MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Kemampuan komunikasi dan kepemimpinan masih menjadi tantangan yang dihadapi banyak mahasiswa.
Meskipun memiliki prestasi akademik yang baik, tidak sedikit mahasiswa yang masih merasa kurang percaya diri untuk berbicara di depan umum, menyampaikan pendapat, maupun memimpin sebuah tim.
Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa narasumber seperti Yustus Sentus Halum (Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris), Trisno (mahasiswa yang aktif dalam berbagai organisasi) dan Diniarti Janur (mahasiswa semester enam), kemampuan komunikasi dan kepemimpinan dinilai sebagai keterampilan penting yang harus dimiliki mahasiswa selain kemampuan akademik.
Menurut Trisno, kemampuan komunikasi dan kepemimpinan tidak hanya diperoleh melalui proses pembelajaran di dalam kelas, tetapi juga melalui keterlibatan dalam organisasi dan berbagai kegiatan kemahasiswaan.
“Kalau bicara soal kemampuan komunikasi dan leadership, dua hal ini tidak hanya didapat dari kegiatan akademik di kelas saja. Kemampuan ini juga bisa diperoleh ketika kita belajar dalam organisasi dan berbagai aktivitas lainnya,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa mahasiswa nantinya akan berhadapan langsung dengan masyarakat sehingga kemampuan berkomunikasi dan memimpin menjadi bekal yang sangat penting.
“Ketika terjun ke masyarakat, kita harus bisa berkomunikasi dengan baik dan memimpin dalam berbagai situasi. Karena itu, kemampuan akademik saja tidak cukup,” tambahnya.
Trisno juga mengungkapkan bahwa ketakutan terbesar yang sering dialami mahasiswa adalah kurangnya keberanian untuk berbicara di depan umum.
“Banyak mahasiswa yang takut bertanya, takut menjawab pertanyaan, dan takut berbicara di depan banyak orang. Padahal kemampuan itu bisa dilatih secara bertahap,” jelasnya.
Sementara itu, Yustus Sentus Halum menilai bahwa salah satu kendala utama mahasiswa dalam mengembangkan kemampuan komunikasi adalah rendahnya rasa percaya diri.
“Kadang-kadang mahasiswa membandingkan dirinya dengan teman-teman yang dianggap lebih mampu. Akhirnya mereka memilih diam dan tidak berani menyampaikan pendapat,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kemampuan komunikasi dan kepemimpinan tidak selalu sejalan dengan prestasi akademik yang dimiliki seseorang.
“Tidak semua mahasiswa yang memiliki IPK tinggi mempunyai kemampuan komunikasi dan kepemimpinan yang baik,” jelasnya.
Menurutnya, setiap individu memiliki jenis kecerdasan yang berbeda-beda sehingga kemampuan seseorang tidak dapat diukur hanya berdasarkan nilai akademik.
Selain itu, kemampuan manajemen diri dan kemampuan membangun relasi juga dinilai penting untuk menunjang keberhasilan mahasiswa di masa depan.
“Mahasiswa harus mampu membangun koneksi dan menghargai perbedaan karena nantinya mereka akan berhadapan dengan berbagai latar belakang masyarakat,” tambahnya.
Di sisi lain, Diniarti Janur menilai bahwa pengembangan kemampuan komunikasi dan kepemimpinan perlu dilakukan sejak masa kuliah melalui berbagai kegiatan yang melibatkan interaksi dengan banyak orang.
Menurutnya, keberanian untuk berbicara dan berpendapat harus terus dilatih agar mahasiswa tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga siap menghadapi tantangan di dunia kerja.
Para narasumber juga sepakat bahwa literasi memiliki peran penting dalam meningkatkan kemampuan komunikasi dan kepemimpinan mahasiswa.
Dengan memperbanyak membaca dan belajar dari berbagai pengalaman, mahasiswa dapat memperluas wawasan serta meningkatkan kualitas diri.
Melalui kemampuan komunikasi, kepemimpinan, dan literasi yang baik, mahasiswa diharapkan mampu menjadi generasi yang tidak hanya unggul dalam akademik, tetapi juga siap berkontribusi di tengah masyarakat.
Catatan Redaksi: Berita ini merupakan liputan mandiri yang dilakukan oleh Maria F. B. Henakin, Trifony Diany Suryati , Maximo W. P. D. Eduard, dan Krispinus Dagung.













