Penulis: Saverianus Almon Gaut, S.Pd., Gr (Guru SMAN 1 Ruteng Anam)
Filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara (KHD)
Sebagai pelopor Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara (KHD) membangun fondasi yang kuat bagi Pendidikan Nasional. Pemikiran dan gagasan KHD diambil untuk dijadikan sebagai arah dan pijakan Kurikulum Nasional yang digunakan saat ini.
Beberapa gagasan KHD yang penulis ambil diantaranya: Pertama, Pendidikan sebagai tempat persemaian benih-benih kebudayaan dalam masyarakat.
Gagasan ini menyadarkan para pendidik bahwa untuk menciptakan manusia Indonesia yang beradab maka salah satu kunci untuk mewujudkannya yaitu melalui pendidikan.
Pendidikan dapat menjadi ruang berlatih, wadah bertumbuh kembangnya nilai-nilai kemanusiaan yang dapat diteruskan atau diwariskan.
Kedua, berkaitan dengan dasar-dasar pendidikan yang “menuntun”. KHD menjelaskan bahwa tujuan pendidikan yaitu menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat.
Ketiga, sangat relevan dengan kodrat alam dan kodrat zaman yang mengiringi kehidupan anak-anak. Sebagai pendidik harus mampu menciptakan proses pendidikan yang menyesuaikan dengan kondisi lingkungan atau potensi anak. Selain itu juga harus mengikuti perkembangan zaman.
Keempat yaitu tentang Budi Pekerti. Budi pekerti, atau watak atau karakter merupakan perpaduan antara gerak pikiran, perasaan dan kehendak atau kemauan sehingga menimbulkan tenaga. Proses pendidikan KHD disini menekankan 3 hal utama yaitu melatih panca indra, kehalusan budi pekerti dan kecerdasan.
Penulis berpendapat, konsep ini menekankan agar pendidikan harus seimbang antara cipta, rasa dan karsa.
Pengembangan karakter atau budi pekerti tidak dapat tercipta begitu saja, harus melalui pembiasaan-pembiasaan, baik di lingkungan sekolah, lingkungan keluarga, maupun lingkungan masyarakatnya.
Guru Sebagai Pembelajar
Sebagai Guru pembelajar dan murid sebagai pemelajar jika dikaitkan dengan pemikiran KHD sejatinya pendidik menurut penulis memandang diri siswa bahwasannya:
Pertama, Tidak semua murid memiliki kemampuan dan kecepatan yang sama dalam memahami sesuatu.Terkait hal ini menjadi penting bagi guru untuk bisa melihat kemampuan kognitif siswa.
Kedua, Murid bukanlah kertas kosong, melainkan kertas yang masih buram tinta yang tergores di dalamnya. Pada poin ini sebagai pendidik berkewajiban untuk memperjelas tinta yang tergores pada kertas agar lebih jelas dan tidak buram lagi.
Ketiga, Guru bukanlah sumber utama atau satu-satunya tentang pembelajaran. Dalam proses belajar anak zaman sekarang ada begitu banyak media yang bisa dijadikan sumber belajar termasuk Artificial Inteligence (AI).
Keempat, Setiap murid memiliki kebutuhan belajarnya masing-masing. Sebagai pendidik menjadi sebuah kewajiban untuk menciptakan proses belajar yang bisa menjawab kebutuhan murid dengan memlih model dan metode pembelajaran yang tepat.
Tantangan dan Hambatan
Berdasarkan pengalaman penulis sebagai guru Matematika di SMAN 1 Ruteng Anam, saya temukan ada beberapa tantangan yang dihadapi dalam proses belajar mengajar dikelas yakni:
Pertama, Rendahnya penguasaan materi prasyarat seperti kemampuan literasi dan numerasi dasar misalnya operasi aljabar dasar seperti perkalian, pembagian, penjumlahan dan pengurangan.
Kedua, Peserta didik Sebagian besar belum memiliki orentasi yang jelas datang ke Sekolah dengan kata lain peserta didik mengalami disorentasi dalam belajar, ini terlihat dari sebagian siswa tidak memiliki persiapan untuk belajar.
Ketiga, Sebagian peserta didik belum memiliki kesadaran penuh dan mengatur dirinya dengan baik, hal ini terlihat masih saja ditemukan adanya siswa yang melanggar aturan sekolah seperti datang terlambat, tidak mempersiapkan alat tulis, buku Pelajaran sebagaimana mestinya sebagai seorang pelajar.
