber belajar dan kesempatan akademik tanpa batasan ruang dan waktu.

Namun, ia mengamati bahwa banyak mahasiswa cenderung menerima informasi tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu dan terlalu bergantung pada solusi instan.

Menurutnya, kebiasaan tersebut dapat melemahkan kemampuan berpikir kritis serta mengurangi keberanian mahasiswa untuk terlibat dalam diskusi dan perdebatan intelektual.

Sementara itu, Maria D. Lestari dalam wawancara pada 12 Juni 2026 menjelaskan bahwa teknologi dan AI memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan prestasi akademik mahasiswa.

Teknologi membantu mahasiswa memahami materi perkuliahan, mengatur waktu belajar, serta memperoleh informasi dengan lebih cepat dan efisien.

Namun, ia menekankan bahwa manfaat teknologi hanya dapat dirasakan secara maksimal apabila digunakan secara bertanggung jawab dan sesuai dengan etika akademik.

Mahasiswa harus tetap menjadi pembelajar yang aktif, mampu mengevaluasi informasi secara kritis, dan tidak hanya menjadi penerima jawaban yang sudah tersedia.

Hasil wawancara dari berbagai narasumber menunjukkan bahwa tantangan utama yang dihadapi mahasiswa saat ini bukanlah keberadaan teknologi itu sendiri, melainkan cara penggunaannya.

AI dan berbagai platform digital memang memberikan banyak peluang untuk mendukung proses pembelajaran, tetapi pada saat yang sama juga dapat memicu krisis keberanian intelektual apabila mahasiswa menjadi terlalu bergantung padanya.

Kemampuan untuk bertanya, menganalisis, berargumentasi, dan berpikir secara mandiri tetap menjadi keterampilan yang tidak dapat digantikan oleh teknologi.

Oleh karena itu, mahasiswa perlu membangun keberanian untuk mengkritisi informasi, mengemukakan gagasan orisinal, serta mempertahankan integritas akademik dalam setiap proses pembelajaran.

Teknologi seharusnya dipandang sebagai mitra yang mendukung perkembangan intelektual, bukan sebagai pengganti kemampuan berpikir manusia.

Dengan menjaga kemampuan berpikir kritis, literasi digital, dan kemandirian intelektual, mahasiswa dapat memanfaatkan kemajuan teknologi tanpa kehilangan nilai-nilai yang menjadi ciri utama seorang insan akademis.

Penulis: Nana Patris AgatEditor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *