Opini oleh Andrianus Yovianto (Presidium Germas PMKRI Cabang Denpasar Sanctus Paulus)
MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Selasa 24 Mei 2026, saya dikejutkan dengan berita terkait meninggalnya dua orang wisatawan asing di Cunca Wulang, Kabupaten Manggarai Barat.
Lokasinya tidak terlalu jauh dari pusat kota Labuan Bajo, sekitar 40 menit jika menggunakan kendaraan roda dua.
Cunca Wulang merupakan salah satu tempat wisata yang sangat menarik, karena ada perpaduan alam dan air terjun yang begitu indah, membuat wistawan sering berkunjung.
Dua wisatawan asing yang bernama Jurgen Perjul yang berusia 55 tahun dan Astrid Perjul 57 tahun, terpaksa menghembuskan nafas terakhir di Air Terjun Cunca Wulang.
Mereka terjatuh dari jembatan gantung, akibat kayu yang menjadi tumpuan kaki pada jempatan terlepas sehingga mereka jatuh pada bebatuan yang besar.
Luka Dibalik Status Destinasi Wisata Super Prioritas
Sudah tujuh tahun lalu Manggarai Barat, khususnya Labuan Bajo, dinobatkan sebagai destinasi wisata super prioritas.
Penetapan tersebut tentu memiliki tujuan, mulai dari meningkatkan kunjungan wisatawan, meningkatkan pendapatan daerah, hingga memperkuat fasilitas dan infrastruktur pariwisata.
Namun selama ini, pemerintah Manggarai Barat terlalu sibuk mengejar angka kunjungan wisatawan, hingga lupa dengan keselamatan wisatawan juga harus menjadi prioritas utama.
Pariwisata Manggarai Barat terus dipoles melalui promosi dan keindahan alamnya, tetapi pada saat yang sama, begitu banyak fasilitas wisata justru masih dalam kondisi keterbatasan.
Peristiwa di Cunca Wulang menjadi tamparan keras yang membuka kenyataan di balik status destinasi wisata super prioritas.
Kejadian tersebut bukan sekadar musibah biasa, melainkan cerminan dari lemahnya perhatian pemerintah Manggarai Barat terhadap fasilitas dan keselamatan wisata, hingga akhirnya memakan korban jiwa.
Kejadian di Cunca Wulang tidak dilihat hanya sebagai musibah semata, melainkan wujud dari kagagalan pemerintah Manggarai Barat dalam mengelola pariwisata, dan hanya fokus membangun citra pariwisata.
Yang lebih ironisnya, pembangunan fasilitas pariwisata di manggarai barat terpusat di kota Labuan Bajo.
Sementara itu banyak tempat wisata yang menjadi penyanggah masih tertinggal tanpa fasilitas yang layak dan tidak adanya perlindungan terhadap wisatawan yang datang menikmati keindahan seolah-olah bukan prioritas.
Pemerintah Manggarai Barat selalu bergerak setelah ada kejadian yang memakan korban. Evaluasi hanya hadir setelah nyawa melayang.
Hal ini memperlihatkan bahwa status super prioritas selama ini lebih menonjolkan ambisi pencitraan dibanding membangun sistem pariwisata yang aman dan berkelanjutan.
Kejadian yang menimpa dua wisatawan asing di Cunca Wulang merupakan suatu bukti nyata bahwa, pemerintah Manggarai Barat gagal dalam menjalankan perannya, terlebih khusus dalan mengelola pariwisata.
Tragedi Tidak Boleh Terulang
Meninggalnya dua wisatawan asing di Cunca Wulang harus menjadi peringatan serius bagi pemerintah Manggarai Barat.
Kejadian ini bukan sekadar musibah biasa, melainkan bukti lemahnya perhatian pemerintah terhadap keselamatan di tempat wisata.
Selama ini pemerintah lebih sibuk membangun citra pariwisata dan mengejar jumlah kunjungan wisatawan, tetapi kurang serius memastikan fasilitas wisata benar-benar aman digunakan.
Padahal keselamatan wisatawan seharusnya menjadi prioritas utama, bukan hanya dipikirkan setelah ada korban jiwa.
Pemerintah Manggarai Barat tidak boleh terus bekerja setelah tragedi terjadi. Pemeriksaan fasilitas, perawatan tempat wisata, dan pengawasan keamanan harus dilakukan secara rutin sebelum memakan korban berikutnya.
Jangan sampai status destinasi wisata super prioritas hanya terlihat baik dalam promosi, tetapi lemah dalam perlindungan terhadap wisatawan.
Tragedi di Cunca Wulang harus menjadi momentum evaluasi besar bagi pemerintah daerah untuk membenahi tata kelola pariwisata secara serius.
Sebab, pariwisata yang baik bukan hanya soal keindahan alam, tetapi juga soal keselamatan bagi setiap orang yang datang berkunjung.













