
Manggarai Timur, Pena1NTT.com –Tim sepak bola Kecamatan Kota Komba Utara harus menelan pil pahit usai dikalahkan Kecamatan Lamba Leda Utara dengan skor telak 4–1 pada ajang turnamen Bupati Cup 2025, Senin(22/09/2025). Kekalahan ini bukan sekadar soal skor melainkan menjadi tamparan keras bagi manajemen tim, termasuk Camat dan para pengurus yang dianggap gagal mengelola potensi besar yang dimiliki daerahnya.
Kota Komba Utara dikenal sebagai salah satu pusat sepak bola di Manggarai Timur. Setiap tahun, turnamen besar rutin digelar di Ketang maupun Mukun. Ribuan warga selalu hadir, atmosfernya meriah, bahkan disebut sebagai turnamen terbesar di kabupaten. Namun ironisnya, tradisi panjang ini tak mampu melahirkan tim tangguh di level kecamatan.
Kritik tajam pun bermunculan. Banyak pihak menilai seleksi pemain di Kota Komba Utara penuh masalah—tidak transparan, tidak adil, dan cenderung hanya memprioritaskan pemain dari sekitaran Mukun. Akibatnya, bakat-bakat muda dari desa lain terabaikan, padahal potensi mereka tidak kalah mumpuni.
“Ini bukan sekadar kalah, tapi bukti bahwa seleksi hanya main-main. Kalau Camat dan pengurus serius, tim ini bisa jauh lebih kuat,” sindir salah satu tokoh sepak bola lokal.
Kekalahan memalukan ini memperlihatkan jurang lebar antara euforia turnamen dan prestasi nyata. Antusiasme masyarakat dikorbankan oleh kepentingan sempit dan manajemen yang lemah. Pertanyaan besar pun mencuat: untuk siapa sebenarnya turnamen besar itu digelar, jika hasil akhirnya justru mempermalukan Kota Komba Utara di kancah kabupaten?
Sementara itu, Sekretaris Camat Kota Komba Utara, Hironimus Toi, yang dikonfirmasi media ini melalui pesan WhatsApp, mengakui kelemahan persiapan tim. Menurutnya, keterbatasan dana menjadi kendala utama dalam keikutsertaan pada ajang kali ini.
“Betul ase (adik), persiapan kita kurang mantap dan juga tidak ada alokasi khusus anggaran di tingkat kecamatan, apalagi di tengah efisiensi ini. Kami dari pihak kecamatan minta maaf, dan harapannya di sisa dua laga terakhir kita bisa memperoleh kemenangan,” jelas Hironimus, Selasa (23/09/2025).
Namun, pengakuan itu belum cukup meredam kritik. Banyak kalangan menilai persoalan utama bukan sekadar soal dana, melainkan komitmen dan tata kelola. Camat bersama jajaran pengurus diminta tidak sekadar hadir di tribun penonton, tetapi benar-benar turun tangan memastikan proses seleksi berjalan objektif dan profesional.
Jika tidak ada evaluasi serius, tradisi turnamen tahunan di Kota Komba Utara dikhawatirkan hanya akan menjadi pesta seremonial tanpa makna, sementara prestasi timnya terus menjadi bahan tertawaan lawan.
