Keempat, Peserta didik kurang memiliki motivasi yang tinggi untuk belajar maksimal, hal ini terilihat pada evaluasi hasil belajar siswa baik melalui penilaian proses ataupun penilaian sumatif dan formatif yang masih rendah.
Kelima, Dukungan belajar terhadap anak dari orang tua yang masih rendah, orang tua tidak memperhatikan jam belajar anak dirumah dan tidak menanyakan perkembangan belajar anak selama di Sekolah.
Keenam, Masih terbatasnya sumber belajar serta sarana dan prasarana penunjang belajar peserta didik disekolah seperti buku sumber yang terbatas pada 1 penerbit, ketersediaan LCD, Alat Praktikum yang jumlahnya tidak sebanding dengan jumlah rombongan belajar di Sekolah.
Tantangan serta hambatan yang dihadapi pendidik/guru sangat berpengaruh pada jalannya proses belajar mengajar dikelas.
Ketika tantangan tantagan ini tidak dikelola dengan baik maka proses pembelajarn tidak akan maksimal maka pada akhirnya capaian pembelajaran sesuai tuntutan kurikulum tidak bisa dipenuhi.
Solusi: Pendikan Holistik dengan Semangat Kolaborasi
Keberhasilan pendidikan tidak terlepas dari soal input, proses dan output. Proses waktu peserta didik disaat berada di Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) memberi pengaruh yang cukup besar bagi berhasilnya proses belajar mengajar di Sekolah Menengah Atas (SMA).
Misalnya pada mata pelajaran matematika. Ketika peserta didik belum bisa operasi Aljabar dasar seperti perkalian, pembagian, penjumlahan dan pengurangan yang merupakan materi dasar waktu mereka berada dibangku Sekolah Dasar (SD) maka akan sangat berpengaruh pada waktu peserta didik mengikuti proses belajar di Sekolah Menengah Pertama (SMP), Ketika proses di SMP juga belum maksimal maka output dari SMP ke SMA juga ikut tidak maksimal.
Guru harus mengulangi lagi materi materi dasar, tanpa menguasai dengan baik materi dasar, maka materi yg lainpun tidak bisa dilanjutkan dengan baik.
Salah satu pendekatan Pendidikan yang mengembangkan manusia secara utuh dengan menggambungkan aspek Kognitif/intelektual, Emosional, Sosial dan Moral, Spritual serta lingkungan Adalah Pendidikan Holistik.
Pendidikan Holistik bertujuan agar peserta didik bisa bertumbuh menjadi pribadi yang cerdas, berkarakter baik seperti bertanggung jawab, disiplin, percaya diri dan karakter positif lainnya.
Untuk mewujudkan pendekatan Pendidikan yang holistic ini maka sangat dibutuhkan semangat kolaborasi dari berbagai pihak.
Dukungan orang tua terhadap proses belajar anak sangat diperlukan, bentuk dukungan dari orang tua bisa berupa menanyakan perkembangan belajar anak selama di sekolah, memperhatikan waktu belajar anak selama di rumah dan bentuk dukungan lainnya.
Sementara di sekolah, para pendidik/guru harus mampu menciptakan proses pembelajaran yang bisa menjawab kebutuhan murid. Pembelajaran harus berpusat pada peserta didik dengan memilih model dan metode pembelajaran yang tepat.
Peran kepala Sekolah sebagai manajer dalam sekolah juga memberikan pengaruh yang penting agar memastikan proses belajar mengajar dalam kelas itu berkualitas maka dipandang perlu untuk secara konsisten dan berkala oleh kepala sekolah melaksanakan supervisi kelas.
Dengan melaksanakan supervisi kelas maka kekurangan yang membutuhkan perbaikan selama proses pembelajaran di kelas bisa diperbaiki.
Berikutnya ketersediaan sarana prasarana penunjang pembelajaran seperti LCD, TV Smart, buku Pelajaran harus bisa terpenuhi agar peserta didik dalam belajarnya merasa aman dan terbantu.
Dan yang tidak kalah pentingnya adalah peserta didik itu sendiri harus memiliki motivasi dari dalam diri untuk belajar, guru harus senantiasa dan konsisten memberikan motivasi kepada peserta didik untuk membangunkan jiwa dari peserta didik agar mereka tahu diri, sadar diri dan mampu mengatur dirinya.













