Menakar Asa di Tanah Nucalale, Mengapa Kita Masih Tertinggal?

Opini ​oleh: Yohanes Febriano Dahoma
Siswa Kelas XK, SMAK Reok (SMAGER)

​Tanah Manggarai, atau yang sering kita sapa dengan hangat sebagai Tanah Nucalale, adalah sekeping surga di bumi Flores. Ia adalah perpaduan harmonis antara kekayaan budaya yang luhur, adat istiadat yang mengakar kuat, dan bentang alam yang memanjakan mata.

Namun, di balik kemegahan itu, tersimpan sebuah realitas pahit yang sulit untuk diingkari: kemajuan daerah kita seolah berjalan di tempat, tertinggal jauh di belakang deru pembangunan daerah lain di Indonesia.

​Kesenjangan ini melahirkan sebuah diskursus krusial di tengah masyarakat. Mengapa daerah dengan potensi sebesar ini belum mampu mekar secara utuh?

Tembok Besar Infrastruktur dan Pendidikan

​Akar masalah utama yang mencekik nadi pembangunan di Manggarai adalah keterbatasan infrastruktur. Akses jalan yang belum merata dan transportasi yang sulit bukan sekadar masalah teknis, melainkan penghambat utama roda ekonomi dan distribusi ilmu pengetahuan.

Di pelosok-pelosok desa, masyarakat kita masih berjuang melawan jarak hanya untuk mendapatkan layanan kesehatan dasar atau sekolah yang layak.

Sektor pendidikan pun tak luput dari tantangan. Kita memiliki generasi muda dengan semangat belajar yang membara, namun semangat itu seringkali terbentur oleh minimnya fasilitas dan kekurangan tenaga pendidik yang mumpuni.

Akibatnya, terjadi fenomena brain drain: putra-putri terbaik Manggarai memilih merantau ke luar daerah demi pendidikan yang lebih baik, dan enggan kembali karena sempitnya lapangan kerja di tanah kelahiran.

Potensi yang Masih Tertidur

​Padahal, Manggarai adalah “raksasa yang sedang tidur” di sektor pertanian, peternakan, dan pariwisata. Sangat disayangkan melihat hasil bumi petani kita seringkali dihargai murah hanya karena sulitnya akses pasar dan minimnya sentuhan teknologi pascapanen.

​Bahkan di sektor pariwisata, kita seolah hanya menjadi penonton di tengah gegap gempita Labuan Bajo. Sebagai wilayah yang bertetangga dekat dengan destinasi internasional tersebut, Manggarai seharusnya bisa mengintegrasikan kekayaan alamnya menjadi magnet ekonomi baru, bukan sekadar wilayah perlintasan.

Sebuah Seruan untuk Berbenah

​Ketertinggalan ini bukanlah takdir yang harus kita terima begitu saja. Sebagai masyarakat Manggarai, terutama generasi muda, kita tidak boleh lagi merasa nyaman dalam ketertinggalan.
​Sudah saatnya ada sinergi antara pemerintah dan masyarakat untuk mendorong kebijakan yang berorientasi pada kemajuan nyata.

Kita perlu memastikan bahwa potensi besar Nucalale dikelola dengan tangan-tangan profesional dan visi yang jauh ke depan.

​”Kemajuan sebuah daerah tidak ditentukan oleh seberapa indah alamnya, melainkan oleh seberapa besar kemauan masyarakatnya untuk berubah dan berinovasi.”

​Mari kita jadikan keresahan ini sebagai energi untuk membangun. Jangan biarkan Tanah Nucalale hanya menjadi cerita tentang keindahan masa lalu, melainkan sebuah daerah yang kompetitif, maju, dan sejahtera di masa depan.

Editor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *